Minggu, 11 Juli 2010

Sejarah dan Tradisi

Mentawai: Sejarah dan Tradisi Peninggalan Zaman Neolitikum
Tim Wacana Nusantara
8 July 2010
1. Gambaran Umum
Mentawai merupakan kepulauan yang terdiri dari beberapa puluh pulau. Pulau yang paling besar ada tiga, yakni Pulau Siberut, Pulau Pagai, dan Pulau Sipora. Di antara ketiga pulau tersebut, pulau yang paling besar adalah Pulau Siberut dengan luas 4.480 km2. Sejak era otonomi daerah, pulau-pulau Mentawai tidak lagi termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Padang Pariaman, melainkan menjadi kabupaten tersendiri, yaitu Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan ibukota di Pulau Pagai dan termasuk wilayah Provinsi Sumatra Barat.

Peta Siberut

Jarak Kepulauan Mentawai dari Kota Padang kurang lebih 135 km melintasi Samudra Hindia yang luas dengan ombak yang tinggi dan sering ganas. Oleh karena itu, transportasi menuju ke kepulauan ini sangat tergantung kepada cuaca; apabila sedang musim badai maka jarang ada kapal yang berani melintasinya. Keadaan ini sudah berlangsung selama berpuluh bahkan beratus tahun yang lalu sehingga membuat Kepulauan Mentawai menjadi seperti "terisolir." Akan tetapi, kondisi ini sesungguhnya sangat menguntungkan di mana Kepulauan Mentawai dengan segala isinya tumbuh dengan unik, terutama flora dan fauna yang hanya ada di Kepulauan Mentawai.

Kondisi ini secara tidak langsung juga membuat masyarakat yang tinggal di dalamnya dan budaya yang dimilikinya memunyai ciri khas tersendiri, mengikuti keadaan alamnya. Merupakan hal yang wajar apabila daerah Mentawai menjadi salah satu kawasan yang dilindungi di Indonesia sebagai “cagar bioster”. Kawasan Taman Nasional Siberut ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan no 407/Kpts-II/93 yang berlaku surut sejak 1992.

Kepulauan Mentawai merupakan pulau yang berada di gugusan pulau nonvulkanik yang letaknya memanjang di bagian paling barat Indonesia. Meski dari segi geografis merupakan dari suatu kelompok, namun kebudayaan tadisionalnya berbeda-beda. Simalur, pulau yang paling utara, penduduknya beragama islam dan sangat dipengaruhi kebudayaan Melayu. Pulau Nias yang berada di selatannya terkenal dengan bangunan batu besarnya (Megalitikum), serta kelebihan dalam bentuk desa-desanya, yang mencerminkan pola pemikiran hierarkis dengan menonjolkan keturunan; pola pemikiran ini sangat mewarnai sistem sosial dan agama, dan merupakan kekhasan kebudayaan zaman perunggu di Indonesia. Tetapi kebudayaan tradisional di Kepulauan Mentawai, baik dari segi teknologi, sosial, maupun religius masih merupakan wujud dari kebudayaan Neolitikum (Zaman Batu Muda).

Corak masyarakat yang mencerminkan kehidupan zaman Neolitikum telah menarik perhatian orang-orang. Mereka banyak yang heran karena orang Mentawai lebih banyak menampakan kemiripan dengan penduduk Kepulauan Hawaii, Tahiti, dan Polinesia. Kemiripan ini mungkin akan dapat dijelaskan secara historis. Kebudayaan Neolitik yang berkembang di Indonesia maupun di Kepulauan Polinesia sama-sama berasal dari daratan Asia Tenggara. Dari kawasan tersebut diperkirakan kebudayan dibawa oleh migrasi penduduk sehingga akhirnya berdiam di Indonesia dan Polinesia. Penduduk yang melakukan perpindahan tersebut tergolong ras Mongoloid, dengan berbagai dialek yang tergolong satu rumpun yaitu bahasa Austonesia. Mereka sudah mengenal bercocok tanam. Salah satu pekakas yang penting bagi mereka adalah kapak batu dengan bentuk yang khas yaitu empat pesegi panjang (kapak persegi). Kapak ini ternyata masih dipakai di Polinesia sampai masa historis.

Sungai-sungai yang ada di daerah sekitar digunakan sebagai jalan transportasi untuk mengangkut hasil panen dengan menggunakan perahu lesung yang ramping dan lincah. Selain untuk membawa hasil panen lewat jalan sungai, perahu digunakan sebagai alat transportasi untuk pergi menangkap ikan. Jika mereka akan menangkap ikan, perahu lesung tersebut ditambahkan leh alat lain yaitu cadik, dengan tujuan untuk keseimbangan agar tidak terbalik.

2. Kosmologi
Orang Siberut tidak memunyai gambaran yang jelas tentang awal mula dunia tempat mereka hidup. Walau mereka memunyai gambaran tentang berbagai kisah mitologis yang kadang-kadang sebagai tema utama dan dengan sepintas bercerita tentang terciptanya jagat raya, juga perihal asal mula berbagai gejala atau mengenai riwayat manusia, namun berbagai mitos tersebut tidak dapat menjabarkan gambaran menyeluruh; beberapa gejala tertentu ada yang penting, tetapi ada pula yang kelihatannya sepele dijelaskan seluk beluknya, sementara yang lain tetap dibiarkan kabur. Namun kenyataan ini bagi orang Mentawai tidak dirasakan mengganggu. Mitos-mitos tersebut bagi mereka bukan cerita dongeng, melainkan riwayat yang benar-benar pernah terjadi. Itu sudah memadai untuk dijadikan pegangan mereka dalam menghadapi keanekaragaman yang ada. Motos-mitos yang ada dianggap sebagai kejadian yang benar-benar sudah terjadi dan memberikan gambaran tentang terciptanya kehidupan di jagat raya. Dalam pemaparan selanjutnya akan tampak bahwa sehubungan dengannya, lingkungan manusia selalu menempati posisi sentral dan merupakan titik tolak dari keseluruhan kosmos.

Gambar monyet dengan biyawak yang terdapat pada papan rumah

Menurut pandangan orang-orang Siberut, pulau tempat kehidupan mereka merupakan titik pusat samudra dunia, dikelilingi pulau-pulau lainnya. Menurut cerita setempat, konon pada suatu hari, dari samudra muncul langit, muncul dari timur dari “tanah langit”. Langit tumbuh “bagaikan rebung”, lalu menyebar dan membentuk kubah langit. Tanah langit merupakan tempat tiggal orang-orang berkulit putih. Mereka memakan rebung langit yang selalu diolesi minyak agar tumbuh terus. Ketika langit sudah tercipta, muncullah matahari dan bulan. Keduanya mengembara secara keseluruhan, menyusur kubah langit ke arah barat. Tetapi di sana ada seekor buaya besar yang hidup di dalam laut. Buaya itu menelan matahari dan bulan, ketika keduanya turun di sebelah sana. Tidak lama kemudian benda-benda langit itu muncul kembali, tetapi kali ini mereka memperoleh pertolongan. Di pinggir sebelah barat, ada orang merah yang tinggal di situ; orang-orang itu dengan segera membuat bola-bola dengan umbi keladi. Begitu matahari dan bulan menghampiri tepi langit dan buaya mengangkangkan moncong untuk menelan keduanya, orang-orang merah tadi lantas melemparkan bola-bola yang mereka buat ke dalam kerongkongan buaya. Dengan begitu matahari dan bulan dapat kembali ke tanah langit lewat bagian dalam. Begitulah kejadian itu terus berulang sampai sekarang. Sedangkan di pinggir sebelah selatan dan utara, hanya angin saja yang ada. Selama musim badai (anggau) yang kira-kira terjadi dari Juli sampai September, angin utara atau angin barat merajalela; untuk kedua jenis angin ini tidak terdapat penamaan yang khusus. Sedangkan selama angin teduh, angin tenggara yang dinamakan kayaman bertiup sepoi-sepoi. Di suatu tempat di dalam samudra, hidup seekor kepiting raksasa yang setiap kali muncul ke permukaan, yaitu pada saat mencari makan. Kemunculannya mengakibatkan laut pasang surut. Apabila kepiting itu masuk lagi ke dalam laut maka air akan pasang.

Pada mulanya langit terletak dekat di atas bumi, begitu dekat, sehingga panas matahari membakar para wanita dan anak-anak yang hendak pergi mandi ke sungai. Untuk mendorong langit agar mundur menjauh, para pria memanahnya. Anak panah yang dilepaskan menembusi kubah langit. Lubang-lubang tembusan itu menjelma menjadi bintang-bintang. Akhirnya kubah langit menjadi bertambah lengkung, dan titik rembang mundur ke kedudukannya yang sekarang. Dalam suatu mitos lain, bintang-bintang merupakan anak-anak bulan. Mulanya matahari juga memunyai anak, berwujud matahari-matahari kecil yang sinarnya menghanguskan. Timbullah rasa kasihan bulan terhadap manusia. Bulan menyapu mulutnya dengan air hasil kunyahan kulit kelapa muda. Air itu berwarna merah darah. Ia pun mengatakan pada matahari bahwa ia baru saja memakan anak-anaknya, enak sekali rasanya. Matahari terkecoh, lalu memakan anak-anaknya. Tetapi begitu malam tiba dan hari menjadi gelap, bintang-bintang bermunculan. Saat itu barulah matahari sadar bahwa ia tertipu. Dengan perasaan berang, disambarnya parangnya, lalu ditebasnya bulan sehingga terbelah-belah. Itulah sebabnya mengapa bulan sampai sekarang muncul sepotong demi sepolong. Bulan membalas serangan matahari, tetapi tidak mampu membelahnya, melainkan hanya menyebabkan pinggirannya tergerupis-gerupis. Sampai sekarang matahari muncul dengan wujud seperti berjari-jari, tanpa garis bentuk yang jelas. Dan sejak itu matahari dan bulan tidak pernah lagi tampak seiring.

Menjelang akhir setiap bulan, bulan jatuh sakit. Ia menjadi kurus, lalu pergi ke ladang kunyitnya untuk mati di situ. Ulat-ulat yang bermunculan dari tubuhnya menjadi anak-anak ikan (simarou'), yang muncul dalam jumlah berlimpah ruah di Mentawai selama kuartal bulan yang terakhir. Akan tetapi, lambat laun bulan berhasil pulih dan muncul kembali, disambut dengan nyanyian jangkerik, yaitu anak-anak bulan di bumi saat ia terbit dan kemudian sewaktu terbenam. Kedudukan istimewa di antara benda-benda langit ditempati oleh gugusan bintang Bintang Tujuh (Yunani: Pleiades), yang dalam bahasa orang Siberut disebut Balu-balu (Delapan-delapan). Gugusan bintang itu mulanya merupakan delapan anak laki-laki bersaudara yatim-piatu. Karena jumlah mereka yang begitu besar dirasa merepotkan sanak saudara mereka, mereka memasukkan kedelapan abang adik itu ke dalam guci tempat persediaan makanan yang kemudian disumbat lalu dihanyutkan di sungai. Saudara laki-laki ibu mereka yang saat itu kebetulan sedang menangkap ikan di hilir, mengeluarkan lagi guci itu dari dalam sungai, lalu memelihara anak-anak itu karena merasa kasihan. Tetapi lama-kelamaan paman itu kewalahan. Ketika kedelapan abang adik itu berada di atas sebatang pohon buah-buahan, ia berusaha mengusir mereka dengan teriakan bahwa ada musuh di dekat situ. Ia mengira anak-anak itu akan lari. Anak-anak itu menyadari bahwa teriakan itu hanya siasat belaka. Mereka sedih sekali, sehingga pada suatu hari mereka membuat perahu lesung yang sangat besar (kalabba') di ladang sebuah jurang yang dalam di sisi timur Siberut, bekas robohan pohon yang ditebang untuk dijadikan perahu mereka. Mereka lalu pergi naik perahu itu. Sebelum berangkat, dari atas perahu mereka memberitahukan kepada bapak angkat mereka tentang ciri-ciri berbagai musim: jika ia melihat mereka di langit sebelah timur pada saat menjelang fajar, maka tibalah waktu untuk pergi menangkap rajungan (aggau) di pantai; tidak lama setelah itu buah-buahan di pohon akan ranum. Tetapi pada waktu bersamaan tiba pula musim badai, saat orang sebaiknya jangan turun ke laut; sedangkan jika mereka nampak di barat tidak lama setelah malam tiba, itu berarti sudah tiba musim laut tenang; itulah saat yang baik untuk pergi berburu penyu di laut. (Ini sesuai dengan kedua musim yang di Mentawai disebut aggau dan rura).

Setelah itu "Delapan-delapan" berangkat ke langit, dan di sana menjelma menjadi gugusan Bintang Tujuh. Tiga dari mereka sudah menikah sewaktu masih ada di bumi. Para istri mereka hendak ikut, namun tidak berhasil menyusul, lalu menjelma menjadi pending gugus Orion. Karena merasa kasihan, "Delapan-delapan" melemparkan rahang bawah seekor babi hutan untuk ketiga istri itu; itu kemudian menjadi Segi Tiga Aldebaran dan kelompok Hyades, yang letaknya antara Orion dan Pleiades. Perahu yang ditumpangi kedelapan abang adik itu sampai pada posisi yang lebih jauh dari mereka sendiri, dan sampai sekarang masih tampak di langit, sebagai Triangutum.

Asal mulanya hanya Pulau Siberut saja yang ada di tengah-tengah samudra raya. Tidak ada yang tahu, bagaimana terciptanya. Seorang dukun bernama Pageta Sabbau yang memiliki kekuatan gaib luar biasa, hidup di pulau itu. Pada suatu hari, anak laki-laki saudara perempuannya ingin menguji kemampuannya: ia memohon pada dukun itu agar menghanyutkan tanah bagian tenggara Pulau Siberut yang kelam. Pageta Sabbau mengambil lonceng dukunnya; sambil membunyikan lonceng itu ia menyanyikan sebuah lagu. Tanah mulai merengkah, lalu hanyut ke laut. Tetapi beberapa lama kemudian anak lonceng putus, dan gerakan tanah terhenti. Saat itu bagian tenggara dari Siberut baru saja terlepas; sampai sekarang masih ada selat sempit yang menunjukkan tempat tanah itu terlepas dari bagian pulau yang selebihnya. Melalu cara itulah tercipta tempat-tempat lainnya yang kini dihuni manusia. Gambaran yang ada mengenai tempat-tempat tersebut hanya samar-samar saja. Orang Siberut tahu bahwa di selatan terdapat pulau-pulau tempat tinggal orang Sakalagaan (yang barangkali barasal dari kata laggai, yang berarti "pemukiman", ada pula yang mengatakan bahwa asalnya dari kata eilagal, yaitu nama sejenis pohon). Pulau-pulau itu adalah Sipora (yang penghuninya menyebut diri mereka sendiri orang Sakalelegat, yang berasal dari kata lelegat, yang berarti "tempat", atau Sakobou dari kata kobou, "sumber air asin"), serta Pulau Pagai (penduduk kedua tempat itu juga menamakan diri mereka sendiri orang Sakalagaan). Di ketiga pulau di sebelah selatan itu penghuni Pulau Siberut disebut orang Sabirut (dari kata birut, "tikus"), mengacu pada nama sebuah sungai di bagian tenggara pulau itu.

Menurut tradisi , dari sanalah asal usul orang-orang yang pertama-tama datang untuk menghuni pulau-pulau sebelah selatan. Di sebelah utara pulau Siberut diketahui ada pulau-pulau Datu (Sabaigua), yang tampak dari pantai utara jika cuaca sedang cerah. Di Sumatra yang terletak di timurnya, tinggallah orang sasare, yaitu orang "dari jauh", nama itu pula yang diberikan pada para nelayan bersuku bangsa Minangkabau yang bermukim di pesisir timur Pulau Siberut. Dari tempat itu pada pagi hari yang cerah tampak puncak-puncak gunung api yang terdapat di Sumatra.

Hanya itulah gambaran konkrit yang ada tentang geografi. Pulau Nias saja, atau Pulau Enggano yang letaknya di selatan Kepulauan Mentawai, sudah tidak dikenal. Namun lewat perkenalan dengan orang-orang Jawa, dengan pedagang berbangsa Cina, orang-orang Belanda, Jepang, dan belakangan ini dengan para penebang kayu berbangsa Filipina, ditarik kesimpulan bahwa mestinya masih ada lagi pulau-pulau lain. Orang Mentawai juga sama sekali tidak memiliki gambaran tentang jarak ke berbagai tempat.

Di kubah langit diceritakan ada tempat-tempat pemukiman yang dihuni oleh para roh (saikamanua, dari kata manua, "langit"). Tidak terdapat cerita perihal asal mula mahluk-makhluk itu. Tetapi mereka berwujud manusia, dan dalam berbagai mitos diceritakan tentang hubungan antara mereka dengan alam kehidupan manusia: putri-putri dari langit menikah di bumi, manusia naik ke langit dengan memanjat sulur dan sebagainya. Makhluk penghuni langit yang dikenal namanya adalah Kombut, saudara laki-laki seorang gadis yang pindah ke tempat kediaman manusia. Kombut jengkel karenanya, lalu bertempat tinggal di bulan; sejak itu ia sibuk memintal tali yang panjang di sana, yang hendak dipergunakannya untuk memancing manusia sebagai pembalasan dendam. Tetapi istrinya, yang tinggal di bawah bulan, sering kali memotong tali itu dan dengannya menggagalkan niat jahat suaminya.

Roh -roh juga tinggal "didalam" (ka baga), yaitu di bagian-bagian bawah bumi. Yang terpenting di antara mereka ialah roh gempa Roh ilu mulanya manusia, seorang anak yatim piatu yang bersama saudara perempuannya dipelihara oleh para saudara laki-laki ayahnya yang sudah meninggal dunia. Pada suatu hari ia ikut dengan seluruh kerabatnya, pergi memetik buah-buahan. Tetapi anak laki-laki itu selalu hanya kebagian buah yang masih mentah, atau yang sudah busuk. Namun begitu ia memakan buah-buahan itu, dengan tiba-tiba semuanya menjadi ranum. Para kerabatnya terkejut melihat hal itu, lalu cepat-cepat lari naik perahu; kedua anak tadi mereka tinggalkan. Perjalanan kedua anak yang hendak pulang itu terhalang oleh sebuah sungai. Suatu roh air yang berwujud buaya merasa kasihan pada mereka. Roh itu menyatakan bahwa ia bibi mereka (saudara perempuan ayah), lalu membawa mereka ke seberang. Sesampai di sana diajarkannya anak yang laki-laki cara membuat uma serta upacara-upacara dan segala pantangan yang bertalian dengannya.

Di bawah bimbingan anak itu seluruh kerabat kemudian membuat sebuah rumah besar. Bagian tugas anak laki-laki itu dilakukan oleh buaya, sehingga hasilnya jauh melebihi yang lain-lainnya. Perasaan iri mereka timbul, dan ketika si anak atas desakan mereka masuk ke dalam lubang

3. Zaman Prasejarah
Berdasarkan penelitian antropologi, orang Mentawai paling berdekatan dengan suku bangsa di Sumatra yang belum islam. Hal ini diperkirakan bawah suku Mentawai berasal dari Sumatra. Mengenai bagaimana perpindahan tersebut terjadi, kita hanya bisa mengira-ngira. Orang Mentawai tidak mengenal teknologi pengerjaan logam, bercocok tanam padi, maupun mengerjakan kain tenun. Jadi, diperkirakan kebudayaan mereka lebih kuno dari kebudayaan zaman perunggu. Organisasi komunitas di Mentawai berdasarkan prinsip kesamaan derajat tidak mengenal kepala atau pemimpin; di sana juga tidak dikenal kebudayaan monumen-monumen bangunan batu besar (Megalitik), dengan demikian diperkirakan penduduk kepulauan Mentawai menganut kebudayaan Neolitikum.

Namun pada saat sekarang ini penduduk Mentawai tidak lagi membuat mata kapak dari batu, yang merupakan kebudayaan zaman Neolitikum. Mereka juga sudah tidak mengingat lagi kapan kebudayaan kapak batu digunakan. Sudah sejak lama mereka memperoleh peralatan dari besi, seperti parang dan mata kapak dari para pedagang yang ada di Sumatra lewat pertukaran dengan buah kelapa dan rotan. Hanya dalam mitos-mitos saja diceritakan bahwa silakokkoina, yaitu sebangsa raksasa yang jahat pada zaman dahulu kala menggunakan kapak bermata kulit lokan. Sejak 1970 di Pulau Siberut ditemukan sebuah mata kapak dari batu yang jenisnya diperkirakan memunyai kesamaan dengan varian lain yang ditemukan di kepulauan Indonesia dan diperkirakan dari zaman Neolitikum. Benda-benda yang dibuat di Mentawai pada zaman sekarang ini ternyata masih memiliki kemiripan dengan hasil kebudayaan zaman Neolitikum. Dengan begitu, kita bisa memperkirakan bahwa kebudayaan Mentawai berakar sejak zaman Neolitikum awal di Asia Tenggara. Kepulauan Siberut sepertinya telah dihuni oleh manusia sebelum berkembangnya kebudayaan Megalitikum dan kebudayaan Dongson di Asia Tenggara.

Adanya kontak dengan kebudayaan perunggu terutama nampak dalam kesenian orang Mentawai. Kesan tentang bentuk-bentuk seni akan diperoleh dari ornamen-ornamen pada permukaan bentuk tabuh besar, ada yang memiliki ukuran sebesar tubuh manusia dan diberi nama nekara.

Pembandingan dengan bentuk ornamen yang dikenal di Mentawai dengan jelas memperlihatkan adanya keserupaan. Di sini pun terdapat semua bentuk ornamen bercorak spiral, namun yang membedakaan adalah bahan yang dihiasnya. Pada kebudayaan Dongson yang dihias adalah bahan perunggu, sedangkan pada kebudayaan Mentawai yang dihiasi adalah kayu yang diukir atau dihias dengan menggunakan warna hitam. Bentuk-bentuk yang ditemukan di Mentawai memberi kesan lebih lincah apabila dibandingkan dengan bentuk ornamen zaman perunggu yang tersusun memanjang dan diulang-ulang bentuk secara kaku. Bentuk lain dari kebudayaan Dongson yang ditemukan di Mentawai adalah pola corak yang disebut tumpal (segitiga berderet memanjang), pola kepangan (garis-garis berombak berjalinan), serta pola khas yang merupakan abstraksi dari gambar figuratif.

Pada hiasan benda-benda kebudayaan Dongson, kecuali pola ornamental, terdapat pula bentuk-bentuk realistik, seperti gambar kadal dan rusa. Bentuk seperti ini pun ditemukan di Mentawai. Tetapi bentuk yang paling mencolok adalah keserupaan pada gambar-gambar manusia, yang berwujud sosok dengan cawat sebelah depan dan belakang menjulur ke bawah, hiasan kepala tinggi, dan kedua lengan terangkat. Pada zaman dulu diperkirakan sudah terdapat kebudayaan menari. Hal ini diperkuat ketika dilakukan perbandingan dengan penari-penari yang ada di Mentawai dan ternyata semakin memperkuat dugaan tersebut. Tarian-tarian tersebut menirukan seekor burung: cara lengan terangkat. Hiasan kepala dan cawat yang digunakan dapat diperkirakan merupakan contoh-contoh gambar yang terpahat dalam relif gambar nekara-nekara tersebut. Cawat serupa yang dibuat dengan teknik serupa dengan menggunakan bahan tambahan kain yang dibawa dari Sumatra, hanya dikenakan oleh para dukun. Sebagai hiasan sering dipakai pola tumpal. Di Mentawai pun ada gambar-gambar penari dengan pola hias kepala dan lengan terangkat.

Dukun Sakuddei yang sedang menari dengan hiasan bercorak tumpal pada cawatnya.

Di Mentawai masih terdapat pengaruh alam pikiran dari zaman perunggu. Orang Mentawai mengatakan bahwa nenek moyang mereka naik perahu lesung di langit untuk menjemput roh orang-orang baru meninggal di dunia.

Keserupaan antara Dongson dan Mentawai dalam berbagai bentuk seni dan religius merupakan hal yang ganjil, apabila diingat perbedaan-perbedaan yang ada di antara kedua kebudayaan ini dari segi teknologi dan sosial. Bahkan dalam segi religius hanya terapat dalam motif-motif tertentu saja. Karakteristik kepercayaan orang Mentawai sama sekali lain coraknya dari yang dapat diperkirakan akan ditemukan dalam satu komunitas Dongson yang hierarkis, dan berdasarkan tradisi kebudayaan zaman perunggu yang sampai sekarang masih hidup di Indonesia.

Di Mentawai, figur-figur dari kayu terutama dibuat terutama dibuat dalam hubungan dengan pengayauan suatu figur untuk setiap korban dan dipajang di dalam rumah. Figur-figur tersebut dengan jelas menampakan wujud yang statis yang monumental, sangat disederhanakan, serta simetris. Menurut Heine-Geldern itu merupakan kekhasan dari zaman Neolitikum.

4. Pengaruh Hindu-Buddha dan Islam yang Tidak Mempan
Masuknya pengaruh Hindu-Buddha dan Islam, ternyata tidak membekas pada kebudayaan masyarakat Mentawai. Pola ornamennya ternyata masih ada sampai sekarang. Di Sumatra Barat, jelas sekali adanya pengaruh India; wujud berupa pola-pola sulur, yang bentuk tumbuh-tumbuhannya dengan kedaun-daunan dan bunga-bungaan jelas sekali berbeda dengan pola geometrik di Mentawai. Hanya pada suatu bentuk tarian dukun, yang memutari sebuah piring berisi sajian dengan gerakan-gerakan yang sudah ditentukan dengan ketat, hal ini diperkirakan memiliki persamaan dengan tarian piring di Sumatra Barat. Tampak pula pengaruh-pengaruh dari Sumatra, yang datangnya lebih kemudian.

Kontak antara satu daerah dengan daerah lain memang tidak bisa dihindarkan. Lebih lanjut terjadi kontak yang lumayan cukup intens antara orang-orang Sumatra dengan orang-orang Mentawai. Hal ini dilakukan berhubungan dengan masalah kebutuhan manusia sehari-hari, baik peralatan hidup maupun bahan pokok. Produk-produk didatangkan langsung dari Sumatra, seperti pekakas dari logam, bahan kelambu, panci besi serta manik-manik dari kaca. Namun, benda-benda yang didatangkan dari Sumatra tersebut tidak menimbulkan pengaruh yang mendasar terhadap kebudayaan Mentawai, melainkan hanya pengganti hasil-hasil sendiri yang kalah baik mutunya.

Kebudayaan masyarakat Mentawai dengan teknologi yang bersahaja dan struktur sosial yang berdasarkan pada kesamaan derajat, berakar pada masa awal Neolitikum di Asia Tenggara. Pada watu bersamaan mungkin juga masuk pengaruh figuratif ke Mentawai. Hal ini tampak jelas pada beberpa perwujudan bentuk tertentu dalam kesenian. Tetapi, kecuali motif-motif tertentu dalam kepercayaan, kebudayaan selebihnya hampir tidak tekena oleh kebudayaan zaman perunggu. Hubungan yang terjadi kemudian sebelum kedatangan orang-orang Eropa, hanya terbatas pada peralatan tertentu saja, dan itu tidak memengaruhi kebudayaan secara signifikan.

Menurut tradisi silsilah orang-orang Mentawai, kawasan yang pertama-tama dihuni terleka di Samalalu, di bagian barat pulau Siberut. Segenap clan asli penduduk Mentawai berjumlah kurang lebih dua puluh lima menyebutkan bahwa mereka berasal dari tempat pemukiman awal itu. Ada yang menarik dari clan. Mereka ternyata memiliki mitos-mitos tersendiri tentang nenek moyang mereka, namun semuanya mengandung tema-tema dasar tertentu yang serupa. Dalam setiap mitos, proses perpindahan selalu di dahului oleh sengketa, yang dalam berbagai clan diakatakan adalah mengenai buah sipeu, yang menyerupai buah kesemek. Ada dua orang laki-laki bersaudara, masing-masing memiliki batang pohon sipeu. Pohon saudara yang tua lebih kecil buahnya apabila dibandingkan dengan adiknya. Kakaknya memetik buah dari pohon adiknya, ditukarkan dengan hasil buah pohonnya yang memiliki ukuran buah lebih kecil. Tetapi adiknya yang memiliki pohon dengan buah lebih besar, begitu melihat bekas buahnya jatuh di tanah yang lunak, langsung mengetahuinya bahwa dia ditipu. Ia marah sekali lalu dia pergi mencai tempat lain untuk bermukim.

Mitos lain menceritakan tentang anak-anak dari sebuah uma, yang bermain di tepi sungai. Mereka bermain lempar-lemparam. Mula-mula mereka main lempar-lemparan lumpur lalu kemudian dengan lembing batang gelagah. Salah seorang dari mereka secara diam-diam memasukkan duri kedalam lembingnya dan akhirnya melukai salah seorang anak tersebut, yang akhirnya menyebabkan kematian. Ayah anak itu mengancam akan membalas kematian anaknya dengan lembing yang sebenarnya. Mendengar ancaman tersebut, keluar anak yang bersalah lari dan mendirikan pemukiman di daerah lain. Demikianlah, lambat laun lembah-lembah di daerah tersebut dapat dihuni. Pendatang baru mencari lahan yang belum ada pemiliknya; di tempat tersebut mereka membangun tenda-tenda pada pepohonan dan wilayah temuan tersebut dinyatakan sebagai miliknya. Mereka bergotong royong membangun wilayah tersebut dengan menanam berbagai sumber makanan.

5. Struktur Sosial
Masyarakat Mentawai bersifat patrinial dan kehidupan sosialnya dalam suku disebut uma. Struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, di mana mereka tinggal di rumah besar yang disebut juga uma yang berada di tanah-tanah suku. Seluruh makanan, hasil hutan, dan pekerjaan dibagi dalam satu uma. Kelompok-kelompok patrilinial ini terdiri dari keluarga-keluarga yang hidup di tempat-tempat yang sempit di sepanjang sungai-sungai besar. Walau telah terjadi hubungan perkawinan antara kelompok-kelompok uma yang tinggal di lembah sungai yang sama, akan tetapi kesatuan-kesatuan politik tidak pernah terbentuk karena peristiwa ini.

Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, yaitu setiap anggota dewasa dalam uma memunyai kedudukan yang sama kecuali sikerei (dukun) yang memunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakit dan memimpin upacara keagamaan.

Di sebagian tempat Kepulauan Mentawai, pengaruh modern membawa perubahan besar dalam kebudayaan tradisional, tetapi kebudayaan rumah panjang (uma) masih dapat ditemukan di daerah Siberut, pulau terbesar di antara gugusan pulau tersebut. Satu uma terdiri dari beberapa keluarga. Di dalam rumah panjang tersebut mereka membentuk satuan sosial terpisah yang juga disebut uma yang menjadi dasar kelompok bangunan masyarakat Mentawai. Hubungan antartetangga uma menjadi tidak jelas. Setiap uma menjadi milik dari salah satu dari banyak marga yang tersebar di antara pulau-pulau dan istri harus dicari dari marga lain dan lebih baik berasal adri uma luar daerah. Persekutuan terjadi akibat hal ini, tetapi hubungan baik antar tetangga uma secara terus-menerus diganggu oleh persaingan dan kecurigaan yang mengancam perdamaian dan sering membawa ke arah kekerasan.

Uma di pedalaman

Secara tradisional uma memunyai wewenang tertinggi di Siberut. Selama pemerintahan Orde Baru fungsi organisasi sosial uma kurang begitu berfungsi tetapi sejak era Reformasi uma mulai digalakkan kembali dibeberapa desa dengan dibentuknya Dewan Adat. Sejak otonomi daerah bergulir direncanakan satuan pemerintah terendah yaitu laggai.

6. Budaya Tradisional
Menurut agama tradisional Mentawai (Arat Sabulungan) seluruh benda hidup dan segala yang ada di alam memunyai roh atau jiwa (simagre). Roh dapat memisahkan dari tubuh dan bergentayangan dengan bebas. Jika keharmonisan antara roh dan tubuhnya tidak dipelihara, maka roh akan pergi dan dapat menyebabkan penyakit. Konsep kepercayaan ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kegiatan keseharian yang tidak sesuai dengan adat dan kepercayaan maka dapat mengganggu keseimbangan dan keharmonisan roh di alam.


Anggota suku Sakuddei mengadakan upacara.

Upacara agama yang dikenal dengan sebagai punen, puliaijat atau lia harus dilakukan bersamaan dengan aktivitas manusia sehingga dapat mengurangi gangguan. Upacara dipimpin oleh para sikerei yang dapat berkomunikasi dengan roh dan jiwa yang tidak dapat dilihat orang biasa. Roh makhluk yang masih hidup maupun yang telah mati akan diberikan sajian yang banyak disediakan oleh anggota suku. Rumah adat uma dihiasi, daging babi disajikan dan diadakan tarian (turuk) untuk menyenangkan roh sehingga mereka akan mengembalikan keharmonisan. Selama diadakan acara, sistem tabu atau pantangan (kekei) harus dijalankan dan terjadi pula berbagai pantangan terhadap berbagai aktivitas keseharian.

Kepercayaan tradisional dan khususnya tabu inilah yang menjadi kontrol sosial penduduk dan mengatur pemanfaatan hutan secara arif dan bijaksana dalam ribuan tahun. Bagaimana pun, sekarang kebudayaan tersebut berangsur hilang. Populasi penduduk tumbuh dengan cepat dan sumber daya alam dieksploitasi tanpa mengindahkan peraturan tradisional sehingga berdampak menurunya daya dukung lingkungan yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Mentawai. Dalam melakukan kegiatan berburu, pembuatan sampan, merambah atau membuka lahan untuk ladang atau membangun sebuah uma, maka biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh anggota uma dan pembagian kerja dibagi atas jenis kelamin. Setiap keluarga dalam satu uma membawa makanan (ayam, sagu, dll.) yang kemudian dikumpulkan dan dimakan bersama-sama oleh seluruh anggota uma setelah selesai melaksanakan kegiatan atau upacara.

Makanan pokok masyarakat di Siberut adalah sagu, pisang, dan keladi. Makanan lainnya seperti buah-buahan, madu, dan jamur diramu dari hutan atau ditanam di ladang. Sumber protein seperti rusa, monyet, dan burung diperoleh dengan berburu menggunakan panah dan ikan dipancing dari kolam atau sungai.

Kepustakaan
Schefold, Reimar. 1991. Mainan Bagi Roh; Kebudayaan Mentawai. Jakarta: Balai Pustaka
Soebadyo, Haryati, dkk. 2002. Indonesian Heritage: Arsitektur. Jakarta: Buku Antar Bangsa.
….. Sosial Budaya Masyarakat Mentawai . [Online]. Terdapat di. http://tamannasionalsiberut.org/sosial-budaya-masyarakat-mentawai.html. [30/06/2010]
…...Kebudayaan Mentawai Tidak Mengenal Logam?. [Online]. Terdapat di.
http://uun-halimah.blogspot.com/2007/11/kebudayaan-mentawai-tidak-mengenal.html. [30/06/2010]

Pendidikan Karakter

Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan.

Lebih dari itu, pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède, Ovide Decroly, Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi.

Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual, bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte.

Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.



Empat karakter

Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.

Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang.

Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.

Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya.



Pengalaman Indonesia

Di tengah kebangkrutan moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atas retorika politik, dan perilaku keseharian, pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius menjadi relevan untuk diterapkan.

Pendidikan karakter ala Foerster yang berkembang pada awal abad ke-19 merupakan perjalanan panjang pemikiran umat manusia untuk mendudukkan kembali idealisme kemanusiaan yang lama hilang ditelan arus positivisme. Karena itu, pendidikan karakter tetap mengandaikan pedagogi yang kental dengan rigorisme ilmiah dan sarat muatan puerocentrisme yang menghargai aktivitas manusia.

Tradisi pendidikan di Indonesia tampaknya belum matang untuk memeluk pendidikan karakter sebagai kinerja budaya dan religius dalam kehidupan bermasyarakat. Pedagogi aktif Deweyan baru muncul lewat pengalaman sekolah Mangunan tahun 1990-an.

Kebiasaan berpikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi juga belum menjadi habitus. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan. Mereka membuat anak didik menjadi beo yang dalam setiap ujian cuma mengulang apa yang dikatakan guru.



Loncatan sejarah

Apakah mungkin sebuah loncatan sejarah dapat terjadi dalam tradisi pendidikan kita? Mungkinkah pendidikan karakter diterapkan di Indonesia tanpa melewati tahap-tahap positivisme dan naturalisme lebih dahulu?

Pendidikan karakter yang digagas Foerster tidak menghapus pentingnya peran metodologi eksperimental maupun relevansi pedagogi naturalis Rousseauian yang merayakan spontanitas dalam pendidikan anak-anak. Yang ingin ditebas arus ”idealisme” pendidikan adalah determinisme dan naturalisme yang mendasari paham mereka tentang manusia.

Bertentangan dengan determinisme, melalui pendidikan karakter manusia mempercayakan dirinya pada dunia nilai (bildung). Sebab, nilai merupakan kekuatan penggerak perubahan sejarah. Kemampuan membentuk diri dan mengaktualisasikan nilai-nilai etis merupakan ciri hakiki manusia. Karena itu, mereka mampu menjadi agen perubahan sejarah.

Jika nilai merupakan motor penggerak sejarah, aktualisasi atasnya akan merupakan sebuah pergulatan dinamis terus-menerus. Manusia, apa pun kultur yang melingkupinya, tetap agen bagi perjalanan sejarahnya sendiri. Karena itu, loncatan sejarah masih bisa terjadi di negeri kita. Pendidikan karakter masih memiliki tempat bagi optimisme idealis pendidikan di negeri kita, terlebih karena bangsa kita kaya akan tradisi religius dan budaya.

Manusia yang memiliki religiusitas kuat akan semakin termotivasi untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat, bertanggung jawab atas penghargaan hidup orang lain dan mampu berbagi nilai-nilai kerohanian bersama yang mengatasi keterbatasan eksistensi natural manusia yang mudah tercabik oleh berbagai macam konflik yang tak jarang malah mengatasnamakan religiusitas itu sendiri.

Doni Koesoema, A, Mahasiswa Jurusan Pedagogi Sekolah dan Pengembangan Profesional Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Kepausan Salesian, Roma
sumber:
http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/pendidikan/umum1.htm