Masa kini adalah jumlah hidup dari masa sebelumnya. Untuk sekedar mengerti akan makna masa silam itu, untuk memahami bagaimana tumbuh serta terjadinya segala apa, menjadilah suatu keharusan dan kewajiban untuk mengusut dan mempelajari dokumen-dokumen dan peniggalan-peninggalan yang berasal dari masa silam itu, selama masih mungkin, dan sisa-sisanya masih ada. Tiada kurangnya mengenai masa lampau yang sejauh-jauhnya, ialah prehistory, yang meliputi bagian terbesar kurang lebih 99% dari sejumlah waktu adanya umat manusia.
Dokumen-dokumen tadi tersembunyi dalam lapisan-lapisan bumi yang sangat tua, untuk menimbulkannya kembali dengan jalan penggalian yang sistematis dan kemudian untuk mempelajarinya, adalah tugas adalah dipikulkan kepada ahli prehistory dari dinas purbakala.
Evolusi manusia, dipandang dari sudut padang anatomi dan kebudayaan tidak selalu berrti kemajuan. Adakalanya berhenti, ada waktunya jatuh dan disuatu tempat musnah. Tetapi dari runtuhan tersebut kebanyakan timbullah sesuatu yang lebih baik. Jenis-jenis manusia datang dan lenyap kembali dari bumi. Peradaban-peradaban timbul, berkembang dan runtuh atau terkubur dalam kebudayaan lain. Tetapi corak umumnya selalu ialah kemajuan.
Semakin jauh kita mengikuti manusia ke dalam masa silam, semakin nampak manusia itu menjadi bagian dari alam dan dari lingkungannya yang menguasainya sepenuhnya. Baru kemudian sekali manusia belajar untuk menaklukan dan menguasahi alam dalam berbagai hal.
Makhluk-mahluk pertama yang bersifat manusia di Indonesia ialah seperti Phitecanthropus Erectus (Manusia kera yang berjalan tegak) dari Trinil, masih banyak memiliki sifat kebinatangan. Kepalanya seperti kepala kera, tak berdagu, tak tegas lengkungan dahinya, dan diatas kelopak mataya tulangnya menonjol tebal. Otaknya lebih sedikit besarnya daripada otak manusia sekarang. Tetapi anggota badannya telah sama sekali seperti kepunyaan manusia. Bahwa mahluk ini adalah manusia sekarang ini tidak lagi disangsikan. Ternyata mereka telah dapat membuat alat-alat kasar dari batu, bahkan membuat api. Dan binatang manakah yang dapat meniru? Manusia kera itu hidupnya masih sengsara (sederhana sekali), yang dimakan ialah yang ia dapatkan dari lingkungannya, jadi sebagaimana ia peroleh dari alam dalam keadaan sewajarnya. Tak ada dalam pikirannya bertindak mengatur sendiri untuk menjaga, menambah, makanan dengan bercocok tanam dan memeliharanya. Hari esok tak masuk dalam pikirannya apa yang ia tangkap, yang ia dapat, segeralah dimakan. tak pernah ia menyimpan guna persediaan. Hidup berkeluarga pasti telah dikenal, tetapi apakah ia telah dapat berbicara tidaklah diketahui.
Penyelidikan terhadap bekas-bekas yang tertua dari umat manusia sifatnya masih bercorak ilmu alam sama sekali. Yang menjadi dasar ialah Geologi dan Paleantologi. Sisa-sisa rangka yang telah membatu dan alat-alat batu itu ditemukan dalam bekas-bekas lahar dan lapisan tanah pengendapan kali dan laut zaman dahulu, terutama di Jawa, tetapi belum lama berselang untuk pertama kalinya juga di Sulawesi Selatan.
Sisa-sisa rangka dan tengkorak dari Pithecanthropus, dari manusia Solo yang mewakili tingkat sederhana dari manusia Neanderthal yang hidup nya sebelum jenis-jenis manusia sekarang, kemudian sisa-sisa dari manusia Wajak yang yang mengalahkan kita karena otaknya lebih besar dari pada manusia modern. Selanjutnya alat-alat bantu dari Pacitan, ialah alat-alat penetak terbuat dari batu-batu kali yang dipecahkan dan dikerjakan pada satu sisi saja secara kasar. Cara demikian itu menjadi sebagian dari lingkungan kebudayaan besar dari lingkungan kebudayaan besar yang terdapat diseluruh Asia Tenggara. Di Tiongkok utara terdapatnya bersama-sama dengan bagian-bagian rangka manusia Peking yang mirip sekali kepada Pithecanthropus Erectus dari Jawa. Suban-suban dan bilah-bilah batu yang dipangkan secara teratur dari batu terasnya, yang dihadapkan di Sangiran di Jawa dan Cabenge di Sulawesi Selatan. Dan alat-alat penetak yang terbuat dari tanduk-tanduk rusa yang telah habis mati, dari Ngandong di lembah kali Solo.
Tak disatu tempatpun didunia ini telah ditemukan demikian banyaknya bermacam-macam manusia fosil seperti di Jawa, meskipun penyelidikan-penyelidikannya masih sangat bersifat sementara. Pendapatan-pendapatan tersebut menjadi pusat minat ilmu pengetahuan oleh karena mengenai masa yang mula-mula sekali dari pertumbuhan bentuk serta perkembanga umat manusia. Menjelang peperangan ditemukan sisa-sisa dari semacam raksasa yang hidup di Jawa setengah juta tahun yang lalu.
Kita sekarang mengetahui binatang apa saja yang hidup bersamaan waktunya dengan manusia-manusia tertua itu. Tingkatan rendah dari gajah, kudanil, hyena, rusa, badak, jenis kerbau, dan harimau raksasa. Binatang-binatang ini telah lama musnah dari bumi. Seandainya tak diketemukan kembali fosil-fosil tulang belulang mereka, tak pernahkah kita akan mengetahui sedikitpun dari adanya mereka.
Dengan istilah geologi kepulauan Indonesia itu umumya demikian mudanya (kebanyakan baru timbul diatas permukaan laut pada zaman ahir masa TERTIAIR sehingga tak mungkinlah bahwa binatang-binatang dan manusia itu terjadinya disini. Mereka harus datang kemari dari benua Asia. Dengan berenang? Tak dapatlah binatang menyusui itu. Tetapi selama zamn es dimana tepatnya permukaan air lut turun hingga kurng lebih 100 meter, menjadikan laut jawa yang dangkal berubah menjadi tanah. Maka terjadilah titian itu tanah yang menghubungkan pulau-pulau Sunda besar dengan Daratan Asia melalui Semenanjung Malaka. Melewati titian itu datanglah binatang-binatang menyusui yang besar dan mendiami kepulauan kita sekarang ini. Perhubungan itu terjadi berulang-ulang , tetapi terputus sesekali jika air laut naik. Pada zaman es luas tanah wilayah kita lebih besar daripada sekarang ini. Saat itu laut Jawa menjadi tanah Pula. Diamana dilalui sungai yang sangat besar sekali, lebih besar daripada sungai Misisipi. Bengawan ini juga yang membawa air dari kali-kali di Kalimantan Barat dan Bagian timur Sumatra dan ahirnya bermuara di Laut Tiongkok Selatan.
Semua binatang menyusui dan manusia-manusia tertua sudah lama sekali musnah. Tetapi mereka digantikan oleh manusia-manusia dan biatang lainnya. Orang-orang kemudian hampir secara bersamaan waktu datang mendiami Indonesia semua termasuk jenis Homo Sapiens (jenis yang meliputi seluruh umat manusia yang hidup sekarang).Yang masuk kekepulauan ini dengan melalui Malaka dan Filipina adalah suku-suku bangsa AUSTRALO-MELANOSOIDE, WEDDA, dan NEGRITO. Manusia-manusia ini tingkat peradabanya masih sangat sederhana diamana mereka sebagai pemburu dan mengumpulkan makanan, dan masing-masing diantara mereka ialah memepunyai kebudayaannya masing-masing yang berbeda-beda. Pada suatu waktu kira-kira pada enam ratus ribu tahun yang lalu, sudah ada kecondongan kearah tinggal menetap untuk waktu yang lama, seperti di tepi-tepi pantai yang kaya akan kerang-kerang, dan menjamin adanya makanan, terutama untuk waktu yang lama. Mereka hidup setengah mengembara. Mereka tinggal secara berkelompok antara 40 hingga 100 orang. Pembagian kerja sudah ada terutama didasarkan atas jenis kelamin.
Bentuk kebudayaan yang pertama ialah saat dari batu kali yang dikerjakan sebelah sisi saja secara kasar dan biasanya berbentuk lonjong. Dengan alat-alat tersebut dipancunglah kerang-kerang itu dari batu karangnya. Setelah dimakan isinya, kulit kerang tersebut dilempar begitusaja, sehingga tertimbun hingga bermeter-meter tingginya. Dalam timbunan kerang tersebut kelak ditanam pula mayat-mayat penduduk disana. Mayat-mayat itu telah dirawat baik-baik, kadang dikubur dengan dilipat lututnya, ada kalanya yang mati diberi bawaan di kuburannya berupa kulit-kulit kerang yang berlobang, dan ada yang ragkanya ditebari sejenis cat merah. Kecuali dipiggir-pinggir pantai orang pada masa itu juga mendiami gua-gua. Kebudayaan itu datang dari penduduk yang masuk melalui Malaka, Karena bekas-bekasnya yang terutama ditemukan di Sumatra timur laut sampai Tonkin. Pendukung kebudayaan ini adalah orang-orang yang berkepala panjang, bergigi besar dan bercorak AUTRALO-MELANOSOIDE.
Adapun bentuk kebudayaan kedua jauh lebih beragam lagi dan megenal jauh lebih banyak alat-alat. Alat-alat yang berupa seperti pecahan-pecahan hasil dipukulinya batu dengan cara tertenu dan selanjutnya lagi dikerjakan secara teliti menjadi pisau, alat pengeruk, penggores, Ujung lembing, Ujung Panah, Gurdi, Pengait, ada yang dari batu ada pula yang dari tulang. Semuanya berasal dari kebudayaan MIKROLITHIKUM. Kebanyakan didapatkan dari dalam gua-gua di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan juga disekeliling danau seperti di dataraan tinggi Bandung, Dan dataran Kerinci. Jenis batu yang sering digunakan seringkali sangat indah. Diataranya ialah jenis Chalcedon dan Obsidian. Pendekatan yang menjadi bahan ialah bahan jenis batu yang mudah dibelah namun keras. Alat-alat tersebut sering digunakan sebagai berburu dan menangkap ikan.
Rangka-rangka manusia dari kebudayaan ini tidak kita kenal karena mayat-mayatnya tidak ditanam didalam gua melainkan diatas pohon. Setelah beberapa lama tulang-tulang tersebut dibagikan kepada ahli warisnya sebagai tanda peringatan. Dibawanya tulang belulag ini kemana-mana seringkali bertahun-tahun untuk mengingat orang yang telah mati. Yang di ketemukan kembali dari penggalian hanyalah sebagian kecilnya saja, teruatama tulang-tulang rahang bawah dan bagian atas dari tengkorak. Lebih jaeang diketemukan ialah bagian bawah rangka. Sisa-sisa tersebut selalu menunjukan berasal dari jenis manusia yang kecil dan bergigi kecil pula. Kebudayaan ini telah mengenal TOTENISME CLAN. cat merah banyak digunakan untuk mengulasi muka dan tubuh pada waktu diadakan upacara. Masyarakat juga telah pandai mengukir batu karang baik gambar binatang, bintang, dan cap-cap tangan atas dasar bercat merah. Pada lukisan seekor babi hutan sedang, meloncat yang belum lama diketemukan di Sulawesi Selatan, pada bagian jantungnya sebuah tanda mirip kepada ujung tombak, dengan memberikan tanda itu orang pada masa tersebut berpendapat akan bisa menguasahi binatang-binatang buruan dan mempunyai kepastian akan berhasilnya nanti jika berburu. Jadi WISHFUL PAINTIG. Aneh dari penjelmaan yang tertua dari seni yang bersandar sihir itu bukannya corat-coret anak kecil, melainkan sebaliknya menunjukan kepandaian luar biasa dan perasaan seni yang tinggi. Kebudayaan tersebut masuk nusantara melalui Filipina.
Bentuk kebudayaan yang ketiga tidak begitu jelas, namun peninggalannya nampak pada gua Samping, maka kebudayaan tersebut rupa-rupanya hanya mengenal alat-alat dari tulang dan tanduk. Rangka-rangka manusia di dalam gua itu menunjukan suatu bangsa yang mempunyai sifat-sifat PAPUA-MALANESIA dan WEDDIDE. Pekerjaan mengurus mayat banyak mendapatkan perhatian. Mayat-mayat itu ditanam, ditidurkan miring dan kakinya dilipat dan kadang-kadang tangannya disedekapkan menutupi mukanya, dan ada pula yang diberikan barang bawaan berupa kalung yang dibuat dari kulit-kulit kerang. dan gigi-gigi binatang buas yang dilubangi.
Sampai kini kita belum bicara mengenai manusia Indonesia. Sebab meskipun terasa sangat janggal bangsa Indonesia bukan penduduk asli dari Indonesia, sebagaimana dapat diketahui dari uraian diatas, mereka baru kemudian sekali baru datang ke kepulauan nusantara dari negeri asal mereka tinggalkan paling lama 4000 tahun yang lalu. Negeri asal ini sangat mungkin sekali letaknya di daerah YUNAN. Mereka datang kemari dengan menggunakan perahu-perahu bercadik yang tidak diberi layar. Mereka masih menggunakan alat-alat dari batu dan telah bercocok tanam dan berternak.
Mereka megusahakan padi dan Jawut. Mereka memelihara kerbau untuk kendaraan dan korban, juga babi dan ayam. Mereka tinggal dirumah-rumah paggung yang besar dan berbentuk persegi panjang. Selajutnya mereka telah pandai membakar periuk belanga, tetapi belum menggunakan roda landasan. Pakaian mereka dibuat dari kulit kayu. Rumah-rumah dan perkakas mereka seringkali digambari dengan hiasa-hiasan geometris yang indah. Memanglah banyak bekas yang mereka tinggalkan. Para petani sering kali menemukaan saat membajak dan barang itu seringkali dianggap gaib dan beliung-beliung batu berbentuk persegi panjang dan telah diumpam itu dinamakn gigi guntur.
Zaman ini adalah yang paling penting untuk perkembangan kebudayaan selanjutnya di Indonesia, oleh karena menjadi dasar pembentukkan kemasyarakatan pada masa kini. Penyelidikan dengan penggalian masih terlalu sedikit dilakukan. Hanya beberapa saja di Jawa dan Sulawesi. Sebab sebnya ialah bahwa kenyataan demikian bahwa tempat-tempat kediaman itu sukar sekali diusut. Di daerah-daerah yang kaya akan bahan-bahan batu seperti gunuungung sewu terdapat banyak tempat-tempat guwa pembikinan alat-alat batu seperti kapak-kapak dan ujung –ujung panah.
Agaknya setelah kebudayaan ini, Indonesia tidak mengenal zman perunggu yang sesungguhnya. Sebab sangat sergera disusul oleh zaman besi. Maka dari itu lebih baik untuk mengatakan zaman logam tua yang mengenal alat-alat dari perunggu maupun besi. Tetapi hal inin tidak mengurangi kenyatan bahwa pengaruh-pengaruh zman perunggu dari Indo Cina dan Tiongkok selatan sangat mendalam sekali dan sampai kini masih seringkali nyata pada seni hias zaman sekarang. Hasil-hasil tertua dari zaman perunggu itu tak terdapat di negeri ini. Sekonyong-konyong kita melihat benda-bend perunggu uyang indah-indah, kapak sepatu, Ujung Lembing, Nekara, dan juga monumen-monumen Megalitikum pun Pahatan-pahatan indah dari kayu dan batu. Kita dapat membwdakan dengan nyata dua corak dalam ornamental. Keduanya berlainan asalnya.
Sebagaimana dapat nyata dengan jelas maka di Indonesia Kebudayaan itu dapat berkembang degan sesubur-suburnya ditempt-tempat yang mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengadakan hubungan kebudayaan. Sebaliknya didaerah-daerah yang terpencil atau di pulau-pulau yang terpisah dan sukar dicapai kebudayaan tersebut membeku. Untuk melepaskan suku-suku bangsa ini dari kedudukannya yang terpencil adalah suatu masalah yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia.
Seorang prehistoranicus hidupnya penuh pengalaman yang bergilir berganti. Sering ia harus berpergian jauh. Sewbagian Waktunya ia gunakan untuk penggalian-penggalian, seringkali harus jauh dari keenakan hidup. Waktu selebihnya ialah ada di kmar belajar. Seorang prehistoricus harus memiliki keberanian dan fantasi untuk dapat menyusun hypothese-hypothesenya. Akan tetapi jika ia mulai mengadakan penggalian maka betapa menyenangkan juga, pekerjaan itu harus dilakukan dengan exact sekali denga menggunakan alat pengukur yang tepat. Ia juga harus memiliki rasa tanggungjawab dan harus selalu berusaha untuk meemperbaiki dan menyempurnakan cara-caranya bekerja. Ia harus menginsafi, bahwa jika suatu penggalian tidak dilakukan menurut aturan yang tepat , maka tempat penemuan itu bagi ilmu pengetahuan hilang lenyap untuk selamanya. Tidak hanya semua barang temuan yang harus dicatat akan letaknya dengan teliti tetapi pun keadan-keadaan di sekelilingnya harus diperhatikan . Warna lain di dalam tanah, bekas-bekas abu, semuanya kelak akan dapat ternyata penting. Selanjutnya peta-peta penggalian dan foto-foto dari pekerjaan yang dilakukan harus sedemikian rupa , sehingga kelak jika dikehendaki sedala-galanya dapat direkonstruksi. Dengan demikian 50 tahun yang kemudian misalnya prehistoricus itu dapat menyelidiki dan memepelajari soal itu lagi sebab ilmu pengetahuan itu tidak berhenti saja. Apa yang hari ini belum diketahui barang kali kelak akan menjadi hal yang seterang-terangnya. Setelah penggalian itu selesai,. Maka mulailah pekerjaan di dalam kamar belajar, dan semua barang-barang temuan yang telah diberi nomor, dipilah-pilah dan dipelajari. Sekarang Prehistoricus itu bertindak sebagai seorang redaktur. Prehistori itu meliputi ilmu-ilmu pengetahuan demikian banyaknya sehingga pertolongan dari ahli-ahli khusus tak mungkin diabaikan untuk menjamin hasil sebaik-baiknya. Untuk itu bekas-beks binatang yang telah membatu dikirimkan padaahli Paleoantologi, untuk dipelajari lebih lanjut, sisa-sisa neo fauna kepadaahli zoology, sisa-sisa manusia diserahkan pada ahli antropololgi, dan contoh-contoh tanah diserahkan pad ahli tanah. Jika padatulang-tulang yang telah membatu terdapat karat-karat maka hal ini harus diselidiki di labolatorium, secara mineralogy.
Jika dengan demikin segala bahan telah terkumpul, haruslah dibuat satu laporan dari bahan-bahan yang terkumpul itu. Barangkali prehistoricus itu menarik kesimpulan-kesimpulan yag tertentu dan dapat sampai kepada penentuan umur yang nisbah atau yang mutlak.
Penyelidikan tanah di negeri ini masih sangt muda disi masih terbuka lapangan yang luas sekali dengan kemungkinan-kemungkinan yng menggetarkan jiwa. Di India sudah ada berbagai ahli prehistori yang berpendidikan baik sekali. Bilamanakah calon Prehistoricus bangsa Indonesia yang pertama mencatatkan dirinya, untuk dapat melanjutkan pekerjaan kami di kemudian hari.
H.R. Van Heekeren
Senin, 03 Agustus 2009
Jumat, 31 Juli 2009
Kemah ditengah Cagar Budaya
Kemah budaya tahun 2009 ini mengambil tempat di Benteng Vredeburg Yogyakarta dari tanggal 31 Juli-2 Agustus 2009. Kegiatan yang dibuka oleh Ketua kwarda Paku Alam IX ini bertujuan untuk mengapresiasikan kebersamaan, kemandirian, dan belajar tentang budaya dan pariwisata. Kegiatan ini diikuti oleh 200 pramuka perwakilan tingkat penggalang dan penegak dari kwartir cabang Kabupaten/kota se DIY.
Harapan Paku Alam IX dalam pidato pembukaannya ialah mengharapkan agar generasi muda harus mempunyai budi pekerti luhur serta semangat bela negara dalam persaingan global. Sehingga perlulah dibagun sumberdaya manusia yang berkepribadian, kuat handal, dan berpegang pada identitas dan jatidirinya. Salah satu caranya ialah dengan mengenalkan dan menghayati nilai-nilai sejarah dan perjuangan bangsa melelui pemahaman terhadap benda-benda peninggalan sejarah.
Rangkaian acara yang akan dilangsungkan mengutip KR edisi Sabtu 1 Agustus 2009 ialah karnaval budaya guyon maton, pentas seni daerah, kunjungan kesitus bersejarah, konservasi dan ekskavasi di taman sari, Kota Gede, Candi Prambanan, dan laboratorium purbakala di kantor BP3 DIY serta benteng vedeburg yogyakarta. Selain itu juga ada kegiatan napak tilas kawasan nol kilometer kota yogyakarta meliputi benteng Vredeburg, ,gedung kepresidenan yogyakarta, rumah dinas wakil presiden (kantor korem 072, gedung de Javaseche Bank (kantor BI) dan pemutaran Film kesejarahan serta dialog budaya, juga lomba memahami dan melestarikan budaya local seperti masakan tradisional, dolanan anak, majalah dinding, karya tulis ilmih, , vokal, serta grup lagu kebangsaan.
Harapan Paku Alam IX dalam pidato pembukaannya ialah mengharapkan agar generasi muda harus mempunyai budi pekerti luhur serta semangat bela negara dalam persaingan global. Sehingga perlulah dibagun sumberdaya manusia yang berkepribadian, kuat handal, dan berpegang pada identitas dan jatidirinya. Salah satu caranya ialah dengan mengenalkan dan menghayati nilai-nilai sejarah dan perjuangan bangsa melelui pemahaman terhadap benda-benda peninggalan sejarah.
Rangkaian acara yang akan dilangsungkan mengutip KR edisi Sabtu 1 Agustus 2009 ialah karnaval budaya guyon maton, pentas seni daerah, kunjungan kesitus bersejarah, konservasi dan ekskavasi di taman sari, Kota Gede, Candi Prambanan, dan laboratorium purbakala di kantor BP3 DIY serta benteng vedeburg yogyakarta. Selain itu juga ada kegiatan napak tilas kawasan nol kilometer kota yogyakarta meliputi benteng Vredeburg, ,gedung kepresidenan yogyakarta, rumah dinas wakil presiden (kantor korem 072, gedung de Javaseche Bank (kantor BI) dan pemutaran Film kesejarahan serta dialog budaya, juga lomba memahami dan melestarikan budaya local seperti masakan tradisional, dolanan anak, majalah dinding, karya tulis ilmih, , vokal, serta grup lagu kebangsaan.
UPACARA ADAT TUNGGUL WULUNG
Upacara adat ini digelar oleh masyarakat dusun Tengahan, desa sendangagung, kecamatan Minggir jumat 27 Juli 2009. upavara adat ini diawali dengan kirab prajuritdan pusaka diawali dari baledesa Sendangagung minggir menuju ke rumah juru kunci makam Ki Ageng Tunggul Wulung sejauh dua kilometer. Prosesi upacara adat ini dilaksanakan di tiga titik lokasi, yakni balai desa sendang agung, rumah jurukunci makam Ki Ageng Tunggal Wulung dan di makam. Prosesinya sendiri berdasarkan catatan KR edisi Sabtu Wage 25 juli 2009 diawali dengan laporan prajurit di Balai desa Sendang Agung, dilanjutkan denga kirab kerumah jurukunci utuk menyerahkan sesaji dan dilanjutkan kemakam untuk kenduri bersama.
Merti Dusun Kalasan
Hari ini Sabtu 25 Juli 2009 masyarakat dusun ngajeg, desa Tirtomartani, kecamatan Kalasan, kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar upacara adat merti bumi bertajuk “poco Tunggal”.
TUGU WEDI
Tugu Wedi yang berlokasi di simpang tiga kecamatan Wedi atau jalan Kompleks pasar Wedi dibangun kembali dabn digeser letaknya. Tugu ini merupakan tugu baru dimana tugu yang runtuh akibat diseruduk sebuah truk. Walau pembangunan tugu ini menelan biaya sebesar25 juta rupiah hal intu bukan menjadi penghalang untuk membangun kembali tugu ini. Menurut keterangan Camat Wedi Endro Susilo dang dikutip dari KR edisi rabu 29 Juli 2009 tugu ini bagi masyarakat dirasakan sangat penting karena nilai akan sejarahnya dimana tugu ini yang dibangun oleh PB IV sebagai tanda Wedi merupakan bagian dari tlatah Kraton Surakarta.
Mengutip pernyataan bapak camat dari KR tugu ini juga sarat akan makna filosofis sebagai pemersatu, pusat pandagan dan juga pusat pemerintahan, namun dalam pembangngunannya sedikir digeser dari lokasi semula agar lebih lurus dengan pertigaan yang ada sekarang. Peresmian ini dilakukan selasa 28 juli 2009 ditandai dengan penandatanganan prasati oleh bupati Klaten Sunarno SE M Hum dan pengguntingan pita oleh ketrua DPRD KlatenHarry Pramono.
Mengutip pernyataan bapak camat dari KR tugu ini juga sarat akan makna filosofis sebagai pemersatu, pusat pandagan dan juga pusat pemerintahan, namun dalam pembangngunannya sedikir digeser dari lokasi semula agar lebih lurus dengan pertigaan yang ada sekarang. Peresmian ini dilakukan selasa 28 juli 2009 ditandai dengan penandatanganan prasati oleh bupati Klaten Sunarno SE M Hum dan pengguntingan pita oleh ketrua DPRD KlatenHarry Pramono.
KIRAB BOYONG KEDATON
Kirab Boyong Kedaton menandai puncak hari jadi kabupaten Wonosobo yang ke-184, selain itu juga diadakan upacara Birat Sengkolo, dan juga kenduri rakyat pada Jumat 24 Juli 2009. Arak-arakan kirab ini merupakan symbol dari menyatunya pemerintah dengan rakyatnya, bahkan masing-masig desa dean kalurahan turut meramaika dan berpartisipasi dalam kirab budaya ini. Meliputi seni kuda kepang, reog, lengger, dan aneka kesenian lainnya.
Ritual Birat Sengkolo merupakan ritual upacara tradisional
Ritual Birat Sengkolo merupakan ritual upacara tradisional
Pelestarian Cagar Budaya Memprihatinkan
Apa gerangan yang sedang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini. Dari hari-ke hari kepedulian masyarakat kita terutama terhadap kelestarain benda cagar budaya semakin menurun. Memang melestaraikan Benda cagar budaya memang bukanlah perkara yang mudah dan harus melibatkan banyak pihak, mulai dari pemilikaset, pemerintah dan juga mastarakat luas. Mengutip artikel di koran kedaulatan rakyat edisi rabu 29 Juli 2009 faktor terbesar penyebab alih fungsinya bangunan cagar budaya ialah pandangan terhadap Benda Cagar budaya yang dilihat hanya dari sudut pandang ekonomi. Memang hal ini menjadi peroalan yang cukup pelik karena di satu sisi kita sebagai generasi penerus bangsa yang sadar akan pentingnya nilai-nilai kesejarahan menganggap penting akan kelestaraian akan BCB tersebut namun disisi lain tidak sedikit para pemilik BCB melihatnya dari sudutpandang ekonomi terlebih lokasinya yang strategis. Mengutip keterangan ketua dewan kebudayaan DIY Yuwono Sri suwito dalam diskusi Forum Wartawan DPRD DIY digedung DPRD Propinsi selasa 28 Juli 2009 memberi contoh betapa sulitnya melestaraikan BCB di jalan Ahmad dahlan yogyakarta yang berarsitektur perpaduan gaya cina dan Yogyakarta menolah diberi lebel Bendacagar budaya. Pemilik beralasan jika bangunan mereka diberi lebel BCB akan sulit dijual.
Belio juga menjelaskan lebih lanjut dimana usaha untuk melestarikan BCB perlu dilakukan dengan pendekatan komunitas kesukuan, dan pemilik asset diberikan apresiasi untuk memotivasi mereka agar sadar dan peduli akan warisan budaya tersebut.
Belio juga menjelaskan lebih lanjut dimana usaha untuk melestarikan BCB perlu dilakukan dengan pendekatan komunitas kesukuan, dan pemilik asset diberikan apresiasi untuk memotivasi mereka agar sadar dan peduli akan warisan budaya tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)