Minggu, 11 Juli 2010

Pendidikan Karakter

Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan.

Lebih dari itu, pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède, Ovide Decroly, Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi.

Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual, bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte.

Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.



Empat karakter

Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.

Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang.

Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.

Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya.



Pengalaman Indonesia

Di tengah kebangkrutan moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atas retorika politik, dan perilaku keseharian, pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius menjadi relevan untuk diterapkan.

Pendidikan karakter ala Foerster yang berkembang pada awal abad ke-19 merupakan perjalanan panjang pemikiran umat manusia untuk mendudukkan kembali idealisme kemanusiaan yang lama hilang ditelan arus positivisme. Karena itu, pendidikan karakter tetap mengandaikan pedagogi yang kental dengan rigorisme ilmiah dan sarat muatan puerocentrisme yang menghargai aktivitas manusia.

Tradisi pendidikan di Indonesia tampaknya belum matang untuk memeluk pendidikan karakter sebagai kinerja budaya dan religius dalam kehidupan bermasyarakat. Pedagogi aktif Deweyan baru muncul lewat pengalaman sekolah Mangunan tahun 1990-an.

Kebiasaan berpikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi juga belum menjadi habitus. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan. Mereka membuat anak didik menjadi beo yang dalam setiap ujian cuma mengulang apa yang dikatakan guru.



Loncatan sejarah

Apakah mungkin sebuah loncatan sejarah dapat terjadi dalam tradisi pendidikan kita? Mungkinkah pendidikan karakter diterapkan di Indonesia tanpa melewati tahap-tahap positivisme dan naturalisme lebih dahulu?

Pendidikan karakter yang digagas Foerster tidak menghapus pentingnya peran metodologi eksperimental maupun relevansi pedagogi naturalis Rousseauian yang merayakan spontanitas dalam pendidikan anak-anak. Yang ingin ditebas arus ”idealisme” pendidikan adalah determinisme dan naturalisme yang mendasari paham mereka tentang manusia.

Bertentangan dengan determinisme, melalui pendidikan karakter manusia mempercayakan dirinya pada dunia nilai (bildung). Sebab, nilai merupakan kekuatan penggerak perubahan sejarah. Kemampuan membentuk diri dan mengaktualisasikan nilai-nilai etis merupakan ciri hakiki manusia. Karena itu, mereka mampu menjadi agen perubahan sejarah.

Jika nilai merupakan motor penggerak sejarah, aktualisasi atasnya akan merupakan sebuah pergulatan dinamis terus-menerus. Manusia, apa pun kultur yang melingkupinya, tetap agen bagi perjalanan sejarahnya sendiri. Karena itu, loncatan sejarah masih bisa terjadi di negeri kita. Pendidikan karakter masih memiliki tempat bagi optimisme idealis pendidikan di negeri kita, terlebih karena bangsa kita kaya akan tradisi religius dan budaya.

Manusia yang memiliki religiusitas kuat akan semakin termotivasi untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat, bertanggung jawab atas penghargaan hidup orang lain dan mampu berbagi nilai-nilai kerohanian bersama yang mengatasi keterbatasan eksistensi natural manusia yang mudah tercabik oleh berbagai macam konflik yang tak jarang malah mengatasnamakan religiusitas itu sendiri.

Doni Koesoema, A, Mahasiswa Jurusan Pedagogi Sekolah dan Pengembangan Profesional Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Kepausan Salesian, Roma
sumber:
http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/pendidikan/umum1.htm

Kamis, 01 Juli 2010

Candi Banyu nibo





Beautifully carved double makara-motif is above the niche which frames a seated female deity. Three stone oxen stand in a row. You can see the spaces where the most important sculpture has been robbed. Most of the roof is missing. A statue of a goddess points of Java's ancient links with Ceylon, some believe, in its strong facial and bodily form, very reminiscent of India. An almost duplicate goddess can be found in a niche above the entrance of the House of Pilgrims behind the Temple of the Tooth in Kandy, Sri Lanka.
sumber:
http://www.borobudurpark.co.id/en-banyunibo.html
foto: Rahmat s

peninggalan sejarah


Mengapa banyak peninggalan sejarah baik pra dan masa hindu Buddha di Indonesia benayak ditemukan tidak utuh...?
Topografi wilayah Indonesia mulai dari letak astronomisnya antara 6 derajat 08' LU- 11derajat 15 'LS dan antara 94 derajat 45 ' BT-141derajat 05'BT. Maka kondisi geografis Indonesia antara beriklim tropis dengan ciri-ciri curah hujan tinggi rata-rata kurang lebih 2000mm/tahun, temperatur udara rata-rata sepanjang tahun rata-rata 26 derajat. Batuan-batuan akan cepat mengalami pelapukan, tumbuh suburnya berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Indonesia memiliki kebudayaan yang bersifat tropis karena memang indonesia beriklim tropis :), bentuk kebudayaan ini bisa kita lihat dari bentuk rumah, cara berpakaian, matapencaharian dan juga cara pandang.
Selain faktor kondisi geografis faktor manusia ternyata sangat besar pengaruhnya. LIhat dan perhatikan secara seksama UUCB tahun 1992 di adakan tidaklain untuk melindungi BCB yang ada di Indonesia dari pengaruh negatif Manusia :). Selain itu juga terdapat tata cara pelestarian BCB disana.
Bagaimana sikap kita setelah tahu ini semua? apakah kita mau untuk selalu mengingat? Ya mengingat masalalu? untuk kita pelajari, kita gunakan untuk kesejah teraaan kehidupan kita sekarang? dan juga untuk kita proyeksikan kedepan menghadapi kejamnya globalisasi terhadap kebudayaan Indonesia?? semuanya berpulang pada kita semua sebagai generasi penerus bangsa.

Selasa, 29 Juni 2010

Diprotes, Bangunan Tua di Jogja Dijadikan Resto Cepat Saji


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Swadaya Masyarakat Madya yang aktif dalam pelestarian bangunan warisan dan cagar budaya memprotes pembongkaran sebuah bangunan kuno di Jalan Jenderal Sudirman yang rencananya akan dibangun sebuah rumah makan cepat saji.

"Ada bagian bangunan kuno tersebut yang dibongkar untuk kepentingan pembangunan rumah makan cepat saji. Kami meminta agar pembongkaran itu dihentikan sementara waktu sambil menunggu hasil dialog lebih lanjut," kata Ketua LSM Madya Johanes Marbun di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, pihaknya tidak menentang adanya alih fungsi bangunan kuno, namun alih fungsi yang dilakukan tidak harus mengubah kondisi fisik bangunan.

Pihak pembangun, lanjut dia, harus tetap memperhatikan nilai-nilai budaya, sejarah, arsitektur dan ilmu pengetahuan dari setiap bangunan warisan atau cagar budaya yang akan dialihfungsikan.

"Kami bukan hanya ingin menyelamatkan fisik bangunannya saja, tetapi juga nilai-nilai budaya dan kesejarahan yang menyertainya, sehingga masyarakat tidak akan lupa," katanya.

Ia juga menyayangkan, pembongkaran bangunan kuno tersebut sudah mendapatkan rekomendasi dari Dewan Pertimbangan Pelestarian Warisan Budaya (DPPWB) Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

"Dengan adanya pembongkaran ini, kami menilai bahwa pemerintah sepertinya tidak memiliki konsep yang jelas dalam pelestarian bangunan warisan atau cagar budaya," katanya, sambil menyebutkan bahwa tata ruang di kawasan tersebut masuk dalam kawasan cagar budaya Kotabaru.

Gedung di Jalan Jenderal Sudirman tersebut sebelumnya digunakan sebagai kantor pelayanan pelanggan sebuah provider telepon selular namun kemudian kosong sejak Mei 2009.

Sementara itu, Kepala Seksi Pembinaan dan Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Widyastuti menyatakan, pembongkaran tersebut telah mendapatkan rekomendasi dari DPPWB Dinas Kebudayaan DIY, dengan syarat pembongkaran dan rehabilitasi harus sesuai dengan bentuk aslinya.

"Gedung tersebut belum termasuk dalam bangunan cagar budaya atau warisan budaya. Bangunan itu baru masuk dalam daftar verifikasi calon bangunan warisan budaya Kota Yogyakarta pada tahun ini," katanya.

Sedangkan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta Aman Yuriadijaya menyatakan belum memperoleh informasi terkait pembongkaran bangunan kuno tersebut dari Dinas Perizinan. "Akan kami koordinasikan dulu dengan Dinas Perizinan tentang masalah ini, sehingga belum dapat berkomentar lebih jauh," lanjutnya.

Ia menyatakan, berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2010 tentang rencana tata ruang dan wilayah (RTRW), terdapat pembagian citra kota yang mencerminkan karakter wilayah sesuai dengan bentuk arsitektur bangunan, aktifitas dan fungsi.

"Sampai sekarang rinciannya belum ada. Rencana secara rinci tentang tata ruang kota baru akan kami selesaikan pada 2011," katanya.
sumber:
http://properti.kompas.com/read/2010/06/16/17240549/Diprotes..Bangunan.Tua.di.Jogja.Dijadikan.Resto.Cepat.Saji

Terancam Dibongkar


JOGJA - Terbukti, pengembang selalu mengantongi surat rekomendasi membongkar bangunan itu. ’’Pemerintah, dalam hal ini Pemkot Jogja tak memiliki konsep jelas soal kawasan budaya seperti di Kotagede dan Kotabaru,’’ kata Koordinator Madya Jhohanes Marbun, kemarin (16/6).
Marbun mengatakan, bangunan di Kotabaru yang diklaim sebagai kawasan budaya tak bisa mengalami perubahan. Terutama, pada bentuk arsitektur yang memiliki citra khusus cermin dari budaya di kawasan tersebut pada masa lampau.
’’Masyarakat yang melewati Kotabaru pasti tahu jika kawasan tersebut sebelumnya merupakan kawasan yang ditinggali Belanda. Ini sudah menjadi citra dari kawasan tersebut,’’ tandas arkeolog ini. Ia mengatakan, pembongkaran terhadap bangunan warisan budaya tersebut menjadi indikasi ketiadaan konsep yang jelas.
Dari advokasi yang pernah dilakukan Madya terhadap Mardi Wuto dan bangunan bekas kantor Grapari Telkomsel di Jalan Sudirman, pengembang mengantongi rekomendasi dari Dinas Kebudayaan DIJ.
’’Saya merasa keinginan pemkot melestarikan bangunan-bangunan warisan budaya tidak dikomunikasikan dengan baik dengan instansi pemerintah terkait lain. Ini yang membuat pengembang di kedua bangunan tersebut merasa apa yang dilakukan saat ini tidak melanggar. Malah mendapat restu dari pemerintah,’’ sesalnya.
Kotabaru merupakan sebuah kawasan yang ditetapkan dalam Perda No. 2 tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Jogja sebagai kawasan budaya. Sesuai perda tersebut, setiap bangunan di kawasan yang arsitekturnya bergaya Eropa itu, jika dipugar harus mengikuti ketentuan yang berlaku.
Seperti telah diketahui, di kawasan Kotabaru ini ada dua bangunan yang dianggap kaum pelestari warisan budaya telah dibongkar. Pertama, terjadi Mei silam di belakang RS Mata Dr Yap atau sering disebut Mardi Wuto. Bangunan yang menjadi cikal bakal pelatihan kaum difabel tunanetra ini tak mampu harus diruntuhkan dan akan diganti dengan pusat perbelanjaan.
Belum usai pro dan kontra Mardi Wuto, satu bangunan yang berumur lebih dari 50 tahun yakni bekas kantor Grapari Telkomsel juga akan dibongkar. Senin lalu (14/6), Madya bersama pemerhati warisan budaya melakukan negosiasi dengan pengembang. Hasilnya, aktivitas pembongkaran diberhentikan sementara sambil menunggu diskusi dengan seluruh kaum pemerhati budaya dan pemerintah.
’’Sebenarnya masih ada salah satu bangunan yang juga menjadi warisan budaya di Jalan Mas Suharto No. 46 yang dibongkar,’’ imbuhnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja Aman Yuriadjaya mengakui Kotabaru masuk sebagai kawasan budaya yang disahkan di Perda RTRW. Hanya, belum ada ketentuan soal pembongkaran sebuah bangunan. Detailnya masih dibahas di DPRD Kota Jogja dan eksekutif untuk disahkan menjadi perda.
’’Hal tersebut sedang kami kaji yang melibatkan pemangku kepentingan di sana dalam Raperda Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTRK). Prosesnya sudah mencapai 50 persen. Termasuk kajian terhadap kawasan Kotabaru,’’ ujar Aman.
Kepala Seksi Pelestarian Nila-Nilai Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Jogja Widiastuti menolak jika bangunan di Jalan Jenderal Sudirman diklaim sebagai BCB dan BWB. Dari catatan Disparbud, bangunan tersebut sedang diusulkan bersama 200 bangunan lain.
’’Yang kami ketahui, proses pembongkaran bangunan tersebut sudah mengantongi izin dari DP2WB (Dewan Pertimbangan Pelestarian dan Warisan Budaya) Dinas Kebudayaan DIJ. Jadi tidak ada masalah jika proses pemugaran dilakukan. Karena setiap rekomendasi pasti ada arahan bangunan apa yang harus disisakan, bentuknya seperti apa, dan hal lain yang mendasar,’’ katanya. (eri)
sumber:
http://www.radarjogja.co.id/berita/utama/8384-terancam-dibongkar.html

Senin, 21 Juni 2010

Benda cagar budaya di DIY

Yuwono Sri Suwito
“Bangunan Tambahan harus dibongkar”
KR, Sabtu 19 Juni 2010
Benda cagar budaya (BCB) di DIY membutuhkan penanganan serius. Namun dilapangan masih ada masyarakat yang memiliki anggapan keliru terhadap makna kelestarian BCB. Akibatnya saat pembongkaran bangunan, mereka beranggapan telah terjadi perusakan BCB. Padahal untuk mengembalikan bangunan ke bentuk aslinya atau menguatkan karakter bangunan asli terkadang ada bangunan tambahan yang harus dibongkar.
“saya ingin menegaskan bahwa keberadaan dewan pertimbangan pelestarian warisan budaya (DP2WB)
Dalam memberikan rekomendasi tidak hanya membolehkan atau melarang suatu bangunan dibongkar (direnovasi), tetapi juga merekomendasikan bagaimana sebaiknya bangunan tersebut dibangun, ‘papar ketua DP2WB DIY Ir. Yuwono Sri Suwito MM, didampingi Kabid Sejarah Purbakala dan Museum Tri Rubiyanto SE MSi dan Kasi Purbakala Dra. Riharyani saat bersilaturahmi dengan direktur utama PT BP kedaulatan Rakyat, Drs. HM Romli, Jum’at (18/6).

Senin, 22 Maret 2010

KRISIS PSIKOLOGIS SUDAH MEMUNCAK

Berbagai krisis yang berkaitan dengan psikologi masyarakat, sudah memuncak dan dikawatirkan akan menjadi petaka dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jika hal ini dibiarkan terus menerus bukan tidak mungkin kekawatiran ini akan terjadi. Bermula dari krisis Jatidiri, kemudian merembet menjadi krisis Ideologi, dan berlanjut ke krisisi Karakter dan mencapai puncak pada krisis kepercayaan.
Hal ini terlontar pada acara temu Ilmiah dan kongres Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) XI di hotel Sunan Solo. Wakil Gubernur jawatengah menyatakan bahwa kemunculan berbagai macam krisis ini tidak lain karena dipengaruhi oleh hiruk-pikuknya kejiwaan masyarakat akibat gempuran aneka sisi kehidupan baik sosial, politik, komunikasi dan juga modernitas yang sangat melelahkan jiwa. Hal ini termanivestasikan kedalam bentuk sikap dan prilaku, seperti bagaimana dia tidak paham akan dirinya sendiri. Sebagai contoh orang yang mengaku warga Jawa Tengah tetapi dalam kehidupan kesehariannya tidak mencerminkan sikap dan prilaku warga Jawatengah yang sarat akan nilai, dan etika yang harusnya dipegang teguh. Menurut belio krisis ini telah merembet menjadi krisisi Ideologi, dimana dapat kita lihat dari sikap dan prilaku sebagian masyarakat yang tidak pernah sabar dalam menghadapi persoalan, mau menang sendiri tanpa memperhatikan kepentingan yang lebih besar.