Dalamrangka memperingati hari jadi kabupaten Kendal berbagai agenda kegiatan dilakukan oleh segenap elemen masyarakat seperti yang dilansir oleh harian kedaulatan rakyat edisi selasa pahing 28 Juli 2009 dengan jedul Menelusuri petilasan Bupati antaralain dengan menggelar ziarah ke makam leluhur sreperti makam kiai Gebyang, Pangeran Juminah, Sunan kantong, Pangeran Mandurorejo, Kiai guru, dan makam mantan Bupati, Kendal Djoemadi.
Dalam tanggap warsa tahun ini kerabat kraton Mataram wewengkon Kendal mencoba menelusuri makam atau petilasan tumenggung bau rekso dimakam jambu Bukit Tanjung di desa Lebaksiu Kidul kecamatan Lebaksiu kabupaten tegal. Makam tersebut menurut Hamam Rochani (salah satu kerabat kraton) diyakini sebagai makam Tumenggung Bahurekso Bupati pertama Kendal. Makam ini seperti dilansir KR dalam kondisi seadanya.
Tema yang diangkat dalam perayaan hari jadi Kendal tahun ini seperti yang dikemukakan oleh bapak bupati “ Dengan semangat hari jadi Kabupaten Kendal ke-404, kita wujudkan kerja iklas, nyata dan dinamis” merupakan tema yang sangat menarik untuk kita bahas lebih lanjut karena didalam tema tersebut terkandung spirit untuk menggali potensi diri potensi wilayah Kendal pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Tercermin dari berbagai agenda kegiatan ziarah diatas merupakan wujud nyata usaha untuk mengenal dan menghormati para leluhur yang telah memeberikan sumbangsih nyata baik pikiran maupun tenaga tehadap kabupaten Kendal. Degan demikian spirit kita untuk kerja iklas, nyata, dan dinamis mendapatkan gambaran, arah, dan petunjuk yang baik sesuai apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu.
Dalam pengembangan kedepan tentunya saya sebagai penulis sangat mendukung pengembangan kegiatan untuk dikembangkan lebih lanjut untuk tidak hanya di lakukan sebagai kegiatan rutinitas dalam memeperingati hari jadi Kabupaten Kendal, tetapi lebih jauh dapat dijadikan agenda wisata sejarah jang tentunya mengandung nilai-nilai kesejarahan yang sangat positif untuk kita semua ketahui bersama. Betapa tidak pembangunan akan terasa tidak mempunyai roh dan karakter tanpa kita mengetahui jatidiri sebenarnya tentang asal usul kita sendiri.
Kegiatan pariwisata sejarah akan memepermudah langkah untuk mewujudkan kesadaran sejarah secara kolektif dengan lebih mudah ketika semua pihak saling bahu membahu mewujudkannya. Aset telah ada dan terjaga tinggal bagaimana kita sebagai generasi penerus menyikapinya. Ahirnya selamat buat kabupaten Kendal dalam hari jadinya yang ke 404, semoga kedepan lebih maju dan berkarakter. Amin.
Selasa, 28 Juli 2009
KIRAB BUDAYA KAMPUNG JOLOSUTRO
Kirab budaya di kampung Jolosutro yang dilakukan senin 27 Juli 2009 seperti yang dilansir KR selasa 28 Juli 2009 merupakan kegiatan dalam rangka mengenang Sunan Geseng yang dipercaya oleh masyarakat kampung Jolosutro Srimulyo Piyungan sebagai seorang penyebar Agama Islam di kampung tersebut.
Acara yang dimulai dari lapangan Jolosutro ini tiadalain ialah menuju makam Sunan Geseng yang berjarak kurang lebih 2 kilometer. Menurut penjalasan tokoh masyarakat setempat Watiti 51 seperti yang dilansir KR kegiatan ini bertujuan untuk menyambung sejarah pepunden Sunan geseng, serta mempertahankan budaya agar tidak punah.
Melihat kenyataan ini sungguh usaha yang sangat mulia dan patut kita dukung bersama-sama. Betapa tidak masyarakat kampung Jolosutro telah menyadari arti pentingnya sebuah sejarah dan kelestarian budaya local mereka ditengah gempuran arus globalisasi yang semakin menggila dewasa ini. Tentunya hal ini menjadi kekuatan tersendiri bagi masyarakat untuk menangkal segala pengaruh negatif dari masuknya budaya asing.
Sungguh kegiatan budaya ini patut mendapat apresiasi dari berbagai pihak, yang dalam hemat penulis dapat dikembangkan kedalam pengembangan pariwisata sejarah dan budaya di Gunungkidul. Selain menjadi nilai tambah bagi masyarakat setempat kegiatan ini akan semakin menarik minat generasi muda untuk turut serta mempertahankan, dan sekaligus mengembangkan budaya yang mereka miliki.
Semoga dengan adanya tulisan ini pihak-pihak yang merasa peduli dengan kelestaraian nilai-nilai budaya dan sejarah tergerak hatinya dan mulai melakukan langkah kongkrit dalam mempertahankan dan memajukan nilai-nilai budaya yang kita miliki dan kita banggakan bersama-sama. Amin.
Acara yang dimulai dari lapangan Jolosutro ini tiadalain ialah menuju makam Sunan Geseng yang berjarak kurang lebih 2 kilometer. Menurut penjalasan tokoh masyarakat setempat Watiti 51 seperti yang dilansir KR kegiatan ini bertujuan untuk menyambung sejarah pepunden Sunan geseng, serta mempertahankan budaya agar tidak punah.
Melihat kenyataan ini sungguh usaha yang sangat mulia dan patut kita dukung bersama-sama. Betapa tidak masyarakat kampung Jolosutro telah menyadari arti pentingnya sebuah sejarah dan kelestarian budaya local mereka ditengah gempuran arus globalisasi yang semakin menggila dewasa ini. Tentunya hal ini menjadi kekuatan tersendiri bagi masyarakat untuk menangkal segala pengaruh negatif dari masuknya budaya asing.
Sungguh kegiatan budaya ini patut mendapat apresiasi dari berbagai pihak, yang dalam hemat penulis dapat dikembangkan kedalam pengembangan pariwisata sejarah dan budaya di Gunungkidul. Selain menjadi nilai tambah bagi masyarakat setempat kegiatan ini akan semakin menarik minat generasi muda untuk turut serta mempertahankan, dan sekaligus mengembangkan budaya yang mereka miliki.
Semoga dengan adanya tulisan ini pihak-pihak yang merasa peduli dengan kelestaraian nilai-nilai budaya dan sejarah tergerak hatinya dan mulai melakukan langkah kongkrit dalam mempertahankan dan memajukan nilai-nilai budaya yang kita miliki dan kita banggakan bersama-sama. Amin.
SALAH SIAPA?
Kiranya judul diatas akan sangat menyakitkan jika kita telaah lebih jauh. Betapa tidak tanpa visi dan prioritas yang jelas, akan dikemanakan arah dan masadepan generasi penerus kita sekarang ini? Tentunya tanpa itu semua nilai-nilai dan keagungan akal dan budi hasil olah cipta, rasa dan karsa para pendahulu bangsa ini akan lenyab begitu saja ditelan zaman.
Dengan menyunting hasil pemikiran dari Friedrick Hegel tentang konsep realitas yang berdialektika (tesis, antitesis, dan sintesis) tentunya kita sebagai bangsa yang berdaulat dan sangat menjunjung tinggi akan nilai-nilai budaya bangsa tidak akan merasa terkaget-kaget bahkan merasa terseok-seok ditengah pergumulan antar bangsa yang telah mengglobal. Dimana dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekana semakin membuat batas dan penghalang antarnegara untuk berkomunikasi dan saling menukar informasi tidak ada lagi. Tidak hanya pengaruh yang bersifat positi saja yang masuk tetapi pengaruh negatifpun seakan tidak terbendunglagi.
Generasi muda kita dengan berbagai kemudahan akan teknologi semamkin mudah mengakses segala informasi yang mereka perlukan. Seperti yang dipercaya oleh banyak pihak bahwa kehadiran teknologi dengan segala fasilitas kemudahannya bagaikan pedang yang mempunyai dua sisi yang sama-sama tajam. Satu sisi akam memberikan pengaruh positif dan disisilan akan memberikan pengaruh negatif.
Mari kita bersama-sama mengkoreksi jika kita prosentase manakah yang lebih besar antara prosentase pengaruh positif dan pengaruh negatif? Tentunya jika kita mau jujur dengan kenyatan yang ada memang seakan-akan pegaruh negatiflah yang mendominasi dalam perkembangan saat ini. Jika memang kenyataannya demikian, salah siapa gerangan jika bangsa kita mempunyai generasi yang tanpa visi dan prioritas? Kiranya tidak sepatutnya kita menyalahkan salahsatu pihak (mengkambinghitamkan), mari kita bersama-sama saling mengkoreksidiri. Sudah tepatkah apa yang selama ini kita lakukan? Apa dampak dari tindakan yang kita lakukan? Dengan demikian jika dari masing-masing kita merevleksi diri kita harapkan akan memunculkan kesadaran bersama-sama akan pentingnya nilai-nilai yang telah lebih dahulu ada, mempertahankan dan mengembangkannya. Sehingga bangsa kita akan tumbuh kembang semakin kuat ditengah kancah globalisasi. Amin.
Dengan menyunting hasil pemikiran dari Friedrick Hegel tentang konsep realitas yang berdialektika (tesis, antitesis, dan sintesis) tentunya kita sebagai bangsa yang berdaulat dan sangat menjunjung tinggi akan nilai-nilai budaya bangsa tidak akan merasa terkaget-kaget bahkan merasa terseok-seok ditengah pergumulan antar bangsa yang telah mengglobal. Dimana dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekana semakin membuat batas dan penghalang antarnegara untuk berkomunikasi dan saling menukar informasi tidak ada lagi. Tidak hanya pengaruh yang bersifat positi saja yang masuk tetapi pengaruh negatifpun seakan tidak terbendunglagi.
Generasi muda kita dengan berbagai kemudahan akan teknologi semamkin mudah mengakses segala informasi yang mereka perlukan. Seperti yang dipercaya oleh banyak pihak bahwa kehadiran teknologi dengan segala fasilitas kemudahannya bagaikan pedang yang mempunyai dua sisi yang sama-sama tajam. Satu sisi akam memberikan pengaruh positif dan disisilan akan memberikan pengaruh negatif.
Mari kita bersama-sama mengkoreksi jika kita prosentase manakah yang lebih besar antara prosentase pengaruh positif dan pengaruh negatif? Tentunya jika kita mau jujur dengan kenyatan yang ada memang seakan-akan pegaruh negatiflah yang mendominasi dalam perkembangan saat ini. Jika memang kenyataannya demikian, salah siapa gerangan jika bangsa kita mempunyai generasi yang tanpa visi dan prioritas? Kiranya tidak sepatutnya kita menyalahkan salahsatu pihak (mengkambinghitamkan), mari kita bersama-sama saling mengkoreksidiri. Sudah tepatkah apa yang selama ini kita lakukan? Apa dampak dari tindakan yang kita lakukan? Dengan demikian jika dari masing-masing kita merevleksi diri kita harapkan akan memunculkan kesadaran bersama-sama akan pentingnya nilai-nilai yang telah lebih dahulu ada, mempertahankan dan mengembangkannya. Sehingga bangsa kita akan tumbuh kembang semakin kuat ditengah kancah globalisasi. Amin.
Minggu, 26 Juli 2009
EMPAT TINGKATAN GOLONGAN MASYARAKAT DALAM AGAMA BRAHMA
Agama Brahma dinusantara berkembang dengan pesatnya melalui jalur-jalur perdagangan dan berkembangsubur melalui Bandar-bandar perdagangan. Rempah-rempah, beras, emas, intan, kapur barus dll pada abad ke-7 dan 8 merupakan magnet paling kuat yang menarik para saudagar dari negeri timur jauh seperti India untuk melakukan perdagangan dengan para pedagang di Nusantara. Sebutlah Bandar-bandar besar seperti kota Malaka, Sumatra, Jawa, kalimantan, dan Sulawesi. Saat itu muncul Bandar-bandar dagang besar seperti Sriwijaya, Tulang Bawang, Melayu, Demak, dll.
Selain melakukan perdagangan para saudagar tersebut juga melakukan misi penyebaran agama baik melaui dakwah maupun dengan melalui perkawinan. Mereka melakukannya dengan jalan damai dengan melakukan dakwah kepada para pemimpin kerajaan seperti raja maka parasaudagartersebut dengan mudah memperoleh pengikut (masyarakat masa itu masih patuh dan taat pada raja).
Tumbuh kembangnya agama Brahma di nusantara memunculkan strata baru dalam masyarakat yang awalnya belum dikenal seperti tingkatan Brahma, Ksatria, Weda, dan Sudra. Namun strata atau yang lebih kita kenal sebagai klas social ini tidak sama persis dengan yang ada di negeri asalnya (India). Strata tersebut telah mengalami akulturasi dengan budaya nusantara. Sehingga pemahaman tingkatan tersebut tidak seketat di negeri asalnya.
Brammana (golongan agamawan) ada dua macam golongan pertapa yang tinggal diluar istana dan yang tinggal di istana sebut saja empu sendok yang hidup pada masa Mataram kuno. Ia sangat berpengaruh di lingkungan kerajaan dan berhasil memindahkan ibukota Mataram Kono ke Kediri tahun 928 Masehi. Ksatria (golongan prajurit) nampak menonjol saat masa jayanya kerajaan Majapahit pada masa Hayam Wuruk dengan patihnya Gadjah Mada tahun 1365 Masehi. Empu Prapanca yang hidup pada masa ini juga sangat berpengaruh. Golongan selanjutnya ialah golongan Weda (Pedagang) dimana golongan ini banyak hidup di daerah2 bandar-bandar perdagangan. Dan golongan terahir Sudra kiranya harus kita bahas lebih mendalam dimana Sudra di Nusantara ini tidak dipahami sebagai golongan Budak namun dipahami sebagai golongan rakyat bias. Bangsa kita tidak mengenal golongan budak.
Walau empat tingkatan itu membatasi secara jelas golongan masyarakat namun tidak sampai mengganggu keharmonisan hubungan dalam bermasyarakat. Bangsa kita hidup bergandengan bahu-membahu dan dalam suasana yang penuh dengan kedamaian. Jadi tidak benar jika ada anggapan bahwa bangsa kita hidup dan suka berperang bahkan barbar. Jelas itu anggapan yang sangat keliru. Justru kehadiran bangsa baratlah sebut portugis, belanda, Ingris, lah yang menanamkan benih2 permusuhan yang saat itu mempunyai kepentingan 3 G (God, Glory, dan gospel) dengan semena-mena dan menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang mereka inginkan.
Selain melakukan perdagangan para saudagar tersebut juga melakukan misi penyebaran agama baik melaui dakwah maupun dengan melalui perkawinan. Mereka melakukannya dengan jalan damai dengan melakukan dakwah kepada para pemimpin kerajaan seperti raja maka parasaudagartersebut dengan mudah memperoleh pengikut (masyarakat masa itu masih patuh dan taat pada raja).
Tumbuh kembangnya agama Brahma di nusantara memunculkan strata baru dalam masyarakat yang awalnya belum dikenal seperti tingkatan Brahma, Ksatria, Weda, dan Sudra. Namun strata atau yang lebih kita kenal sebagai klas social ini tidak sama persis dengan yang ada di negeri asalnya (India). Strata tersebut telah mengalami akulturasi dengan budaya nusantara. Sehingga pemahaman tingkatan tersebut tidak seketat di negeri asalnya.
Brammana (golongan agamawan) ada dua macam golongan pertapa yang tinggal diluar istana dan yang tinggal di istana sebut saja empu sendok yang hidup pada masa Mataram kuno. Ia sangat berpengaruh di lingkungan kerajaan dan berhasil memindahkan ibukota Mataram Kono ke Kediri tahun 928 Masehi. Ksatria (golongan prajurit) nampak menonjol saat masa jayanya kerajaan Majapahit pada masa Hayam Wuruk dengan patihnya Gadjah Mada tahun 1365 Masehi. Empu Prapanca yang hidup pada masa ini juga sangat berpengaruh. Golongan selanjutnya ialah golongan Weda (Pedagang) dimana golongan ini banyak hidup di daerah2 bandar-bandar perdagangan. Dan golongan terahir Sudra kiranya harus kita bahas lebih mendalam dimana Sudra di Nusantara ini tidak dipahami sebagai golongan Budak namun dipahami sebagai golongan rakyat bias. Bangsa kita tidak mengenal golongan budak.
Walau empat tingkatan itu membatasi secara jelas golongan masyarakat namun tidak sampai mengganggu keharmonisan hubungan dalam bermasyarakat. Bangsa kita hidup bergandengan bahu-membahu dan dalam suasana yang penuh dengan kedamaian. Jadi tidak benar jika ada anggapan bahwa bangsa kita hidup dan suka berperang bahkan barbar. Jelas itu anggapan yang sangat keliru. Justru kehadiran bangsa baratlah sebut portugis, belanda, Ingris, lah yang menanamkan benih2 permusuhan yang saat itu mempunyai kepentingan 3 G (God, Glory, dan gospel) dengan semena-mena dan menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang mereka inginkan.
CANDI PRAMBANAN (CP) EKSOTIK, PENUH DENGAN MISTERI (EPDM)
Candi bergaya Hindu satu ini memang sangat pantas menyandang predikat candi bergaya hindu yang paling istimewa dan paling eksotik yang ada di bumi nusantara ini. Betapa tidak dari mulai masuk kawasan candi ini kita seakan di sihir oleh situasi yang mana kita seakan dibawa masuk ke alam abad ke 8 dan 9 Masehi dimana saai itu berdasarkan catatan sejarah merupakan saat dimana agama Hidu dan Buda berkembang pesat di tanah Jawa dengan kerajaan Mataram Kuno sebagai pusat perkembangan.
Sesaat kita masuk komplek Candi Prambanan saat kita menelusuri lorong-lorong jalan yang mengantarkan kita menelusuri peninggalan masa jaya kerajaan Mataram, kita akan melihat komplek candi prambanan yang bergaya hindu, candi sewu yang ber corak Buda, Candi Lumbung bercorak Buda, candi Bubrah. Sungguh pemandangan yang sangat eksotik dimana masyarakat pada masa ini telah mengenal saling menghormati antara pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya. Cermin keluhuran budi dari para pendahulu negeri ini betapa tidak candi pada masa itu adalah tempat suci bagi umat hindu dan buda. Ada yang sebagai tempat persembahyangan dean bahkan ada juga sebagai tempat menguburkan abu jenazah raja yang telah mangkat.
Setelah kita masuk di kompleks candi Prambanan kita akan melihat tiga buah candi utama Wisnu, Siwa, dan Brahma dan 3 buah candi pewara. dan puluhan candi kecil yang belum dapat direkonstruksi sampai sekarang. Candi prambanan terbagi dalam tiga ruangan. Pertama ialah latar, Candi pendamping, dan yang terahir ialah candi induk atau candi utama. Sekarang kitahanya bias melihat candi induknya saja karena latar sudah tidak dapat kita kenali lagi dan keberadaan candi kecilpun sampai sekarang belum dapat direkonstruksi. Walau keberadaan candi sudah tidak seperti sediakala candi Prambanan masih tetap menawan dan takakan lekang dimakan zaman.
Candi terbesar adalah Candi Wisnu. Candi ini memiliki empat pintu, empat bilik dan setiap bilik terdapat patung yang masing-masing menggambarkan keistimewaan dari sang Wisnu. Ada patung ganesa (Ilmu pengetahuan) ada Siwa, ada Durga dan ada sang pendeta. Patung-patung dewa tersebut selain memiliki makna filosofis juga memiliki makna histories. Betapa tidak candi ini dan dua candi induk lainnya merupakan symbol dimana agama hindu yang verkembang saat itu ialah agama Brahma dimana dalam ajaran Brahma dikenal 3 dewa utama yaitu Brahma(Dewa yang menjelmakan semesta alam), Dewa Wisnu (Dewa yang memiliki sifat menjaga), dan dewa Siwa (Dewa yang memiliki sifat merusak).
Disetiap lorong-lorong candi baik Siwa, Brahma, dan Wisnu terdapat relief yang menceritakan kisah Rama Sinta. Relief yang dimulai dari candi Siwa ini menceritakan keadaan negara Astinapura, yang dalam perjalanannya digoda oleh para raksasa pimpinan dari Rahwana. Kisah Rama Sinta ini berahir di candi Brahma dimana Rama beserta pasukan kera pimpinan Hanoman berhasil mengalahkan Rahwana di kerajaannya Alengka. Dan berhasil membawa pulang Sinta ke Astinapura. Sedangkan di Candi Wisnu juga terdapat relief yang menceritakan kisah perjalanan sepiritual sang wisnu.
Tidak hanya berhenti disana keeksotikan Prambanan dari pembangunan candi nampak luar adalah mencerminkan keluhuran budi dari masyarakat nusantara kita dari atas sampai bawah bangunan mencerminkan perpaduan gaya bangunan candi Buda dan Hindu. Disana nampak beberapa patung burung kinara dan kenari yang divisualisasikan bersama pohon beringin dimana melambangkan keseimbangan alam. Pelajaran yang begitu berharga yang hendak disampaikan para pendahulu kita.
Sekaranglah saatnya untuk kita generasi muda menghayati nilai-nilai adiluhung yang telah di ajarkan baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagaimana ajaran nilai-nilai yang ada di Prambanan keeksotikan dan misteri yang ada harus kita tempatkan tepat pada tempatnya sehingga usaha kita untuk membina kehidupan yang lebih bermakna untuk mengarungi perubahan dan tantangan zaman yang semakin kompleks dan beraneka semakin menuai hasil yang positif. Amin.
Yogyakarta, 26 Juli 2009
Sesaat kita masuk komplek Candi Prambanan saat kita menelusuri lorong-lorong jalan yang mengantarkan kita menelusuri peninggalan masa jaya kerajaan Mataram, kita akan melihat komplek candi prambanan yang bergaya hindu, candi sewu yang ber corak Buda, Candi Lumbung bercorak Buda, candi Bubrah. Sungguh pemandangan yang sangat eksotik dimana masyarakat pada masa ini telah mengenal saling menghormati antara pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya. Cermin keluhuran budi dari para pendahulu negeri ini betapa tidak candi pada masa itu adalah tempat suci bagi umat hindu dan buda. Ada yang sebagai tempat persembahyangan dean bahkan ada juga sebagai tempat menguburkan abu jenazah raja yang telah mangkat.
Setelah kita masuk di kompleks candi Prambanan kita akan melihat tiga buah candi utama Wisnu, Siwa, dan Brahma dan 3 buah candi pewara. dan puluhan candi kecil yang belum dapat direkonstruksi sampai sekarang. Candi prambanan terbagi dalam tiga ruangan. Pertama ialah latar, Candi pendamping, dan yang terahir ialah candi induk atau candi utama. Sekarang kitahanya bias melihat candi induknya saja karena latar sudah tidak dapat kita kenali lagi dan keberadaan candi kecilpun sampai sekarang belum dapat direkonstruksi. Walau keberadaan candi sudah tidak seperti sediakala candi Prambanan masih tetap menawan dan takakan lekang dimakan zaman.
Candi terbesar adalah Candi Wisnu. Candi ini memiliki empat pintu, empat bilik dan setiap bilik terdapat patung yang masing-masing menggambarkan keistimewaan dari sang Wisnu. Ada patung ganesa (Ilmu pengetahuan) ada Siwa, ada Durga dan ada sang pendeta. Patung-patung dewa tersebut selain memiliki makna filosofis juga memiliki makna histories. Betapa tidak candi ini dan dua candi induk lainnya merupakan symbol dimana agama hindu yang verkembang saat itu ialah agama Brahma dimana dalam ajaran Brahma dikenal 3 dewa utama yaitu Brahma(Dewa yang menjelmakan semesta alam), Dewa Wisnu (Dewa yang memiliki sifat menjaga), dan dewa Siwa (Dewa yang memiliki sifat merusak).
Disetiap lorong-lorong candi baik Siwa, Brahma, dan Wisnu terdapat relief yang menceritakan kisah Rama Sinta. Relief yang dimulai dari candi Siwa ini menceritakan keadaan negara Astinapura, yang dalam perjalanannya digoda oleh para raksasa pimpinan dari Rahwana. Kisah Rama Sinta ini berahir di candi Brahma dimana Rama beserta pasukan kera pimpinan Hanoman berhasil mengalahkan Rahwana di kerajaannya Alengka. Dan berhasil membawa pulang Sinta ke Astinapura. Sedangkan di Candi Wisnu juga terdapat relief yang menceritakan kisah perjalanan sepiritual sang wisnu.
Tidak hanya berhenti disana keeksotikan Prambanan dari pembangunan candi nampak luar adalah mencerminkan keluhuran budi dari masyarakat nusantara kita dari atas sampai bawah bangunan mencerminkan perpaduan gaya bangunan candi Buda dan Hindu. Disana nampak beberapa patung burung kinara dan kenari yang divisualisasikan bersama pohon beringin dimana melambangkan keseimbangan alam. Pelajaran yang begitu berharga yang hendak disampaikan para pendahulu kita.
Sekaranglah saatnya untuk kita generasi muda menghayati nilai-nilai adiluhung yang telah di ajarkan baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagaimana ajaran nilai-nilai yang ada di Prambanan keeksotikan dan misteri yang ada harus kita tempatkan tepat pada tempatnya sehingga usaha kita untuk membina kehidupan yang lebih bermakna untuk mengarungi perubahan dan tantangan zaman yang semakin kompleks dan beraneka semakin menuai hasil yang positif. Amin.
Yogyakarta, 26 Juli 2009
Minggu, 19 Juli 2009
JABATAN MENTRI
Mentri Koordinator Bidang Politik Hukum, dan Keamanan
(MENKO POLHUKAM)
No Nama Jabatan Masa bakti
1. Maraden Panggabean, Jend. Menko Polkam 1973-1978
2. Surono, Jend. Menko Polkam 1978-1982
3. Sudomo, Marsekal Menko Polkam 1982-1987
4. Susilo Sudarman, Jend. Menko Polkam 1987-1998
5. Feisal Tanjung, Jend. Menko Polkam 1998-2000
6. Wiranto, Jend. Menko Polkam 2000-2001
7. Susilo B. Yudhoyono, Jend. Menko Polkam 2001-2004
8. Widodo Aji Sucipto Menko Polkam 2004-Sekarangs
Sumber: (Almanak Negara Indonesia, Buku Pintar Master, Editor H.M. Iwan Gayo, Pustaka Warga Negara; Jakarta 2005. hlm. 79)
(MENKO POLHUKAM)
No Nama Jabatan Masa bakti
1. Maraden Panggabean, Jend. Menko Polkam 1973-1978
2. Surono, Jend. Menko Polkam 1978-1982
3. Sudomo, Marsekal Menko Polkam 1982-1987
4. Susilo Sudarman, Jend. Menko Polkam 1987-1998
5. Feisal Tanjung, Jend. Menko Polkam 1998-2000
6. Wiranto, Jend. Menko Polkam 2000-2001
7. Susilo B. Yudhoyono, Jend. Menko Polkam 2001-2004
8. Widodo Aji Sucipto Menko Polkam 2004-Sekarangs
Sumber: (Almanak Negara Indonesia, Buku Pintar Master, Editor H.M. Iwan Gayo, Pustaka Warga Negara; Jakarta 2005. hlm. 79)
MENTRI-MENTRI PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA
1. Ki Hadjar Dewantara Lahir di Jogjakarta 2 Mei 1889-26 April 1959
a. Mentri pengajaran, Kabinet Presidentil. Periode 19 Agustus 1945-14 November 1945
2. Dr. Mr. T.S. G. Mulia (1896-1969)
a. Mentri Pengajaran Kabinet Sjahrir I Periode 14 November 1945-12 Maret 1946
b. Mentri Muda Pengajaran , Kabinet Sjahrir II Periode 12 Maret 1946-2 Oktober 1946
3. Muhammad Sjafei (21 Januari 1896-11 November 1966)
a. Mentri Pengajaran, kabinet Syahrir II Periode 12 Maret 1946-2 Oktober 1946.
4. Wikana
a. Mentri negara Urusan Pemuda, Kabinet Sjahrir II, Periode 29 Juni-2 Oktober 1946
b. Mentri negara Urusan pemuda, kabinet Sjahrir III Periode 2 Oktober 1946-27 Juni 1947
c. Mentri Negara Urusan Pemuda, Kabinet Amir Sjarifudin I Periode 3 Juli-11 November 1947
d. Mentri Negara Urusan Pemuda, kabinet amir sarifudin II, Periode 11 November 1947-29 Januari 1948
5. Mr. Suwandi (Surakarta, Oktober 1899-6 Maret 1964)
a. Mentri Pengajaran, Kabinet Sjahris III Periode 2 Oktober 1946-27 Juni 1947
6. Ir. R. Gunarso (Ponorogo, 22 Oktober 1908)
Mentri Muda Pengajaran , Kabinet Sjahrir III Periode 2 Oktober 1946-27 Juni 1947
7. Mr. Ali Sastroamidjojo (Grabag, 21 Mei 1903-13Maret 1976
a. Mentri Pengajaran, Kabinet Amir Syarifudin I- Periode 3 Juli 1947-11 November 1947
b. Mentri Pengajaran , Kabinet Amissyarifuddin II Periode 11 November 1947-29 Januari 1948
c. Mentri PP dan K, Kabinet Hatta I- Periode 29 Januari 1948-4 Agustus 1949
a. Mentri pengajaran, Kabinet Presidentil. Periode 19 Agustus 1945-14 November 1945
2. Dr. Mr. T.S. G. Mulia (1896-1969)
a. Mentri Pengajaran Kabinet Sjahrir I Periode 14 November 1945-12 Maret 1946
b. Mentri Muda Pengajaran , Kabinet Sjahrir II Periode 12 Maret 1946-2 Oktober 1946
3. Muhammad Sjafei (21 Januari 1896-11 November 1966)
a. Mentri Pengajaran, kabinet Syahrir II Periode 12 Maret 1946-2 Oktober 1946.
4. Wikana
a. Mentri negara Urusan Pemuda, Kabinet Sjahrir II, Periode 29 Juni-2 Oktober 1946
b. Mentri negara Urusan pemuda, kabinet Sjahrir III Periode 2 Oktober 1946-27 Juni 1947
c. Mentri Negara Urusan Pemuda, Kabinet Amir Sjarifudin I Periode 3 Juli-11 November 1947
d. Mentri Negara Urusan Pemuda, kabinet amir sarifudin II, Periode 11 November 1947-29 Januari 1948
5. Mr. Suwandi (Surakarta, Oktober 1899-6 Maret 1964)
a. Mentri Pengajaran, Kabinet Sjahris III Periode 2 Oktober 1946-27 Juni 1947
6. Ir. R. Gunarso (Ponorogo, 22 Oktober 1908)
Mentri Muda Pengajaran , Kabinet Sjahrir III Periode 2 Oktober 1946-27 Juni 1947
7. Mr. Ali Sastroamidjojo (Grabag, 21 Mei 1903-13Maret 1976
a. Mentri Pengajaran, Kabinet Amir Syarifudin I- Periode 3 Juli 1947-11 November 1947
b. Mentri Pengajaran , Kabinet Amissyarifuddin II Periode 11 November 1947-29 Januari 1948
c. Mentri PP dan K, Kabinet Hatta I- Periode 29 Januari 1948-4 Agustus 1949
Langganan:
Postingan (Atom)