Jumat, 09 Oktober 2009

Kisah Perwira Kesayangan Soeharto


Hari Selasa, pengujung tahun 1966. Penjara Militer Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Dua pria berhadapan. Yang satu bertubuh gempal, potongan cepak berusia 39 tahun. Satunya bertubuh kurus, usia 52 tahun. Mereka adalah Letnan Kolonel Untung Samsuri dan Soebandrio, Menteri Luar Negeri kabinet Soekarno. Suara Untung bergetar. "Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih," kata Untung kepada Soebandrio.

Itulah perkataan Untung sesaat sebelum dijemput petugas seperti ditulis Soebandrio dalam buku Kesaksianku tentang G30S. Dalam bukunya, Soebandrio menceritakan, selama di penjara, Untung yakin dirinya tidak bakal dieksekusi. Untung mengaku G-30-S atas setahu Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto.

Keyakinan Untung bahwa ia bakal diselamatkan Soeharto adalah salah satu "misteri" tragedi September-Oktober. Kisah pembunuhan para jenderal pada 1965 adalah peristiwa yang tak habis-habisnya dikupas. Salah satu yang jarang diulas adalah spekulasi kedekatan Untung dengan Soeharto.

Memperingati tragedi September kali ini, Koran Tempo bermaksud menurunkan edisi khusus yang menguak kehidupan Letkol Untung. Tak banyak informasi tentang tokoh ini, bahkan dari sejarawan "Data tentang Untung sangat minim, bahkan riwayat hidupnya," kata sejarawan Asvi Warman Adam.

***

Tempo berhasil menemui saksi hidup yang mengenal Letkol Untung. Salah satu saksi adalah Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. Umurnya sudah 83 tahun. Ia adalah sahabat masa kecil Untung di Solo dan bekas anggota Tjakrabirawa. Untung tinggal di Solo sejak umur 10 tahun. Sebelumnya, ia tinggal di Kebumen. Di Solo, ia hidup di rumah pamannya, Samsuri. Samsuri dan istrinya bekerja di pabrik batik Sawo, namun tiap hari membantu kerja di rumah Ibu Wergoe Prajoko, seorang priayi keturunan trah Kasunan, yang tinggal di daerah Keparen, Solo. Wergoe adalah orang tua Suhardi.

"Dia memanggil ibu saya bude dan memanggil saya Gus Hardi," ujar Suhardi. Suhardi, yang setahun lebih muda dari Untung, memanggil Untung: si Kus. Nama asli Untung adalah Kusman. Suhardi ingat, Untung kecil sering menginap di rumahnya.

Tinggi Untung kurang dari 165 sentimeter, tapi badannya gempal. "Potongannya seperti preman. Orang-orang Cina yang membuka praktek-praktek perawatan gigi di daerah saya takut semua kepadanya," kata Suhardi tertawa. Menurut Suhardi, Untung sejak kecil selalu serius, tak pernah tersenyum. Suhardi ingat, pada 1943, saat berumur 18 tahun, Untung masuk Heiho. "Saya yang mengantarkanUntung ke kantor Heiho di perempatan Nonongan yang ke arah Sriwedari."

Setelah Jepang kalah, menurut Suhardi, Untung masuk Batalion Sudigdo, yang markasnya berada di Wonogiri. "Batalion ini sangat terkenal di daerah Boyolali. Ini satu-satunya batalion yang ikut PKI (Partai Komunis Indonesia)," kata Suhardi. Menurut Suhardi, batalion ini lalu terlibat gerakan Madiun sehingga dicari-cari oleh Gatot Subroto.

Sumber: http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/g30s/index.php

Jumat, 02 Oktober 2009

NIGHT TIME JOURNEY AT MUSEUM


Komunitas Jelajah Budaya dan Museum Mandiri

Mempersembahkan

NIGHT TIME JOURNEY AT MUSEUM
I Love Batik Nusantara
Sabtu, 10 Oktober 2009
Pukul 18.30 Wib – Selesai
Museum Mandiri
Jl. Lapangan Stasiun No. 1 Jakarta Kota

Biaya partisipasi : Rp 80.000,- (Delapan puluh ribu rupiah)

Welcome Drink
Makan Malam ala Rijsttafel
Walking Tour gedong NHM
Rekontruksi Bank Tempo Doeloe
Live Music
Nonton Film Hindia Belanda Tempo Doeloe
Pin & Sinopsis

Pendaftaran & Registrasi :

KOMUNITAS JELAJAH BUDAYA
0817 99 40173 / 021 99700 131
Email : kartum_boy@yahoo. com
Jelajahbudaya. blogspot. com

* Maksimal peserta 100 orang
* Disarankan menggunakan dresscode batik, sesuai dengan tema kegiatan kali ini dalam rangka mendukung batik sebagai Warisan Budaya Dunia ( World Heritage)

Info @
Warta Museummandiri
http://3.bp.blogspot.com

Kamis, 01 Oktober 2009

Perlu Dicegah Merosotnya Pemahaman Sejarah Generasi Muda

Peringatan Hari Kesaktian PancasilaPeringatan Hari Kesaktian Pancasila pada dasarnya adalah untuk memperkokoh Pancasila sebagai dasar dan pandangan hidup Bangsa. Hal ini ini perlu kita sadari dalam rangka mengembalikan Pancasila sebagai dasar, arah, serta paradigma yang selama ini cenderung dilupakan bahkan mungkin hendak ditinggalkan .

Demikian dikatakan Asisiten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Drs. Tavip Agus Rayanto. MSi pada acara malam Tirakatan memperintai Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2009 di Monumen Pancasila Sakti Kentungan, Yogyakarta, Rabu. ( 30 /09/2009). Diakatakan pula oleh Tavip bahwa peringatan hari Kesaktian Pancasila perlu dijadikan refleksi untuk merenungkan bagaimana Bangsa Indonesia saat ini menggunkan Pancasila dalam hidup berbangsa dan bernegara, dalam masa transisi kearah demokrasi yang ternyata telah terjadi krisis dan disintegrasi moral dan mental. ”Untuk mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara, semua elemen masyarakat perlu berkomitmen unutk membela Pancasila. Dalam konteks merevitalisasi Pancasila sebagai Dasar Negara menuju terwujudnya masyarakat yang demokratis. Seluruh lapisan masyarakat harus menyadari bahwa tanpa suatu platform dalam format dasar Negara atau ideologi , maka suatu bangsa akan mustahil untuk mempertahankan survivalnya”, ujar Tavip A Rayanto. Sementara dalam ceramahnya, Drs. Adaby Darban Dosen Ilmu Budaya UGM mengatakan kita patut bersyukur kepada Allah yang telah menyelamatkan Bangsa Indonesia dan telah memberikan dan menguatkan Pancasila sehingga dapat menjadi perekat dan mengokohka integrasi bangsa Indonesia. Bukti sejarah, lanjutnya, menunjukkan bahwa Monumen Kentungan ini merupakan bukti sejarah korban pemberontakan Gerakan 30 S PKI. Dengan Dewan Revolusinya, PKI melakukan pemberontakan terhadap Negra Kesatuan Republik Indonesia. ”Pemberontakan itu tidak hanya masalah politik kenegaraan, namun lebih dari itu. Sebuah idiologi Marxisme-Komunisme yang anti Tuhan dan anti agama telah memberontak terhadap bangsa yang religius (ber-Tuhan-,ber-Agama) dengan ikatan Pancasila”, tegas Adaby Darban. Dengan upacara di malam hari ini, katanya lebih lanjut, kita mengingat dan sekaligus belajar dari sejarah. Bangsa kita pernah kena virus idiologi Marxistme-Komunisme yang menjelma menjadi Partai Komunis Indonesia ( PKI ), yang bertentangan dengan kehidupan sebagian besar rakyat dan bangsa Indonesia yang memiliki religiositas ber Tuhan dan ber Agama. ”Mereka berkali-kali mengadakan pemberontakan berdarah, menciptakan antagonisme sosial dengan semangat conflict approach, memecah belah persatuan bangsa Indonesia”, katanya. Acara Malam Tirakatan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila diikuti oleh para peserta sebanyak kuran lebih 250 orang, terdiri dari beberapa unsur dan instansi terkait , seperti pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi DIY, TNI dan Pelajar dari beberapa sekolah. Pada acara itu juga diadakan dialog, dipandu oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Prof. Suwarsih Madya, PHd. Salah satu putra pelaku sejarah R. Sugiyono, Ganis Priyono, pada kesempatan itu menyampaikan banyak terima kasih kepada Pemerintah bahwa setiap tahunya diselenggarakan malam tirakatan. Acara ini, katanya, secara tidak langsung mengenang ayahandanya yang mernjadi korban keganasan PKI. Malam Tirakaatan dilaksanakan di dalam kompleks bangunan Monument Pancasila Sakti, dimana Pahlawan Revolusi R. Sugiyono dan Brigjen Katamso dibunuh dan dimasukan dalam lubang di tengah monumen. Dalam dialog peserta tirakatan mengemukakan pendapat, yang secara umum mengkhawatirkan merosotnya nasionalisme dan pemahaman generasi muda terhadap sejarah bangsa. Sekolah-sekolah, mulai SD, SMP, hingga SMA tidak lagi memberikan pelajaran sejarah secara khusus. Kalaupun diberikan, tidak mendalam. Direkomendasikan pula pada malam itu agar pelajaran sejarah diberi porsi khusus dalam Kurkulum Pendidikan. Prof. Suwarsih Madya PHd mengusulkan hal itu untuk dimulai di DIY dengan memberikan pelajaran sejarah di sekolah dan dapat dikemas sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga mudah diterima dan dipahami. ( dyk ) Ro. Umum, Humas dan Protokol
Sumber: YOGYAKARTA, (30/09/09), pemda-diy.go.id

Senin, 28 September 2009

KENANGAN TRANSPORTASI KERETA UAP

KENANGAN TRANSPORTASI KERETA UAP : ANTARA AMBARAWA DAN PINJARRA
Oleh: Devi Kausar
Graduate School of International Development, Nagoya University Japan
E-mail : devikausar@gmail.com


Pada masanya kereta uap pernah berjasa menjadi alat transportasi di berbagai belahan dunia. Kereta uap pertama kali digunakan sebagai alat angkutan umum pada tahun 1825 di jalur yang menghubungkan kota Stockton dan Darlington di Inggris (Ganeri et al. 2001).
Bentuk lokomotif kereta uap sangat berbeda dengan kereta bertenaga diesel maupun kereta listrik yang menggantikan keberadaannya. Lokomotif kereta uap mempunyai fitur yang khas berupa tempat menyimpan batu bara sebagai bahan bakarnya, sebuah tangki air (boiler), dan sebuah cerobong asap. Saat berjalan kereta uap akan terus mengeluarkan uap dari cerobongnya. Warna lokomotif pun bermacam-macam dan dengan bentuk lokomotifnya yang khas menjadi keindahan tersendiri yang masih dikenang hingga kini.
Nostalgia kereta uap sering dituangkan dalam film dan buku, antara lain film seri anak-anak “Thomas the Tank Engine” tentang kehidupan kereta uap yang dapat berbicara dan mempunyai karakter yang berbeda-beda di Pulau Sodor, Inggris dan di film-film Harry Potter sebagai kereta yang mengangkut murid-murid sekolah sihir Hogwarts dari London ke Hogwarts. Kereta uap juga menjadi karakter utama dalam buku anak-anak “The Little Engine that Could” yang bercerita mengenai keteguhan hati sebuah kereta uap kecil yang harus melewati bukit yang menanjak sambil menarik gerbong-gerbong yang berat di belakangnya.
Di Indonesia, kereta uap pertama kali dioperasikan pada masa penjajahan Belanda di jalur Kemijen dan Tanggung, Jawa Tengah pada tanggal 17 Juni 1864 (Lee 2003). Jarak antara Kemijen dan Tanggung hanya 26 km, namun jalur tersebut kemudian berkembang menjadi jalur rel yang menghubungkan Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Sejak saat itulah kereta uap turut mewarnai dan menjadi saksi sejarah dinamika kehidupan di Pulau Jawa dan Sumatra sampai sekitar tahun 80an.
Nostalgia Kereta Uap sebagai Atraksi Pariwisata

Di beberapa tempat di penjuru dunia, kereta uap saat ini menjadi atraksi utama pariwisata. Bahkan beberapa pihak menginginkan jalur-jalur kereta bersejarah seperti jalur Ipswich – Toowoomba di Australia, the Darjeeling Himalayan Railway, dan jalur Ambarawa – Bedono di Jawa Tengah dijadikan sebagai salah satu Pusaka Dunia (World Heritage) (Lee 2003).


Gb. 1. Kereta Uap Tertua koleksi Ambarawa, C1218 Hartmann (2152/1896). Sumber foto

http://www.internationalsteam.co.uk/ambarawa/locos/C1218.htm

Museum Kereta Api Ambarawa yang dulunya bernama Stasiun Willem I Ambarawa (didirikan oleh the Netherlands Indische Spoorweg Maatschappij – NIS pada tahun 1873) diresmikan pada tahun 1976. Museum ini memiliki sekitar 21 loko uap yang terletak di halaman museum. Beberapa di antara loko uap tua tersebut mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Loko C28 buatan pabrik lokomotif Jerman (Henschel, Hartmann Chemnitz, dan Esslingen pada 1921-1922) misalnya merupakan loko penarik kereta Kepresidenan Republik Indonesia setelah 1945. Loko C28 yang kecepatannya bisa mencapai 110 kilometer per jam dan merupakan salah satu loko tercepat pada masa 1920an itu telah berjasa besar dalam membantu pelarian Presiden Soekarno dari Jakarta ke Yogyakarta pada tanggal 3 Januari 1946.



Koleksi lain yang bahkan menyimpan cerita sejarah dunia adalah loko D5106. Loko produksi Hartmann Chemnitz tahun 1920 ini pernah bertugas di jalur Hedjaz Railway untuk melayani perjalanan KA penumpang yang khusus mengangkut jemaah haji dan logistik tentara Turki pada masa pemerintahan Utsmaniyah di Turki. Pada masa itu, jalur Hedjaz Railway menghubungkan Damaskus, Suriah dengan Amman, Yordania, serta Madinah, Arab Saudi.




Namun sayangnya, koleksi loko-loko bersejarah tersebut kini kondisinya cukup memprihatinkan dan tak terawat. Sebagian besar lapisan cat pada bodi loko tersebut telah mengelupas dan tak lagi menarik dipandang mata.



Gb. 2. Staf Museum Kereta Api Ambarawa

Sumber foto: http://www.internationalsteam.co.uk/ambarawa/shed.htm



Museum Kereta Api Ambarawa juga menawarkan kesempatan naik kereta uap ke Stasiun Bedono yang terletak 9 kilometer dari museum. Sebuah loko yang masih berfungsi dengan cukup baik beserta dua gerbong penumpang siap untuk mengangkut wisatawan. Tetapi untuk naik kereta ini pengunjung tidak bisa membeli karcis secara perorangan. Kereta uap yang masih berfungsi ini hanya dapat disewa secara penuh untuk satu kali perjalanan, yaitu kira-kira sebesar 3,2 juta rupiah. Oleh karenanya, sulit bagi pengunjung yang tidak datang bersama rombongan dan tidak memesan lebih dulu paket perjalanan untuk merasakan pengalaman naik kereta uap di Ambarawa.





Antara Ambara dan Pinjarra



Lain Ambarawa, lain pula halnya atraksi kereta uap di Pinjarra, Australia Barat yang dikelola oleh Hotham Valley Tourist Railway, sebuah perusahaan swasta yang sengaja mengemas nostalgia kereta uap menjadi atraksi wisata. Tidak seperti Museum Kereta Api Ambarawa yang koleksi lokonya adalah loko yang memang pernah digunakan di Indonesia, beberapa koleksi Hotham Valley Tourist Railway sengaja dibeli dan didatangkan dari belahan dunia untuk beroperasi di jalur wisata tersebut. Kesamaan jalur Hotham Valley dan jalur Ambarawa – Bedono adalah bahwa keduanya merupakan jalur yang pada masa silam memang berfungsi sebagai jalur transportasi umum.



Gb. 3. Lokomotif di Hotham Valley.

Sumber foto: www.hothamvalleyrailway.com.au



Hotham Valley Tourist Railway tidak mempunyai museum secara khusus seperti di Ambarawa karena hampir seluruh koleksi loko serta gerbongnya digunakan untuk mengangkut para wisatawan lokal maupun mancanegara di Pinjarra maupun Dwellingup (kedua kota kecil ini terletak kira-kira 90an kilometer dari ibukota Australia Barat, Perth). Pada akhir minggu, perusahaan ini bahkan membuat paket wisata kereta uap yang berangkat dari Stasiun Perth di Kota Perth ke Kota Pinjarra, Dwelingup, atau kota lainnya. Jenis paket yang ditawarkan juga beragam, mulai dari “Forest Railway” yaitu menyusuri hutan di Dwellingup, “Steam Rangers” di jalur yang menghubungkan Pinjarra dan Dwellingup, “Restaurant Train” yaitu paket perjalanan berikut makan di kereta uap, sampai “The Mistery Train” yaitu paket perjalanan yang di dalamnya para penumpang akan terlibat dalam sebuah permainan untuk memecahkan persoalan misteri. Untuk mengikuti perjalanan di jalur wisata kereta uap ini, wisatawan dapat membeli karcis secara perorangan dengan harga yang cukup terjangkau.



Membandingkan sejarah loko-loko yang digunakan pada jalur Pinjarra dan sekitarnya mungkin tidak sebanding dengan sejarah beberapa loko di Museum Kereta Api Ambarawa yang sangat tinggi nilainya. Namun demikian, pengelolaan Museum Kereta Api Ambarawa sebagai tempat menyimpan benda bersejarah, sebagai saksi sejarah perkeretaapian di Indonesia, dan khususnya sebagai atraksi pariwisata masih bisa lebih ditingkatkan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi wisatawan. Di Museum Kereta Api Ambarawa, fasilitas umum seperti toilet yang memadai kurang tersedia. Sedangkan fasilitas-fasilitas lain yang dapat meningkatkan kualitas pengalaman berwisata, seperti tempat makan atau restoran yang menawarkan menu khas setempat atau toko cindera mata tidak tersedia.





Di lain pihak, Kota Pinjarra yang merupakan pusat dari Hotham Valley Tourist Railway adalah juga sebuah kota kecil seperti halnya Ambarawa. Namun demikian, pengelola paket kereta uap yang merupakan perusahaan swasta bersinergi dengan badan promosi pariwisata kota dalam hal promosi jalur wisata Hotham Valley dan dalam menjual cindera mata Hotham Valley di pusat informasi pariwisata Kota Pinjarra maupun Kota Dwellingup. Pengalaman berwisata pun menjadi lebih lengkap karena wisatawan dapat membeli aneka cindera mata (baik yang berhubungan dengan kereta uap maupun tidak), mencicipi hidangan di restoran setempat, bahkan dapat memperoleh informasi tentang berbagai obyek wisata lain dari pusat informasi pariwisata yang terletak tidak jauh dari stasiun kereta uap.



Walaupun Museum Kereta Api Ambarawa dikelola oleh pemerintah dan Hotham Valley Tourist Railway dikelola oleh swasta, namun tidak menutup kemungkinan pengelola museum dapat bersinergi dengan pihak swasta dalam menciptakan atraksi pariwisata atau dalam menyediakan fasilitas yang lebih memadai bagi para wisatawan. Kuncinya adalah kreativitas dan kesadaran bahwa aset yang dimiliki adalah aset yang sangat berharga.



Daftar Pustaka



1. Ganeri, A., Hibbert, A., Malam, J., Oliver, C., Oxclade, C., Pickering, J. And Robson, D. (2001) Amazing Questions and Answers. Parragon Book, UK.

2. Lee, R. (2003) Potential Railway World Heritage Sites in Asia and the Pacific. Institute of Railway Studies, University of York.

http://www.york.ac.uk/inst/irs/irshome/papers/robert2.htm

3. Harian Kompas edisi 25 Juni 2005, Museum KA Ambarawa, dari Soekarno hingga Hedjaz Railway.

4. http:// 64.203.71.11/kompas-cetak/0506/25/Wisata/1794597.htm

copyright: http://io.ppi-jepang.org

kereta uap wisata solo

sumber: http://farm3.static.flickr.com


Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal, Minggu (27/9), meresmikan pengoperasian kereta wisata di Kota Solo. Kereta api yang merupakan kereta uap kuno itu menggunakan lokomotif berwana hitam jenis C1218 buatan Jerman tahun 1896. sumber: http://regional.kompas.com
sumber: http://farm4.static.flickr.com

sumber: http://www.internationalsteam.co.uk

ANTARA SEJARAH DAN MASA LAMPAU


Sejarah dan masa lampau adalam dua hal (dwitunggal) yang tidak dapat kita lepaskan dan tidak dapat kita pahami satu persatu secara terpisah. Sejarah adalah bagian dari masalampau begitu juga masalampau adalah unsure penting dari sejarah. Hal ini pelu saya kemukakan karena dalam pemahaman sejarah kita sebagai seorang awam terkadang memukul rata (gebyahuyah) terhadap pemahaman sejarah. Tidak sedikit orang menganggap bahwa sejarah adalah masa lampau begitu juga setiap peristiwa masa lampau kita sebut dengan sejarah. Dalam persoalan ini ada hal mendasar yang perlu saya kemukakan agar pemahaman kita terhadap sejarah sesuai dan benar tidak salah kaprah, diantaranya ialah pemahaman sejarah sebagai peristiwa dan sejarah sebagai kisah. Dalam buku Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum dan Sesudah Revolusi terbitan LP3ES dijabarkan dengan lugas hal apa saja yang membatasi diantara pemahaman keduanya. Berbeda dengan disiplin ilmu yang lain sejarah memang sangat unik sesuai dengan sifatnya-sifnya enmaling dan hanya sekali terjadi dengan demikian tidak mungkin terluang kembali dalam waktu yang sama dan peristiwa yang sama. Sesuai dengan sifat dari sejarah itu sendiri maka kita harus hati-hati mengkatagorikan mana sejarah yang termasuk kedalam sebuah kisah dan sebuah peristiwa. Hal ini sangat penting guna mempertanggungjawabkan setiap tindakan dan pendapat kita yang keluar. Sejarah sebagai sebuah peristiwa ialah semua hal yang terjadi hanya satu kali dan tidak mungkin terjadi lagi baik sama persis waktu, peristiwa, motif, dan kejadian yang melatar belakangi. Peristiwa yang demikian bisa kita sebut sebagai peristiwa sejarah dengan asumsi peristiwa tesebut tidak dapat kita ulangi lagi. Sedangkan sejarah sebagai sebuah kisah ialah sejarah yang telah melalui tahap penulisan oleh seorang sejarawan. Sejarah tiadalain ialah hasil karya dari seorang sejarawan yang telah melakukan interprestasi terhadap suatu data-data baik data primer maupun sekunder .dengan menggunakan metode ilmiah khusus yang menghasilkan tulisan sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Dengan demikian seharusnya kita memposisikan sejarah sebagai salah satu usaha kita untuk memahami masa lapau untuk kita gunakan di masa sekarang dan untuk menyusun masa depan yang lebih baik. Karena dengan memahami sejarah secara tepat maka kita dapat memberikan yang terbaik untuk hidup kita baik dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sejarah dan masa lampau adalah satu kesatuan sejarah tidak mungkin ada tanpa masa lampau begitupun tanpa ada sejarah kita tidak dapat memahami masa lampau. Sejarah sebagai kisah dan peristiwa sudah jelas perbedaannya, dimana sejarah yang kita pelajari di linggkungan akademis baik sekolah dasar samapai perguruan tinggi ialah sejarah sebagai sebuah kisah yang dapat kita pertanggungjawabkan. Dengan demikian tidak ada alasan untuk menganggap sejarah sebagai disiplin ilmu yang menjenuhkan dan tidak penting. Sejarah akan selalu dibutuhkan oleh generasi mana saja, kapan saja, dan dimana saja untuk membantu mengerti jati diri yang sebenarnya dan untuk menuntun langkah yang tepat untuk menentukan masa depan yang lebih baik.

Rabu, 26 Agustus 2009

Lindungi Warisan Budaya

Tak meneherankan jika kemudian banyak warisan budaya kita banyak dikalaim oleh negara lain jika kita menilik seberapa peduli kita dalam ngugemi ( baca: mempelajari dan melestarikan) warisan budaya kita. Warisan budaya kita sangatlah kaya, kita tilik dari ratusan suku bangsa kita yang mempunyai aneka ragam kebudayaan yang berbeda satu dengan lannya. Namun kiranya tesis yang mengatakan demikian serasa terbantahkan utuk klaim atas tarian Pendet (Bali). Betapa tidak tarian yang sangat populer dan dikembangkan oleh masyarakat Bali serta merta dianggap kepunyaan Malaysia. Walau terdapat bantahan dari kedubes Malaysia yang diwakilkan oleh 3 korang kuasa usaha sementara kedutaan besar Malaysia (KR. 25 Agustus 2009) bahwa pemerintah malaysia tidak pernah mengklaim dan yang ada selama ini ialah salah paham dan iklan yang diproduksi tersebut ialah produksi swasta. Ini merupakan sesuatu hal yang tidak masuk akal bagai mana tidak iklan visit malaysia year beredar tanpa sepengetahuan pemerintah malaysia?.
Sebagai bangsa yag besar kita harus mengkoreksi diri ada apa sebenarnya dibalik semua peristiwa klam mengkalam itu.