Roma - Kolektor benda seni menemukan satu gigi, jempol dan jari ilmuwan Italia Galileo Galilei. Bagian tubuh ini dipotong dari jenazah Galileo saat pemakaman.
Penemuan gigi, jempol dan jari itu diumumkan Museum Sains dan Sejarah Florence seperti yang dilansir dari Reuters, Sabtu (21/11/2009).
Bagian tubuh Galileo, bersama dengan jari lain dan sebuah tulang belakang, dipotong dari jenazah Galileo saat upacara pemakaman pada 95 tahun setelah kematiannya pada 1642 oleh beberapa ilmuwan dan sejarahwan.
Adalah seorang ilmuwan sejarah Giovanni Targioni Tozzetti yang memotong bagian itu dan menulis tentang upacara pemakaman mengakui susah melawan godaan untuk tidak membawa tengkorak Galileo yang super jenius itu.
Relik gigi dan jari itu telah berpindah-pindah dari satu kolektor ke kolektor lain sampai hilang jejaknya pada tahun 1905. Sementara sisa-sisa jari dan tulang belakang lainnya telah diawetkan sejak 1737 dalam mumifikasi di Florence dan Padua.
Jari-jari dan gigi itu dibeli seorang kolektor yang tak diketahui namanya saat pelelangan yang diadakan baru-baru ini. Relik Galileo itu terjual sebagai artefak yang tak terindentifikasi dalam peti abad ke 17.
"Semua materi organik diambil dari jenazah (Galileo) dan sekarang telah diidentifikasi dan dikonservasi di tangan yang bertanggung jawab. Dalam dokumentasi sejarah, tidak ada keraguan lagi tentang keaslian benda itu," imbuh museum Sains dan Sejarah Florence itu.
Dan relik itu akan dipamerkan pada awal 2010, di mana museum akan dibuka kembali setelah renovasi dan diganti namanya menjadi Museum Galileo.
Galileo, lahir di Pisa, Italia pada tahun 1564 dianggap bapak ilmu pengetahuan modern karena penelitiannya di bidang fisika, matematika, astronomi hingga penemuan terbesarnya, teleskop.
Selama 95 tahun setelah kematiannya, pada 1642 Galileo ditolak otoritas Gereja untuk dimakamkan di Basilika Santa Croce karena pemikirannya bertentangan dengan gereja. Pada tahun 1737 tulang belulangnya dimakamkan ulang di Gereja Santa Croce Florence, di depan makam pelukis Michelangelo.
(nwk/nwk)
di copy dari:
http://www.detiknews.com
Sabtu, 21/11/2009 05:45 WIB
Jumat, 20 November 2009
Hobbit Flores, Spesies Baru Hominin
TEMPO Interaktif, Jakarta - Debat tentang fosil Manusia Flores, Homo floresiensis, sering disebut juga dengan hobbit Flores, masih terus berlangsung. Selama ini ada dua arus pendapat. Pertama, yang menganggap Homo floresiensis sebagai spesies baru dari hominin, sering disebut Hobbit, pendapat ini dimotori oleh para peneliti dari Australia, seperti antropolog Peter Brown, Michael Morwood, dan para koleganya.
Pendapat kedua mengatakan, Homo floresiensis bukan merupakan spesies baru, tetapi merupakan bagian dari spesies manusia modern dari bangsa Homo erectus yang menderita sindroma kekerdilan dan penyakit microchepaly, --penyakit yang menyebabkan pengerdilan volume otak dan ukuran tubuh, pendapat ini dimotori Profesor Teuku Jacob dan para koleganya dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Baru-baru ini, para peneliti dari Universitas Medis Stony Brook, New York, Amerika Serikat, mengumumkan hasil penelitiannya terhadap fosil Homo florensiensis yang cenderung mendukung pendapat pertama dan menyimpulkan bahwa fosil itu merupakan spesies manusia kuno baru, atau hobbit, dan kelainan mereka bukan disebabkan oleh suatu penyakit sehingga ukuran tubuhnya menjadi mini.
Dengan menggunakan metode penelitian analisa statistik terhadap kerangka fosil yang ditemukan, para peneliti meyakini Homo floresiensis merupakan sebuah spesies baru dari manusia kuno, atau hobbit, yang bertubuh mini, dan bukan versi manusia modern yang terkena penyakit sehingga tubuhnya menjadi kerdil dan kemudian diturunkan secara genetis. Sehingga Homo floresiensis merupakan generasi manusia yang belum sempurna jika dibandingkan dengan generasi Homo erectus, dan generasi manusia sempurna Homo sapiens yang kini mendiami bumi.
Detail lengkap dari hasil penelitian ini baru akan dipublikasikan dalam Jurnal Significance, terbitan Royal Statistical Society, pada edisi bulan Desember mendatang.
Fosil Homo florensiensis pertama kali ditemukan pada tahun 2003 oleh sekelompok peneliti Australia dan Indonesia, di Liang Bua, Nusa Tenggara Timur. Dari hasil rekonstruksi diketahui fosil ini merupakan kerangka dari manusia yang memiliki tubuh mini, volume otak kecil, dan mirip dengan hominin, yaitu bangsa manusia kuno. Dari uji karbon terhadap fosil temuan, spesies ini diperkirakan hidup di Flores sekitar 18.000 tahun yang lalu. Jika Anda menonton seri film Lord of The Ring, manusia hominin ini disebut dengan hobbit yang bertubuh kecil.
Para peneliti dari Universitas Medis Stony Brook yang dipimpin William Jungers dan Karen Baad melakukan penelitian terhadap kerangka fosil Homo floresiensis berjenis kelamin perempuan yang diberi code LB1 dan diberi nama penelitian 'Little Lady of Flores' atau 'Flo', menyimpulkan fosil itu merupakan spesies hasil evolusi hobbit. Penelitian meliputi fosil bagian tengkorak, rahang, telapak tangan, kaki, dan telapak kaki, yang dibandingkan dengan ukuran fosil-fosil manusia temuan lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan, kapasitas otak LB1 diperkirakan hanya sekitar 400 cm saja, yang sebanding dengan ukuran otak Simpanse atau Siamang berkaki dua di Afrika. Ukuran tengkorak dan tulang rahang Homo floresiensis, juga lebih primitif dari ukuran fosil manusia modern normal yang ditemukan daerah dimanapun.
Temuan fosil Homo floresiensis relatif lengkap, sehingga para ilmuwan dapat melakukan rekonstruksi sosoknya, yang dapat dibandingkan dengan sosok manusia modern. Tulang paha dan tulang betisnya jauh lebih pendek daripada yang dimiliki manusia modern, bahkan jika dibandingkan dengan temuan fosil manusia kerdil serupa di Afrika Tengah, Afrika Selatan, dan manusia kerdil negritto di Kepulauan Andaman dan Filipina.
Sehingga para peneliti berspekulasi ini merupakan bagian dari sebuah rantai evolusi dari bangsa hominid, yang menyebar di berbagai lokasi dunia pada masa lalu. “Sulit dipercaya proses evolusi dipengaruhi juga dengan kemampuan gerak agar lebih ekonomis,” ujar Jungers, “spesies ini mengembangkan paha dan kaki yang lebih pendek, agar dapat berjalan kaki lebih baik dan efektif pada waktu itu.”
Analisis statistik dari Jungers dengan persamaan regresi yang dia kembangkan, menunjukkan rata-rata tinggi Homo floresiensis sekitar 106 cm, jauh lebih pendek dari rata-rata tinggi manusia modern kerdil yang rata-rata memiliki tinggi 150 cm. Rekonstruksi menunjukkan sosok fisik LB1, juga jauh berbeda dengan umumnya orang kerdil serupa yang ditemukan di Asia Tenggara maupun Afrika, baik pada tinggi maupun ukuran tubuh. “Anatomi Homo floresiensis jauh lebih unik daripada anatomi manusia yang terkena penyakit seperti microcephaly dan sindroma kekerdilan,” tegas Dr. Baab.
Debat apakah Homo floresiensis merupakan jenis manusia modern yang menderita penyakit kelainan atau salah satu varian hobbit, tampaknya masih belum akan final. Namun jika Anda ingin mengenal sosoknya, Anda bisa mengunjungi Museum Geologi Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, yang membuat dan memajang patung sosok Hobbit Flores ini didepan museum.
SCIENCEDAILY l WAHYUANA
di copy dari:
http://tempointeraktif.com
Jum'at, 20 November 2009 | 13:51 WIB
Pendapat kedua mengatakan, Homo floresiensis bukan merupakan spesies baru, tetapi merupakan bagian dari spesies manusia modern dari bangsa Homo erectus yang menderita sindroma kekerdilan dan penyakit microchepaly, --penyakit yang menyebabkan pengerdilan volume otak dan ukuran tubuh, pendapat ini dimotori Profesor Teuku Jacob dan para koleganya dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Baru-baru ini, para peneliti dari Universitas Medis Stony Brook, New York, Amerika Serikat, mengumumkan hasil penelitiannya terhadap fosil Homo florensiensis yang cenderung mendukung pendapat pertama dan menyimpulkan bahwa fosil itu merupakan spesies manusia kuno baru, atau hobbit, dan kelainan mereka bukan disebabkan oleh suatu penyakit sehingga ukuran tubuhnya menjadi mini.
Dengan menggunakan metode penelitian analisa statistik terhadap kerangka fosil yang ditemukan, para peneliti meyakini Homo floresiensis merupakan sebuah spesies baru dari manusia kuno, atau hobbit, yang bertubuh mini, dan bukan versi manusia modern yang terkena penyakit sehingga tubuhnya menjadi kerdil dan kemudian diturunkan secara genetis. Sehingga Homo floresiensis merupakan generasi manusia yang belum sempurna jika dibandingkan dengan generasi Homo erectus, dan generasi manusia sempurna Homo sapiens yang kini mendiami bumi.
Detail lengkap dari hasil penelitian ini baru akan dipublikasikan dalam Jurnal Significance, terbitan Royal Statistical Society, pada edisi bulan Desember mendatang.
Fosil Homo florensiensis pertama kali ditemukan pada tahun 2003 oleh sekelompok peneliti Australia dan Indonesia, di Liang Bua, Nusa Tenggara Timur. Dari hasil rekonstruksi diketahui fosil ini merupakan kerangka dari manusia yang memiliki tubuh mini, volume otak kecil, dan mirip dengan hominin, yaitu bangsa manusia kuno. Dari uji karbon terhadap fosil temuan, spesies ini diperkirakan hidup di Flores sekitar 18.000 tahun yang lalu. Jika Anda menonton seri film Lord of The Ring, manusia hominin ini disebut dengan hobbit yang bertubuh kecil.
Para peneliti dari Universitas Medis Stony Brook yang dipimpin William Jungers dan Karen Baad melakukan penelitian terhadap kerangka fosil Homo floresiensis berjenis kelamin perempuan yang diberi code LB1 dan diberi nama penelitian 'Little Lady of Flores' atau 'Flo', menyimpulkan fosil itu merupakan spesies hasil evolusi hobbit. Penelitian meliputi fosil bagian tengkorak, rahang, telapak tangan, kaki, dan telapak kaki, yang dibandingkan dengan ukuran fosil-fosil manusia temuan lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan, kapasitas otak LB1 diperkirakan hanya sekitar 400 cm saja, yang sebanding dengan ukuran otak Simpanse atau Siamang berkaki dua di Afrika. Ukuran tengkorak dan tulang rahang Homo floresiensis, juga lebih primitif dari ukuran fosil manusia modern normal yang ditemukan daerah dimanapun.
Temuan fosil Homo floresiensis relatif lengkap, sehingga para ilmuwan dapat melakukan rekonstruksi sosoknya, yang dapat dibandingkan dengan sosok manusia modern. Tulang paha dan tulang betisnya jauh lebih pendek daripada yang dimiliki manusia modern, bahkan jika dibandingkan dengan temuan fosil manusia kerdil serupa di Afrika Tengah, Afrika Selatan, dan manusia kerdil negritto di Kepulauan Andaman dan Filipina.
Sehingga para peneliti berspekulasi ini merupakan bagian dari sebuah rantai evolusi dari bangsa hominid, yang menyebar di berbagai lokasi dunia pada masa lalu. “Sulit dipercaya proses evolusi dipengaruhi juga dengan kemampuan gerak agar lebih ekonomis,” ujar Jungers, “spesies ini mengembangkan paha dan kaki yang lebih pendek, agar dapat berjalan kaki lebih baik dan efektif pada waktu itu.”
Analisis statistik dari Jungers dengan persamaan regresi yang dia kembangkan, menunjukkan rata-rata tinggi Homo floresiensis sekitar 106 cm, jauh lebih pendek dari rata-rata tinggi manusia modern kerdil yang rata-rata memiliki tinggi 150 cm. Rekonstruksi menunjukkan sosok fisik LB1, juga jauh berbeda dengan umumnya orang kerdil serupa yang ditemukan di Asia Tenggara maupun Afrika, baik pada tinggi maupun ukuran tubuh. “Anatomi Homo floresiensis jauh lebih unik daripada anatomi manusia yang terkena penyakit seperti microcephaly dan sindroma kekerdilan,” tegas Dr. Baab.
Debat apakah Homo floresiensis merupakan jenis manusia modern yang menderita penyakit kelainan atau salah satu varian hobbit, tampaknya masih belum akan final. Namun jika Anda ingin mengenal sosoknya, Anda bisa mengunjungi Museum Geologi Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, yang membuat dan memajang patung sosok Hobbit Flores ini didepan museum.
SCIENCEDAILY l WAHYUANA
di copy dari:
http://tempointeraktif.com
Jum'at, 20 November 2009 | 13:51 WIB
Rabu, 18 November 2009
Kontingen Garuda (Konga)
Italia Kritik Pengusiran Aktivis Greenpeace dan Jurnalis di Riau
TEMPO Interaktif, Milan - Italia mengkritik pengusiran aktivis Greenpeace asal Italia dan seorang jurnalis asal Italia dari Indonesia. Aktivis Greenpeace asal Italia diusir karena berunjuk rasa menolak pembalakan hutan di Semenanjung Kampar, Riau, sedangkan wartawan asal Italia diusir dengan alasan belum melengkapi syarat peliputan.
Pemerintah Indonesia pekan lalu mengumumkan akan mendeportasi beberapa aktivis Greenpeace dari luar Indonesia karena ikut berdemonstrasi di Kampar. Unjuk rasa tersebut digelar untuk menarik perhatian dunia internasional terkait kerusakan hutan di Indonesia menjelang sebuah konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Denmark yang membahas soal iklim.
Menurut AP, Kementerian Luar Negeri Italia secara resmi mengirim surat berisi keluhan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma, Rabu (18/11). Dalam surat tersebut, Italia meminta hak-hak wartawan L'Espresso Raimondo Bultrini dan aktivis Greenpeace Chiara Campione dilindungi.
Greenpeace sebelumnya mengkritik respons pemerintah Italia terkait pengusiran dua warga Italia tersebut.
Greenpeace mulai berunjuk rasa di area lahan Gambut Pelalawan, Riau, Kamis lalu. Namun, unjuk rasa tersebut berakhir ricuh. Polisi pun menangkap 33 aktivis Greenpeace, salah satunya Chiara Campione dari Italia.
Selain itu, polisi menangkap dua jurnalis asing yang hendak menuju Kamp Pembela Iklim Greenpeace di Semenanjung Kampar, Riau. Mereka adalah Raimondo Bultrini dari L'Espresso, Italia, dan Kumkum Dasgupta dari Hidustan Times, India. Kepala Kepolisian Resor Pelalawan Ajun Komisaris Ary Rachman mengatakan kedua jurnalis itu belum melengkapi sejumlah syarat melakukan peliputan seperti surat dari Departemen Komunikasi dan Informatika, Markas Besar Polri, dan lainnya.
dicopy dari:
http://www.tempointeraktif.com
Kamis, 19 November 2009 | 07:33 WIB
THE AGE| KODRAT SETIAWAN
Pemerintah Indonesia pekan lalu mengumumkan akan mendeportasi beberapa aktivis Greenpeace dari luar Indonesia karena ikut berdemonstrasi di Kampar. Unjuk rasa tersebut digelar untuk menarik perhatian dunia internasional terkait kerusakan hutan di Indonesia menjelang sebuah konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Denmark yang membahas soal iklim.
Menurut AP, Kementerian Luar Negeri Italia secara resmi mengirim surat berisi keluhan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma, Rabu (18/11). Dalam surat tersebut, Italia meminta hak-hak wartawan L'Espresso Raimondo Bultrini dan aktivis Greenpeace Chiara Campione dilindungi.
Greenpeace sebelumnya mengkritik respons pemerintah Italia terkait pengusiran dua warga Italia tersebut.
Greenpeace mulai berunjuk rasa di area lahan Gambut Pelalawan, Riau, Kamis lalu. Namun, unjuk rasa tersebut berakhir ricuh. Polisi pun menangkap 33 aktivis Greenpeace, salah satunya Chiara Campione dari Italia.
Selain itu, polisi menangkap dua jurnalis asing yang hendak menuju Kamp Pembela Iklim Greenpeace di Semenanjung Kampar, Riau. Mereka adalah Raimondo Bultrini dari L'Espresso, Italia, dan Kumkum Dasgupta dari Hidustan Times, India. Kepala Kepolisian Resor Pelalawan Ajun Komisaris Ary Rachman mengatakan kedua jurnalis itu belum melengkapi sejumlah syarat melakukan peliputan seperti surat dari Departemen Komunikasi dan Informatika, Markas Besar Polri, dan lainnya.
dicopy dari:
http://www.tempointeraktif.com
Kamis, 19 November 2009 | 07:33 WIB
THE AGE| KODRAT SETIAWAN
Presiden: Jangan Paksa Saya Ambil Langkah di Luar Kewenangan

TEMPO Interaktif, Jakarta - Hari ini, presiden memanggil sejumlah menteri beserta Kapolri dan Jaksa Agung untuk membahas rekomendasi Tim Independen Pencari Fakta dan Verifikasi kasus Bibit dan Chandra (tim delapan). Presiden menyatakan pemerintah memang harus bertindak cepat dan tepat menyikapi kasus tersebut.
presiden"Ini tidak perlu harus didorong oleh siapapun, agar kemelut ini tidak terus berkepanjangan," katanya saat memberikan paparan sebelum rapat terbatas dimulai di Kantor Presiden, Rabu (18/11).
Akan tetapi, diingatkannya langkah pemerintah dan tindakan presiden harus tetap berlandaskan konstitusi, undang-undang dan ketentuan hukum serta sistem yang berlaku. Menyikapi masalah yang serius seperti kasus tersebut, kata presiden, harus hati-hati. Jangan sampai memecahkan masalah menimbulkan masalah baru.
"Jangan sampai pula saya sebagai presiden didorong dan dipaksa untuk mengambil langkah yang bukan kewenangan saya. Kalau begitu berarti saya melawan Undang-Undang," katanya.
Presiden juga menyatakan rekomendasi tim delapan belum tentu diterima atau ditolaknya. "Rapat sekarang ini bukan untuk tetapkan apakah kita terima atau tidak menerima rekomendasi tim 8 itu, bukan itu," katanya.
Menurutnya, Ia beserta jajaran terkait perlu untuk mendalami dan mempelajari denean seksama. "Jangan buru-buru katakan tidak menerima atau jangan buru-buru bahwa semua rekomendasi itu sudah diterima. mari kita telaah dengan jernih," katanya. Semua harus disikapi dengan sikap positif. "Tidak perlu kita apriori terhadap apa yang dilakukan tim 8 ".
Masalah itu, kata dia, memang tidak boleh berlama-lama tetapi koridornya harus jelas. Persoalan tersebut, kata presiden, merupakan bagian dari sejarah yang panjang dan harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat kelak di kemudian hari. "Jadi tidak boleh kita serampangan atau gegabah saja," katanya.
Setelah semuanya didalami, rekomendasi tersebut tetap akan diserahkan kepada kepolisian dan kejaksaan agung untuk ditindaklanjuti. Setelah itu, baru presiden akan mengambil respon menyikapi kasus tersebut. "Kita memang harus memilih opsi terbaik dan dalam memilih opsi itu saya minta untuk tetap jernih, kita harus utamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan yang lain, bukan kepentingan yang sempit atau pun jangan melihat dari sisi satu saja," katanya.
GUNANTO E S
dicopy dari:
http://tempointeraktif.com
Rabu, 18 November 2009 | 15:55 WIB
Ini Dia Penanggalan Maya yang Jadi Biang Kerok Isu Kiamat 2012

TEMPO Interaktif, Jakarta - Film "2012" memancing kontroversi di Indonesia karena memunculkan bencana besar. Bencana itu disebut-sebut terkait dengan berakhirnya penanggalan panjang suku Maya.
Penanggalan Maya memang agak aneh dibanding kalendar yang dipakai di dunia maupun kalendar Indonesia, misalnya. Biasanya perhitungan hanya sepanjang satu tahun.
Maya, suku Indian Amerika Latin, memiliki tiga sistem kalendar yang dipakai bersamaan. Di satu kalendar, satu tahun memiliki panjang 265 hari, satu lagi 260 hari, dan satu lagi--disebut perhitungan panjang--akan berakhir pada 2012 itu.
Penanggalan perhitungan panjang itu memiliki unit:
1 hari = kin
20 kin = uinal
18 uinal = tun
20 tun = katun
20 katun = baktun
Lingkaran panjang=13 baktun
Bandingkan dengan penanggalan masehi yang lazim digunakan dunia saat ini yakni:
30/31 hari = bulan (kecuali Februari yang 28/29 hari)
12 bulan = tahun
Dengan perhitungan panjang itu, satu baktun memiliki panjang 144.000 hari atau sekitar 400 tahun. Saat ini penanggalan masuk baktun ke-13.
Dengan tanggal Maya, hari ini Rabu (18/11) adalah
12 baktun
19 katun
16 tun
15 uinal
11 kin.
Yang menjadi persoalan, sebagian ahli menyatakan penanggalan Maya hanya sampai pada baktun ke-13. Baktun ke-13 ini akan berakhir pada tanggal 20 Desember 2012.
Pada 20 Desember 2012 itu, penangalan Maya menjadi
12 baktun
19 katun
19 tun
17 uinal
19 kin.
Sehari berikutnya akan masuk baktun ke-14 yakni
13 baktun
0 katun
0 tun
0 uinal
0 kin
Sejumlah ahli, seperti dari badan antariksa Amerika Serikat, menyatakan bahwa pada penanggalan Maya akan mulai lagi pada tanggal 1. Tidak dijelaskan apakah masuk baktun ke-12 atau mulai lagi dari titik awal seperti beberapa ribu tahun silam atau masuk ke baktun ke-14.
Suku Maya sendiri, menurut Susan Milbrath, kepala bagian seni dan arkeologi Amerika Latin di Museum Florida, tidak menyebutkan dunia bakal berakhir jika baktun ke-13 ini selesai.
HANKSVILLE.ORG/WIKIPEDIA/NURKHOIRI
http://www.tempointeraktif.com
Rabu, 18 November 2009 | 16:33 WIB
Belum Ada Tanda-tanda, People Power Masih Jauh

Jakarta - Potensi munculnya people power (gerakan kekuatan rakyat) diprediksi akan terjadi menyusul kasus kriminalisasi pimpinan KPK. Namun, pengamat intelijen Wawan Purwanto membantah hal ini. Menurutnya, kemungkinan terjadinya people power masih jauh.
"People power masih jauh kalau dalam artian kerusuhan karena belum ada afiliasi oknum-oknum yang memiliki kekuatan bersenjata," ujar Pengamat Intelijen Wawan Purwanto dalam jumpa pers di Restoran Sate Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (18/11/2009).
Wawan kemudian membandingkan people power yang terjadi pada tahun 1998 lalu. Menurutnya, saat itu ada oknum bersenjata yang memback-up (mendukung), ada unsur pembiaran, ada upaya menarik massa dari luar masuk ke Jakarta. Sedangkan, kata dia, tahun ini belum ada arah ke sana, negeri kita masih aman.
"Meskipun ada upaya people power, tapi itu dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Belum ada tanda-tanda arah ke sana, semua masih undercontrol," tutur dia.
Dikatakan Wawan, tanda-tanda tersebut bisa jadi ada pada dua kepemimpinan di tubuh militer. Namun, sampai saat ini Wawan beranggapan militer masih solid sehingga tanda-tanda ke arah sana masih jauh.
"TNI-Polri belum ada dualisme, belum ada kepentingan yang berseberangan," kata dia.
di copy dari: Didi Syafirdi - detikNews
Rabu, 18/11/2009 18:08 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)
