Metode Baru Pembelajaran Sejarah
Tahun ini adalah kali kelima pelaksanaan Lawatan Sejarah Nasional atau Lasenas. Diikuti sekitar 200 siswa dan guru
sejarah SMA dari seluruh provinsi di Indonesia, Lasenas ini sungguh istimewa. Pada 13 Agustus 2007, Menteri
Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik memberi sambutan
sekaligus melepas peserta menuju Sumatera Barat.
Kali ini pula Departemen Pendidikan Nasional terlibat langsung, seperti tampak dengan dukungan anggaran. Mudah
dimengerti karena sesungguhnya Lasenas berada di ranah pendidikan. Dalam sambutannya, Mendiknas mengatakan
bahwa Lasenas merupakan metode baru bagi pembelajaran sejarah yang efektif.
Lasenas yang berakhir pada 18 Agustus itu mengunjungi sejumlah situs dan monumen bersejarah dengan tema
"Pemerintah Darurat Republik Indonesia sebagai Mata Rantai Perjalanan NKRI". Ide itu mendukung tema utama setiap
Lasenas sejak 2003, yakni "Merajut simpul- simpul Perekat Keindonesiaan".
Pengertian "nasional" pada Lasenas berarti ruang lingkup sejarah Indonesia dan merupakan tingkat yang lebih tinggi dari
Lawatan Sejarah Daerah (Laseda). Penyelenggara Laseda adalah Balai Pelestarian (d/h Kajian) Sejarah dan Nilai
Tradisional, unit pelaksana teknis (UPT) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di daerah. Peserta Lasenas adalah
mereka yang terpilih dari Laseda. Lasenas diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah Depbudpar.
Lawatan adalah mengunjungi situs dan monumen bersejarah yang bermakna integrasi bangsa dalam memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Untuk memperoleh pemahaman dan pemaknaan itu,
peserta Lasenas berdiskusi dan berdialog dengan sejarawan, tokoh, dan pelaku sejarah.
Selain itu, peserta Lasenas— dengan berpakaian daerah masing-masing—mengikuti upacara HUT Kemerdekaan 17
Agustus di daerah tujuan Lasenas, dapat memberi warna dan makna tersendiri. Periode pelaksanaan Lasenas memang
ditetapkan dalam suatu pekan, termasuk di dalamnya tanggal 17 Agustus. Jadi, "lawatan" tidak sama dengan perjalanan
wisata biasa.
Mengapa disebut "lawatan"? Bukankah istilah itu hanya cocok untuk kunjungan ke negeri asing, seperti istilah untuk
kepala negara apabila bepergian ke China misalnya.
Akan tetapi, bukankah Indonesia juga merupakan "negeri" asing bagi kebanyakan warganya? Buktinya, bukan hanya tidak
saling mengenal satu sama lain, tetapi juga masih banyak terjadi peristiwa seperti konflik sosial yang marak antara 1999-
2001. Kalau begitu, mungkin benar konstatasi Benedict Anderson bahwa Indonesia adalah "komunitas yang dibayangkan".
Keprihatinan akibat konflik itulah yang menjadi dasar penciptaan Lasenas. Mengapa melalui sejarah? Bukankah sejarah
yang kita warisi lebih banyak tentang konflik dan kekerasan. Celakanya lagi, materi sejarah yang diberikan di sekolah
banyak tentang perang antarkerajaan dan konflik di kalangan masyarakat Indonesia sendiri. Maka boleh jadi ingatan
kolektif bangsa ini didominasi oleh konflik dan perseteruan saja.
Sebenarnya banyak bukti yang menunjukkan sebaliknya. Banyak bukti peristiwa sejarah sebagai faktor integrasi bangsa.
Oleh karena itulah, dengan Lasenas, fakta sejarah seperti itu dapat dirajut sebagai simpul- simpul perekat keindonesiaan.
Dalam perspektif historis, integrasi bangsa—menurut Taufik Abdullah—adalah salah satu konsep yang ditemukan dalam
sejarah Indonesia. Kehidupan dalam masa kolonial Belanda bagi penduduk di kepulauan Indonesia—meskipun dengan
intensitas tidak merata—adalah nasib yang dirasakan secara bersama (common destiny).
Selain dari aspek politik, pendekatan budaya dalam mempelajari sejarah perlu dilakukan. Proses keindonesiaan adalah
juga karena faktor sosio-budaya. Pelayaran dan perdagangan menjadi sarana perkembangan ekonomi dan persebaran
sukubangsa dari masyarakat yang beragam. Perkembangan itu sudah berlangsung jauh sebelum orang Eropa
menginjakkan kakinya di kepulauan ini. Gejala itu juga merupakan simpul-simpul perekat keindonesiaan.
Dengan tindakan pemerintah kolonial Belanda membuang atau mengasingkan para pejuang yang melawan, melalui
pemikiran atau angkat senjata, praktik kolonialisme justru semakin mempererat simpul-simpul keindonesiaan. Di tempat-
tempat pengasingan yang tersebar di Tanah Air, para pejuang bangsa berinteraksi dengan sesama mereka dan
masyarakat sekitar. Maka, makin tersebar dan kuatlah semangat persatuan untuk membebaskan diri dari kolonial
Belanda.
Kilas balik
Begitulah, Lasenas pertama tahun 2003 adalah perjalanan mengunjungi tempat-tempat pengasingan pejuang di Jawa.
Sumedang adalah tempat pengasingan dan makam Cut Nyak Dien. Di Sukabumi dapat dikunjungi bekas rumah
pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir selama dua bulan sebelum datangnya tentara Jepang di Indonesia
Maret 1942.
Cianjur adalah tempat pengasingan Tuanku Imam Bonjol setelah ditangkap tahun 1837. Pimpinan Perang Paderi itu
kemudian dibuang ke Ambon dan ke Manado hingga wafat dan dimakamkan di Desa Lotak. Bandung bukan saja
merupakan tempat pengasingan bagi Sultan Bone Segeri La Pawiwoi pada tahun 1905, tetapi juga penjara Sukamiskin
bagi Soekarno sebelum dibuang ke Ende, Flores (1931-34). Selain Cut Nyak Dien, pejuang wanita dari Aceh, Poceut
Meurah Intan diasingkan Belanda di Blora hingga wafat pada tahun 1934.
Lasenas kedua dilaksanakan di Aceh dan Sabang tahun 2004 bertema "Dari Titik Nol Kilometer Merajut Indonesia". Dari
titik ini ditegaskan bahwa Aceh merupakan daerah modal bagi NKRI. Sementara itu, aktivitas Dr Jonas Latumeten selaku
Kepala Rumah Sakit Jiwa di Sabang (1931-35) dapat disebut simpul Indonesia. Dokter asal Ambon inilah yang
membantah pendapat Belanda bahwa orang Aceh pelaku aksi membunuh orang Belanda secara sporadis dianggap
"gila". "Aceh moorden" yang menakutkan Belanda itu, menurut Latumeten, dilakukan secara sadar, semacam rituelle
extase.
Ada dua simpul bermakna dalam Lasenas ketiga, tahun 2005, di Makassar-Selayar. Pertama, sejarah sebagai faktor
pendamai, dan kedua, peran Makassar dalam sektor kelautan. Generasi kini perlu diberi pengertian historis untuk
mendudukkan secara obyektif tentang Sultan Hasanuddin dan Arupalaka. Jika yang pertama digelari "pahlawan" bukan
berarti yang kedua "pengkhianat". Di Makassar ini pula terdapat makam Pangeran Diponegoro yang wafat pada 1855.
Pahlawan nasional ini sebelumnya dibuang ke Manado.
Lasenas keempat, tahun 2006, di Bangka bertema "Pangkalpinang Pangkal Kemenangan". Di sini tampak peran orang
Bangka dalam merajut simpul perekat Indonesia. Penduduk di Pangkalpinang dan Menumbing- Muntok dengan antusias
mendukung perjuangan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta beserta sejumlah pimpinan tinggi
negara dalam pembuangan, setelah Yogyakarta diduduki Belanda 18 Desember 1948. Padahal, Bangka Belitung saat itu
merupakan daerah yang dikuasai Belanda.
Maka, Lasenas kelima tahun ini hendak menegaskan betapa pentingnya PDRI sebagai satu mata rantai NKRI. Sebab,
mengabaikannya berarti menghilangkan satu mata rantai penting itu. Tanpa PDRI apakah mungkin RI bertegak? Pun
untuk menegaskan betapa besarnya dukungan rakyat, khususnya di Sumatera Barat, terhadap perjuangan dalam
menegakkan NKRI.
Lalu, kapan Lasenas sampai ke Tanah Papua? Perlu dicatat, di Serui, Kabupaten Waropen, terdapat tempat pengasingan
Sam Ratulangie beserta enam orang pengikutnya antara tahun 1946-1948. Itu akibat mereka menolak bekerja sama untuk
mengembalikan pemerintah kolonial Belanda di Sulawesi.
Tidak cuma itu di sanalah pengaruh mereka yang dikenal sebagai "Bapak Merdeka" mendorong Frans Kasiepo dan
kawan-kawan membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Jangan dilupakan bahwa penjara Boven Digul
yang dibangun tahun 1927 bagi para pejuang bangsa juga merupakan simpul perekat keindonesiaan.
Secara tersirat pemaparan di atas memperlihatkan perkembangan sejarah sebagai warisan bersama (common historical
destiny) menjadi dasar bagi terwujudnya identitas politik bersama (common political identity). Jadi, "Indonesia" adalah
perwujudan identitas politik terus-menerus dari masa kini ke masa depan untuk mencapai cita-cita bersama. Dalam
konteks ini, peserta Lasenas diharapkan meresapi makna perjalanan keindonesiaan itu: lampau, kini, dan masa depan.
Jika sejarah dapat memberi inspirasi untuk memperkuat keindonesiaan, maka belajar sejarah memang ada gunanya.
Selain itu, belajar sejarah adalah hal menyenangkan. Begitulah menurut Sartono Kartodirdjo: sejarah adalah juga pesona
lawatan.
Susanto Zuhdi Penggagas Lawatan Sejarah Daerah dan Nasional, Mantan Direktur Sejarah/Asisten Deputi Sejarah
Nasional pada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2001-2006)
Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/28/humaniora/3794955.htm
copy from http://www.duniaesai.com/sejarah/sejarah10.html
Kamis, 25 Juni 2009
Kamis, 16 April 2009
Apa yang dimaksud dengan zaman pra sejarah itu?

Jikalao kita menemnukan pertanyaan " Benarkah segala peristiwa masa lalu baik kehidupan atau benda-benda peninggalan masa sebelum mengenal tulisan disebut dengan zaman pra sejarah? " apa yang bisa kita berikan untuk menjawab pertanyaan itu dengan terang dan tidak terkesan menggurui?
Buat aku untuk menjawab pertanyaan diatas kita harus mengurai dahulu arti kata sejarah yang kita kenal dalam bahasa arab, Inggris dan Juga Yunani. Setelah kita mengetahui sebenarnya tenbtang sejarah maka kita akan paham bahwa pernyataan para ahli yang membedakan sejarah kedalam pembabagan Pra sejarah, dan sejarah hanyalah semata-mata untuk memudahkan pemahaman kita terhadap pemahaman terhadap sejarah itu sendiri. Pernyataan tersebut tidak memepengaruhi akan makna sejarah sesungguhnya , jadi jangan sampai kita terkecoh atau yang lebih parah lagi merasa bimbang karena pemaknaan terhadap sejarah itu ambigu karena jika kita sendiri kritis pemaknaan terhadap tulisan pra sejarah dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan sejarah dan bukan pada ada atau tidaknya tulisan sejarah.
Jumat, 03 April 2009
MENGAPA KEOBJEKTIFAN DAN KEBENARAN SEJARAH SERING DIPERTANYAKAN?
Untuk dapat menjawab persoalan ini kita harus sepakat terlebih dahulu bahwa anatara ukuran benar dalam penegertian mutlak tidak dapat dicapai oleh sejarah. Begitu juga dengan Ojektif jika diartikan sama dengan benar dalam pengertian yang mutlak tidak akan dapat mencapai apa yang dimaksudkan. Hal ini terkait dengan sifat dari masalalu yang tidak dapat dihidupkan kembali seperti adanya. Sejarah ialah hasil dari pemikiran dan interpretasi fakta-fakta peristiwa masalalu yang ditemui oleh sejarawan maupun peneliti. Dengan sejarah, masa lalu dapat direkonstruksi kembali sehingga dapat dipahami sebaik mungkin guekarang dan menjadi panduan untuk memepersiapkan masadepan.
Kesangsian terhadap keobjektifan dan kebenaran sejarah seharusnya tidak perlu ada andaikata kita mampu membedakan mana yang dapat kita sebut sebagai sejarah dan mana yang bukan sejarah dan kita mamapu memeposisikan arti dari kebenaran dan keobjektivan sejarah sebagai dua hal yang tidak dapat kita artikan sama. Sejarah memang tidak bisa benar seratus persen karena sejarah tidak dapat menciptakan kembali masa lampau. Sedangkan Objektif dapat kita terima sebagai usaha untuk dapat mendekati apa yang dapat kita kategorikan benar. Kehadiran metode-metode dalam penelitian sejarah memang memeberikan angin segar kepada kita guna memahami bagaimana rekonstruksi sejarah dapat atau tidak dalam mencapai keobjektifan dalam mengungkap peristiwa sejarah.
Kita harus memahami bahwa ukuran sejarah semesta kini pada kehidupan masyarakat kontemporer saat ini mempunyai ukuran-ukuran “kebenenaran” terhadap kesejarahan yang berlainan dengan ukuran-ukuran kebenaran kesejarahan pada masa lampau. Hikayat misalnya, bagi masyarakat Sumatra Utara yang hidup pada masa 6-7 abad yang lalu menganggap hikayat sebagai usaha tafsiran terhadap peristiwa masa lampau yang lebih sesuai jika dibandingkan misalnya dengan tulisan Sartono Kartodirjo yang membahas tentang pemberontakan petani banten tahun 1888, begitu juga sebaliknya Penelitian Sartono Kartodirjo oleh masyarakat sekarang lebih bisa diterima dan dianggap mendekati kebenaran daripada hikayat. Inilah buktinyata yang harus kita semua pahami bahwa antara sejarah yang cocok dan tidak cocok bersifat Nisbi (relative) halini terjadi karena pola pemahaman masyarakat terikat sepenuhnya pada kebudayaan masyarakat yang sedang berlangsung.
Perlu kita ketahui bersama bahwa sejarah ialah ilmu. yang sangat unik karena menggabungkan antara ilmu dan juga seni. Walaupun dalam penjabarannya belum ada yang dapat memuaskan berbagai pihak namun dapat kita pahami bawa hipotesis yang dihasilkan dari penelitian sejarah tidak bersifat kaku seperti ilmu-ilmu yang lain. Keberadaan metode-metode penelitian tidak lain adalah sebagai upaya bagi peneliti/Sejarawan untuk mendekati benar dan objektif dari penelitian, karena peneliti sadar bahwa masalalu memang tidakdapat dihidupkan lagi sebagaimana adanya. Hasil ahir dari penelitian yang berupa rekonstruksi dari tetap bergansuatu peristiwa masa lampau tetap tergantung pada peneliti/sejarawan dalam mengambil sudut pandang.
Empat unsur yang harus diperhatikan dalam memahami sejarah antara lain; memahami pengertian tentang waktu, memahami akan sifat-sifat fakta, dan penekanan-penekanan pada penelitian yang memfokuskan pada sebab musabab guna mengetahui permasalahan sebenarnya bukan saja penekannannya pada Apa, Kapan, Bagaimana dan Mengapa peristiwa sejarah itu terjadi. Dalam sejarah waktu dianggap memepunyai ukuran yang mutlak dimana waktu dan berlalunya waktu dapat diukur secara tepat. Sifat dasar fakta dalam ilmu sejarah ialah kerumitannya dimana fakta akam mempunyai arti yang berbeda tergantung pada sudutpandang sejarawan. Sedangkan pemahaman pada sebab musabab didasari pada pemahaman bahwa kejadian-kejadian sejarah memepunyai banyak factor penyebabnya dan anatara masing-masing penyebab tersebut anatara satu dengan yang lainyya dapat kita susun sedemikian rupa sehingga dapat memepengaruhi antara satu dengan yang lainnya.
Dengan kesadaran inilah maka diharapkan muncul pemahaman yang sebenar benarnya terhadap sejarah, sehingga sikap memandang remeh dan mengagap tidak penting sejarah akan dengan sendirinya hilang. Amin.
Kesangsian terhadap keobjektifan dan kebenaran sejarah seharusnya tidak perlu ada andaikata kita mampu membedakan mana yang dapat kita sebut sebagai sejarah dan mana yang bukan sejarah dan kita mamapu memeposisikan arti dari kebenaran dan keobjektivan sejarah sebagai dua hal yang tidak dapat kita artikan sama. Sejarah memang tidak bisa benar seratus persen karena sejarah tidak dapat menciptakan kembali masa lampau. Sedangkan Objektif dapat kita terima sebagai usaha untuk dapat mendekati apa yang dapat kita kategorikan benar. Kehadiran metode-metode dalam penelitian sejarah memang memeberikan angin segar kepada kita guna memahami bagaimana rekonstruksi sejarah dapat atau tidak dalam mencapai keobjektifan dalam mengungkap peristiwa sejarah.
Kita harus memahami bahwa ukuran sejarah semesta kini pada kehidupan masyarakat kontemporer saat ini mempunyai ukuran-ukuran “kebenenaran” terhadap kesejarahan yang berlainan dengan ukuran-ukuran kebenaran kesejarahan pada masa lampau. Hikayat misalnya, bagi masyarakat Sumatra Utara yang hidup pada masa 6-7 abad yang lalu menganggap hikayat sebagai usaha tafsiran terhadap peristiwa masa lampau yang lebih sesuai jika dibandingkan misalnya dengan tulisan Sartono Kartodirjo yang membahas tentang pemberontakan petani banten tahun 1888, begitu juga sebaliknya Penelitian Sartono Kartodirjo oleh masyarakat sekarang lebih bisa diterima dan dianggap mendekati kebenaran daripada hikayat. Inilah buktinyata yang harus kita semua pahami bahwa antara sejarah yang cocok dan tidak cocok bersifat Nisbi (relative) halini terjadi karena pola pemahaman masyarakat terikat sepenuhnya pada kebudayaan masyarakat yang sedang berlangsung.
Perlu kita ketahui bersama bahwa sejarah ialah ilmu. yang sangat unik karena menggabungkan antara ilmu dan juga seni. Walaupun dalam penjabarannya belum ada yang dapat memuaskan berbagai pihak namun dapat kita pahami bawa hipotesis yang dihasilkan dari penelitian sejarah tidak bersifat kaku seperti ilmu-ilmu yang lain. Keberadaan metode-metode penelitian tidak lain adalah sebagai upaya bagi peneliti/Sejarawan untuk mendekati benar dan objektif dari penelitian, karena peneliti sadar bahwa masalalu memang tidakdapat dihidupkan lagi sebagaimana adanya. Hasil ahir dari penelitian yang berupa rekonstruksi dari tetap bergansuatu peristiwa masa lampau tetap tergantung pada peneliti/sejarawan dalam mengambil sudut pandang.
Empat unsur yang harus diperhatikan dalam memahami sejarah antara lain; memahami pengertian tentang waktu, memahami akan sifat-sifat fakta, dan penekanan-penekanan pada penelitian yang memfokuskan pada sebab musabab guna mengetahui permasalahan sebenarnya bukan saja penekannannya pada Apa, Kapan, Bagaimana dan Mengapa peristiwa sejarah itu terjadi. Dalam sejarah waktu dianggap memepunyai ukuran yang mutlak dimana waktu dan berlalunya waktu dapat diukur secara tepat. Sifat dasar fakta dalam ilmu sejarah ialah kerumitannya dimana fakta akam mempunyai arti yang berbeda tergantung pada sudutpandang sejarawan. Sedangkan pemahaman pada sebab musabab didasari pada pemahaman bahwa kejadian-kejadian sejarah memepunyai banyak factor penyebabnya dan anatara masing-masing penyebab tersebut anatara satu dengan yang lainyya dapat kita susun sedemikian rupa sehingga dapat memepengaruhi antara satu dengan yang lainnya.
Dengan kesadaran inilah maka diharapkan muncul pemahaman yang sebenar benarnya terhadap sejarah, sehingga sikap memandang remeh dan mengagap tidak penting sejarah akan dengan sendirinya hilang. Amin.
E-LEARNING MENDOBRAK PENDIDIKAN NASIONAL
Model pembelajaran berbasis elektronik-learning (e-learning) dalam perkembangannya sangat dibutuhkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mempunyai penduduk yang begitu besar dan yang menempati ribuan pulau sepanjang sabang sampai Merauke. Penduduk yang begitu besar merupakan sebuah modal besar dalam menggiatakan jalannya pembangunan namun dengan luas wilayah yang besar tersebut dengan ribuan pulau yang dipisahkan lautan terkadang justru menjadi faktor penghambat adanya pemerataan dalam hal kwalitas pendidikan nasional. Saya kira kita sepakat bahwa hal tersebut tidak akan menjadi kendala dalam mengembangkan pendidikan yang lebih berkwalitas dan merata.
Arus globalisasi yang dikuti dengan beragam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat kita dituntut untuk senantiasa peka dan responsif terhadap setiap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyertainya. Tidak dapat kita pungkiri bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi sangat lekat dengan denyut kehidupan kita dewasa ini, bahkan tidak terkecuali dalam dunia pendidikan nasional Indonesia, pendidikan kita yang telah mengalami berbagai ujian dan tahapan senantiasa membutuhkan akan beragam data dan informasi yang luas tentunya dengan tuntutan data dan informasi tersebut harus tepat dan beragam danjuga sekaligus mudah dalam mengaksesnya guna menunjang suksesnya pelaksanaan program memajukan pendidikan nasional bangsa kita.
Dewasa ini perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam hal ini Internet tumbuh begitu cepat bak cendawan dimusim hujan. Pertumbuhan ini tentunya menggembirakan banyak kalangan, karena sifat-sifat kemudahan yang ditawarkan oleh Internet guna menerobos aspek ruang dan waktu yang terkadang menjadi kendala dalam pendidikan kita. Walaupun kehadiran teknologi internet belum dirasakan sebagai tulang punggung utama dalam penyedia beragam data dalam pembelajaran, namun kita harus sedini mungkin harus benar-benar menyadari bahwa kehadiran Internet tidak dapat kita ejawantahkan.
Pengenalan teknologi internet kepada siswa dapat kita lakukan dengan memanfaatkan mata pelajaran TI (teknologi informasi), dengan menggunakan metode pembelajaran e-learning siswa didik akan kita kenalkan dengan beragam perangkat lunak (software) seperti search engine, maupun directory yang akan berkaitan dengan kinerja dari pencarian data di Internet. Fungsi dari search engine dan directory ialah sebagai mesin pencari informasi memudahkan kita dalam melakukan proses searching, browsing maupun surfing. Akses data bersifat real time, tidak tergantung pada tempat dan waktu menjadikan model pembelajaran e-learning sangat sangat cocok sebagai media alternatif yang mendukung perkembangan pendidikan nasional bangsa Indonesia. Dengan demikian tujuan untuk mengembangkan pendidikan yang berkwalitas akan semakin nyata.
Model pembelajaran ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu syncronis (bentuk komunikasi dua arah antara siswa dengan guru yang berlangsung dalam waktu yang bersamaan) maupun asyncronis (bentuk komunikasi dua arah antara siswa dengan guru yang tidak berlangsung dalam waktu yang bersamaan). Model pembelajaran ini sangat tepat untuk menyiasati aspek waktu, dan juga tempat yang disadari atau tidak terkadang menjadi kendala dalam penyebaran informasi yang merata dan berimbang.
Tunggu apalagi mari kita bersama-sama mengembangkan model pembelajaran yang berbasiskan elektronik-learning. Mari kita bersama-sama mewujudkan pendidikan indonesia yang lebih maju dan lebih berdaya saing dengan tuntutan perkembangan dunia global. Memang kehadiran teknologi informasi (internet) masih dirasakan belum mendesak dan penting oleh sebagian masyarakat. Anggapan ini muncul karena melihat kesiapan dari sumberdaya manusia kita baik itu dari kalangan pendidik, siswa, maupun masyarakat dalam arti yang luas yang belum maksimal. Sehingga muncul kehawatiran akan dampak negative yang ditimbulkannya.
Kehawatiran ini seharusnya tidak perlu ada jikalau kita semua menyadari akan tugas dan fungsi kita masing masing sebagai penjaga dan sebagai media penyaring akan dampak negative tersebut. Terutama dalam hal ini dunia pendidikan baik itu pendidikan formal (sekolah) maupun informal (keluarga dan masyarakat) berjalan maksimal sesuai dengan fitrahnya. Pendidikan Formal (sekolah) dapat menjadi garda depan, dengan mengefektifkan pendekatan-pendekatan Estetis untuk siswa sekolah dasar (SD), pendekatan Etis untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), pendekatan kritis Untuk Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan pendekatan akademis untuk pendidikan Perguruan Tinggi, seharusnya kita semua tidak ragu-ragu lagi bersinggungan dengan segala bentuk perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Saat ini adalah era masyarakat informasi (information age) dan masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society). Kecepatan yang diiringi dengan tuntutan kebutuhan dapat memberikan sumbangan potensial pada sektor pendidikan dan pelatihan. Potensi positif yang dimiliki teknologi tidak saja meningkatkan efesiensi dan efektifitas serta keluwesan proses pembelajaran, tetapi juga berdampak pada pengembangan materi, pergeseran peran guru/pelatih dan semakin berkembangnya otonomi peserta didik. E-Learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika. Jadi dalam pelaksanaannya e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya. Kehadiran e-Learning memang merupakan sesuatu yang relatif baru di Indonesia. Kehadirannya bukan tanpa kekurangan namun dengan kekurangan justru harus menjadikan kita lebih semangat dan tertantang untuk menemukan jawaban dari kekurangan tersebut.
Arus globalisasi yang dikuti dengan beragam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat kita dituntut untuk senantiasa peka dan responsif terhadap setiap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyertainya. Tidak dapat kita pungkiri bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi sangat lekat dengan denyut kehidupan kita dewasa ini, bahkan tidak terkecuali dalam dunia pendidikan nasional Indonesia, pendidikan kita yang telah mengalami berbagai ujian dan tahapan senantiasa membutuhkan akan beragam data dan informasi yang luas tentunya dengan tuntutan data dan informasi tersebut harus tepat dan beragam danjuga sekaligus mudah dalam mengaksesnya guna menunjang suksesnya pelaksanaan program memajukan pendidikan nasional bangsa kita.
Dewasa ini perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam hal ini Internet tumbuh begitu cepat bak cendawan dimusim hujan. Pertumbuhan ini tentunya menggembirakan banyak kalangan, karena sifat-sifat kemudahan yang ditawarkan oleh Internet guna menerobos aspek ruang dan waktu yang terkadang menjadi kendala dalam pendidikan kita. Walaupun kehadiran teknologi internet belum dirasakan sebagai tulang punggung utama dalam penyedia beragam data dalam pembelajaran, namun kita harus sedini mungkin harus benar-benar menyadari bahwa kehadiran Internet tidak dapat kita ejawantahkan.
Pengenalan teknologi internet kepada siswa dapat kita lakukan dengan memanfaatkan mata pelajaran TI (teknologi informasi), dengan menggunakan metode pembelajaran e-learning siswa didik akan kita kenalkan dengan beragam perangkat lunak (software) seperti search engine, maupun directory yang akan berkaitan dengan kinerja dari pencarian data di Internet. Fungsi dari search engine dan directory ialah sebagai mesin pencari informasi memudahkan kita dalam melakukan proses searching, browsing maupun surfing. Akses data bersifat real time, tidak tergantung pada tempat dan waktu menjadikan model pembelajaran e-learning sangat sangat cocok sebagai media alternatif yang mendukung perkembangan pendidikan nasional bangsa Indonesia. Dengan demikian tujuan untuk mengembangkan pendidikan yang berkwalitas akan semakin nyata.
Model pembelajaran ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu syncronis (bentuk komunikasi dua arah antara siswa dengan guru yang berlangsung dalam waktu yang bersamaan) maupun asyncronis (bentuk komunikasi dua arah antara siswa dengan guru yang tidak berlangsung dalam waktu yang bersamaan). Model pembelajaran ini sangat tepat untuk menyiasati aspek waktu, dan juga tempat yang disadari atau tidak terkadang menjadi kendala dalam penyebaran informasi yang merata dan berimbang.
Tunggu apalagi mari kita bersama-sama mengembangkan model pembelajaran yang berbasiskan elektronik-learning. Mari kita bersama-sama mewujudkan pendidikan indonesia yang lebih maju dan lebih berdaya saing dengan tuntutan perkembangan dunia global. Memang kehadiran teknologi informasi (internet) masih dirasakan belum mendesak dan penting oleh sebagian masyarakat. Anggapan ini muncul karena melihat kesiapan dari sumberdaya manusia kita baik itu dari kalangan pendidik, siswa, maupun masyarakat dalam arti yang luas yang belum maksimal. Sehingga muncul kehawatiran akan dampak negative yang ditimbulkannya.
Kehawatiran ini seharusnya tidak perlu ada jikalau kita semua menyadari akan tugas dan fungsi kita masing masing sebagai penjaga dan sebagai media penyaring akan dampak negative tersebut. Terutama dalam hal ini dunia pendidikan baik itu pendidikan formal (sekolah) maupun informal (keluarga dan masyarakat) berjalan maksimal sesuai dengan fitrahnya. Pendidikan Formal (sekolah) dapat menjadi garda depan, dengan mengefektifkan pendekatan-pendekatan Estetis untuk siswa sekolah dasar (SD), pendekatan Etis untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), pendekatan kritis Untuk Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan pendekatan akademis untuk pendidikan Perguruan Tinggi, seharusnya kita semua tidak ragu-ragu lagi bersinggungan dengan segala bentuk perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Saat ini adalah era masyarakat informasi (information age) dan masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society). Kecepatan yang diiringi dengan tuntutan kebutuhan dapat memberikan sumbangan potensial pada sektor pendidikan dan pelatihan. Potensi positif yang dimiliki teknologi tidak saja meningkatkan efesiensi dan efektifitas serta keluwesan proses pembelajaran, tetapi juga berdampak pada pengembangan materi, pergeseran peran guru/pelatih dan semakin berkembangnya otonomi peserta didik. E-Learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika. Jadi dalam pelaksanaannya e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya. Kehadiran e-Learning memang merupakan sesuatu yang relatif baru di Indonesia. Kehadirannya bukan tanpa kekurangan namun dengan kekurangan justru harus menjadikan kita lebih semangat dan tertantang untuk menemukan jawaban dari kekurangan tersebut.
Minggu, 22 Maret 2009
Borobudur, Candi Budha Terbesar di Abad ke-9
Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati.
Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.
Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.
Bagian dasar Borobudur, disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Sementara, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.
Setiap tingkatan memiliki relief-relief indah yang menunjukkan betapa mahir pembuatnya. Relief itu akan terbaca secara runtut bila anda berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, yaitu Ramayana. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).
Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Karenanya, candi ini dapat dijadikan media edukasi bagi orang-orang yang ingin mempelajari ajaran Budha. YogYES mengajak anda untuk mengelilingi setiap lorong-lorong sempit di Borobudur agar dapat mengerti filosofi agama Budha. Atisha, seorang budhis asal India pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini.
Berkat mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran disebut "The Lamp for the Path to Enlightenment" atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.
Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikitari rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Dasarnya adalah prasasti Kalkutta bertuliskan 'Amawa' berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi. Beberapa yang lain mengatakan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi.
Dengan segala kehebatan dan misteri yang ada, wajar bila banyak orang dari segala penjru dunia memasukkan Borobudur sebagai tempat yang harus dikunjungi dalam hidupnya. Selain menikmati candinya, anda juga bisa berkeliling ke desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo untuk melihat aktivitas warga membuat kerajinan. Anda juga bisa pergi ke puncak watu Kendil untuk dapat memandang panorama Borobudur dari atas. Tunggu apa lagi? Tak perlu khawatir gempa 27 Mei 2006, karena Borobudur tidak terkena dampaknya sama sekali.
Naskah: Yunanto Wiji Utomo
Photo: PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu-Boko
Peta & Artistik: Sutrisno
Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.
Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.
Bagian dasar Borobudur, disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Sementara, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.
Setiap tingkatan memiliki relief-relief indah yang menunjukkan betapa mahir pembuatnya. Relief itu akan terbaca secara runtut bila anda berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, yaitu Ramayana. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).
Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Karenanya, candi ini dapat dijadikan media edukasi bagi orang-orang yang ingin mempelajari ajaran Budha. YogYES mengajak anda untuk mengelilingi setiap lorong-lorong sempit di Borobudur agar dapat mengerti filosofi agama Budha. Atisha, seorang budhis asal India pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini.
Berkat mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran disebut "The Lamp for the Path to Enlightenment" atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.
Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikitari rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Dasarnya adalah prasasti Kalkutta bertuliskan 'Amawa' berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi. Beberapa yang lain mengatakan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi.
Dengan segala kehebatan dan misteri yang ada, wajar bila banyak orang dari segala penjru dunia memasukkan Borobudur sebagai tempat yang harus dikunjungi dalam hidupnya. Selain menikmati candinya, anda juga bisa berkeliling ke desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo untuk melihat aktivitas warga membuat kerajinan. Anda juga bisa pergi ke puncak watu Kendil untuk dapat memandang panorama Borobudur dari atas. Tunggu apa lagi? Tak perlu khawatir gempa 27 Mei 2006, karena Borobudur tidak terkena dampaknya sama sekali.
Naskah: Yunanto Wiji Utomo
Photo: PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu-Boko
Peta & Artistik: Sutrisno
Sabtu, 21 Maret 2009
Memahami sejarah Melalui Lawatan Sejarah

Saat saya baca Warta Sejarah terbitan Direktorat Nilai Sejarah Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta, ada satu artikel yang cukup menggelitik buat saya judulnya memahami sejarah melalui Lawatan sejarah. Artikel ditulis oleh Amurwani Dwi Lestari, M. Hum. berjudul memahami sejarah melalui Lawatan sejarah. Beberapa pokok yang ditekankan dalam lawatan sejarah ialah mengunjugi tempat tempat atau yang penulis sebut sebagai simpul simpul sejarah perekat keindonesiaan diantaranya ialah mengunjugi tempat tempat pengasingan, makam para tokoh pejuang bangsa yang pernah diasingkan, atau tempat-tempat yang dahulunya pernah menjadi tempat berlangsungnya suatu peristiwa sejarah. Menurut penulis Kegiatan ini bisa menjadikan belajar sejarah lebih menyenangkan, karena menurut penulis selain berwisata para siswa atau guru diajak untuk ikut berfiir kritis dan logis dengan melihat peninggalan-peninggalan bersejarah. Mereka tidak lagi dituntut untuk menghafal tahun-tahun yang penulis anggap membosankan dengan perkiraan akan menumbuhkan dan menjadi proses awal untuk meningkatkan kesadaran sejarah bagi kaum muda dan pelajar dengan memahami makna suatu peristiwa sejarah, sehingga diharapkan juga akan muncul generasi yang cinta terhadap sejarah dan mempunyai sikap responsif dan ikutserta melestaraikan , melindungi dan memelihara banguinan sejarah.
Dalam kasus memahami sejarah melalui sebuah kegiatan lawatan sejarah saya sangat setuju dengan tulisan yang telah diungkapkan oleh Amurwani Dwi Lestari M.Hum, diatas. Namun ada beberapa yang kiranya dapat menjadi catatan bersama bahwa rendahnya pemahaman terhadap sejarah bangsa kita kitranya patut menjadikan keprihatinan bersama semua kalangan, tidak hanya orang-orang yang berkecimpung dalam masalah sejarah, atau pendidik dan siswa tetapi segenap elemen masyarakat dan pemerintah harus bahu membahu dalam hal ini. Sebuah bangsa tidak akan kuat tanpa berlandaskan kepada akar dari nilai-nilai yang mendasari tumbuh kembangnya kehidupan bermasyarakat, dalam hal ini sejarah mencatatnya sebagai perjalanan kehidupan umat manusia.

Mencermati munculnya gagasan pemahaman sejarah dengan melakukan kegiatan lawatan sejarah saya kira merupakan sebuah trobosan bagus namu ada beberapa hal yang kiranya harus kita perhatikan antara lain faktor evektifitas kegiatan dan keberlanjutan dengan bentuk tindak lanjut yang kongkrit dari kegiatan. jangan sampai kegiatan yang saya kira memakan biaya yang tidak sedikit itu berhenti pada sekedar mengunjungi (berwisata)dengan menumbuhkan perasaan takjup dan gembira karena telah mengunjugi tempat-tempat yang ada kaitannya dengan sejarah perjalanan bangsa kita. Hasil dari lawatan sejarah tentunya akan lebih bagus jika dituiangkan dalam bentuk tulisan atau bentuk dokumentasi berupa gambar foto atau video yang nantinya dapat dikomunikasikan kepada masyarakat luas.
Mencermati perkembangan kurikulum pembelajaran sekolah yang menggunakan KTSP, kiranya akan dapat membantu mengurai kerumitan dalam mencari solusi dalam pemberian pengajan sejarah kepada siswa didik di kelas. Dengan menggunakan media-media pembantu atau disiplin ilmu yang lain saya kira proses transformasi nilai-nilai dalam sejarah akan lebih fariatif dan transformatif. Dengan demikian siswa akan merasa lebih dekat dengan sejarah bangsanya sendiri karena siswa dapat berinteraksi secara langsung dengan objek-objek sejarah atau peristiwa sejarah.
Kiranya ini dapat menjadikan renungan bahwa kiata sebagai warga negara yang peduli terhadap arah perkembangan sejarah bangsa kita harus bekerjasama dalam mentrasformasikan nilai-nilai sejarah kepada generasi penerus bangsa kita. semoga niatan ini dapat terlaksana, amin.
Jumat, 20 Maret 2009
Sejarah Museum Gajah


Museum Nasional Republik Indonesia adalah salah satu wujud pengaruh Eropa, terutama semangat Abad Pencerahan, yang muncul pada sekitar abad 18. Ia dibangun pada tahun 1862 oleh Pemerintah Belanda di bawah Gubernur-Jendral JCM Radermacher sebagai respons adanya perhimpunan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang bertujuan menelaah riset-riset ilmiah di Hindia Belanda. Museum ini diresmikan pada tahun 1868, tapi secara institusi tahun lahir Museum ini adalah 1778, saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen oleh pemerintah Belanda.
http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Nasional_Republik_Indonesia
Museum Nasional dikenal sebagai Museum gajah sejak dihadiahkannya patung gajah oleh Raja Chulalongkorn dari Thailand pada 1871. Tetapi pada 28 Mei 1979, namanya resmi menjadi Museum Nasional Republik Indonesia. Kemudian pada 17 Februari 1962, Lembaga Kebudayaan Indonesia yang mengelolanya, menyerahkan Museum kepada pemerintah Republik Indonesia. Sejak itu pengelolaan museum resmi oleh Direktorat Jendral Sejarah dan Arkeologi, di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tetapi mulai tahun 2005, Museum Nasional berada di bawah pengelolaan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.
Catatan di website Museum Nasional Republik Indonesia pada tahun 2001 menunjukkan bahwa koleksinya telah mencapai 109.342 buah. Jumlah koleksi itulah yang membuat museum ini dikenal sebagai yang terlengkap di Indonesia. Pada tahun 2006 jumlah koleksinya sudah melebihi 140.000 buah, tapi baru sepertiganya saja yang dapat diperlihatkan kepada khalayak.
Museum ini terletak di Jalan Merdeka Barat.
[sunting] Koleksi Museum Nasional
Gambar Prasasti dari Singosari, Malang bertarikh tahun 1351 Masehi. Prasasti yang merupakan koleksi Museum yang juga dikenal sebagai Museum Gajah ini, terkenal karena menyebut nama Mada yang kemungkinan berkaitan dengan tokoh Gajah Mada.
Museum Gajah banyak mengkoleksi benda-benda kuno dari seluruh Nusantara. Antara lain yang termasuk koleksi adalah arca-arca kuna, prasasti, benda-benda kuna lainnya dan barang-barang kerajinan. Koleksi-koleksi tersebut dikategorisasikan ke dalam etnografi, perunggu, prasejarah, keramik, tekstil, numismatik, relik sejarah, dan benda berharga.
Sebelum gedung Perpustakaan Nasional RI yang terletak di Jalan Salemba 27, Jakarta Pusat didirikan, koleksi Museum Gajah termasuk naskah-naskah manuskrip kuna. Naskah-naskah tersebut dan koleksi perpustakaan Museum Gajah kini disimpan di Perpustakaan Nasional.
Sumber koleksi banyak berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda dan pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di museum ini terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara.
Koleksi yang menarik adalah Patung Bhairawa patung yang tertinggi di Museum Nasional dengan tinggi 414 cm ini merupakan manifestasi dari Dewa Lokeswara atau Awalokiteswara, yang merupakan perwujudan Boddhisatwa (pancaran Buddha) di bumi. Patung ini berupa laki-laki berdiri diatas mayat dan deretan tengkorak serta memegang cangkir dari tengkorak di tangan kiri dan keris pendek dengan gaya Arab ditangan kanannya, ditemukan di Padang Roco, Sumatra Barat. Diperkirakan patung ini berasal dari abad ke 13 - 14. Koleksi arca Buddha tertua di Museum ini berupa arca Buddha Dipangkara yang terbuat dari perunggu, disimpan dalam ruang perunggu dalam kotak kaca tersendiri, berbeda nasibnya dengan arca Buddha, arca Hindu tertua di Nusantara, yaitu Wisnu Cibuaya (sekitar 4M) terletak di ruang arca batu tanpa teks label dan terhalang oleh arca Ganesha dari candi Banon.

[sunting] Pemeliharaan Koleksi
Pada 1960an, pernah terjadi pencurian koleksi emas yang dilakukan oleh kelompok pimpinan Kusni Kasdut. Pada 1979 terjadi pula pencurian koleksi uang logam. Pada 1987 beberapa koleksi keramik senilai Rp. 1,5 milyar. Dan pada 1996 pencurian lukisan yang bisa ditemukan kembali di Singapura.
Hal ini menyadarkan pengelola bahwa keamanan adalah faktor penting untuk menjaga koleksi. Karena itu museum dilengkapi dengan alarm, kamera pengaman, dan 17 petugas keamanan.
Kondisi koleksi dijaga dengan ketat dengan usaha konservasi. Terutama adalah koleksi dari kertas yang butuh penanganan hati-hati. Seringkali bagian koleksi yag rusak diganti dengan bahan tiruan. Meskipun hal ini mengurangi otentisitas, tetapi tetap mempertimbangkan sisi estetika dan bentuk asli karya yang dikonservasi. Sering pula ditemui usaha rekonstruksi untuk mengganti koleksi yang rusak parah.
Secara umum, hal ini memperlihatkan sikap umum museum di kebanyakan wilayah Asia yang lebih mengutamakan restorasi daripada menjaga ontentisitas.
http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Nasional_Republik_Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)